Forum Diskusi yang Sekarat

  • 12
    Shares

Forum Diskusi yang Sekarat. lpmarena.com.

 

Oleh: Muhammad Sidratul Muntaha Idham*

Seorang dosen pernah bercerita pada saya tentang betapa banyaknya forum diskusi di UIN dulu. Saking banyaknya, orang-orang mungkin akan bingung untuk memilih forum diskusi mana yang akan diikuti. Sekarang, ternyata masih banyak juga.

Jika sering jalan keliling kampus, forum diskusi biasanya bisa ditemui di lobi-lobi fakultas, di pelataran MP, atau selasar FEBI yang alhamdulillah mau dibangun lagi. Masih ada lagi, sih, di kelas-kelas, di ruangan pojok Student Center yang katanya suka kebakaran atau kalau mau ditambah lebih banyak lagi, diskusi juga ada di ruang imajiner kepala setiap orang. Banyak, kan? Ya, sebut saja banyak. Kalau salah bisa minta maaf.

Dengan penuh penghormatan, mari bersulang untuk si forum diskusi. Saya rasa setiap forum diskusi tentu memiliki semangat untuk terus menjaga kesehatan dialektika pada mahasiswa. Namun, apa kiranya yang luput dari forum diskusi sehingga tidak lagi menjadi menarik bagi kalangan mahasiswa?

Kalau saya boleh berkhusnudzon forum diskusi ini memang punya standar yang sangat tinggi, bahasanya tinggi, pengetahuannya tinggi, serba tinggi wes. Kalau dibanding mahasiswa zaman now yang lebih suka hal konkrit, mah, jauh. Masak orang yang susah-susah diskusi, duduk melingkar berjam-jam, ngomong spaneng sampai mulut kering disamakan sama mahasiswa millenial yang katanya pragmatis dan selalu berinovasi dengan segala peluang yang ada?

Tapi kalau forum diskusi ini mau berbaik hati, mungkin mereka bisa lebih inklusif. Ya, saya tau, sih, dari dulu memang inklusif, tapi lagi-lagi generasi millenial memang bikin pusing. Diajak diskusi enggak mau, kuliah ora mutu, demo ora tau melu, yo opo maneh?

Tapi sekali lagi, nih, kalau forum diskusi mau sedikit lebih berbaik hati, mungkin mas/mbak forum diskusi (gendernya forum diskusi ini apa sih?) bisa lebih merendahkan diri di hadapan mahasiswa sekarang. Mbok, ya, kalau diskusi jangan terlalu berat bahasanya.

Baca juga  Bedah Buku : Muhammadiyah itu NU

Ada perbedaan pijakan dari kedua generasi dalam hal ini. Mahasiswa milenial lebih suka yang konkrit dan realistis sedangkan generasi forum diskusi cenderung skeptis terhadap oportunitas yang ada.

Bagaimana format forum diskusi perlu dikaji ulang. Tentu tanpa menghilangkan hal-hal esensial yang perlu dibahas seperti dimulai dari dimensi ontologis sampai aksiologisnya. Tapi kalau pakai bahasa ologis-ologis begitu memang tidak menarik lagi untuk mahasiswa zaman now. Mahasiswa milenial memang tak kalah cerdas. Sampai diksi saja dijadikan bahan pertimbangan buat menyeleksi bahan obrolan.

Kalau mau lebih menarik lagi, forum diskusi juga perlu berkompromi dengan interest mahasiswa zaman now. Saya pikir forum diskusi bisa riset terkait interest mahasiswa seperti apa dan bagaimana menyatukannya dengan forum diskusi yang sudah ada. Apa, sih, yang tidak bisa dilakukan forum diskusi yang ketjeh ini. Diskusi berjam-jam saja bisa, masa membahasakan format diskusi ke dalam budaya nge-PES sampai travelling yang menjadi interest mahasiswa milenial saja tidak bisa?

Kalau memang mau terus menjaga budaya yang sudah ada, bisa jadi forum diskusi malah punah. Saya tidak tau, sih, punahnya bakal seperti apa. Lah wong dinosaurus aja yang seram begitu bisa punah dan kalah adaptif sama semut. Kalau kata Charles Darwin, “Yang bertahan hidup bukan yang paling kuat atau yang paling cerdas, tapi yang paling adaptif.”

Budaya pun menurut terminologi Richard Dawkins punya gen-gen yang mengatur sifat adaptif seperti makhluk hidup, namanya meme. Kalau memang tidak bisa adaptasi ya, bisa saja toh forum diskusi punah karena kalah adaptif sama budaya-nya generasi milenial yang inovatif itu.

Negara-negara maju saja budaya transfer pengetahuannya harus sampai susah-susah adaptasi. Yang awalnya dari baca buku berjilid-jilid jadi dengerin audiobook bahkan sampai jadi film dokumenter. Tidak menutup kemungkinan nanti mereka bisa pakai virtual reality yang lagi nge-trend itu atau bahkan tinggal disulap simsalabim. Bisa bayangin gak? Mungkin bisa. Imajinasi manusia memang liar dan kreatif, apalagi kalau dibuat menapak ke bumi.

Baca juga  Militerisme Masa Kini

*penulis adalah mahasiswa yang senang menyusuri jalan di pinggir rel kereta untuk menikmati kopi di Sorowajan

Sumber foto: Mediapembaharuan.com

Komentar

komentar

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of