Adam Ma’rifat: Dunia adalah Permainan Tuhan

  • 4
    Shares

Membaca adalah pekerjaan menyenangkan namun membosankan. Menikmati kebosanan adalah belajar menikmati kehidupan. Kehidupan adalah kebingungan tak berujung. Dan Tuhan adalah ujung dari segala kebingungan.

Adam Ma’rifat mengajak pembaca menikmati kebingungan manusia tentang perilaku Tuhan, sifat Tuhan, dan perihal yang menempel pada diri Tuhan yang entah bagaimana digambarkan. Dengan apik Danarto mampu mengajak pembaca menjelajahi bahkan menyentuh pengalaman spiritual yang serba paradoks, tak terduga dan membingungkan.

Ia seolah ingin menyampaikan bahwa penglihatan, pendengaran, dan apapun yang bersifat indrawi layaknya jendela separuh terbuka. Kau bisa melihat dunia yang hanya di dalam bingkai jendela, padahal semesta sangat luas. Banyak hal yang tidak tersingkap dan Danarto ingin menyampaikannya dengan ringan-ringkas tapi sedikit-banyak membingungkan.

Namun, saya tidak akan ambil pusing dengan Danarto, genre atau bentuk apa yang membentuk tulisannya, entah itu surealisme atau simbolisme yang digunakan penulis (Danarto) untuk mengungkap emosi. Misteri dan kesan yang samar-samar atau pesan gaib yang ingin dikatakan oleh Danarto dalam buku ini.

Adam Ma’rifat mungkin buku yang lebih “berat” dari buku Danarto pertama saya, Asmaraloka. Adam Ma’rifat berisi enam cerpen yaitu: lima judul masih bisa ditulis dengan kata dan satu judul yang bahkan—mungkin—Danarto harus menuliskannya dengan tangan sendiri karena berupa tanda nada.

Dalam pengantar tulisan oleh Mahfud Ikhwan di dalam Adam Ma’rifat, Tuhan dapat ditemukan pada semua nama dan benda yang disebut di sana. Bahkan, mungkin pada intinya tidak ada kata lain yang ditulis Danarto selain kata “Tuhan.” Dan memang benar, bagi saya, Danarto bahkan ingin mengaburkan batas antara “Aku” sebagai makhluk dan “Aku” yang Tuhan.

Dalam cerpen Mereka Toh Tidak Mungkin Menjaring Malaikat, misalnya. “Aku suka berjalan di pepohonan, jika angin mendesir: itulah aku; jika pohon bergoyan: itulah aku; yang sarat beban wahyu, yang dipercayakan Tuhan ke pundakku.”

Baca juga  Dinamika Kelas di Halaman Belakang

“Aku” disana adalah Jibril, yang membawa wahyu, yang menjadi angin, dan yang menjatuhkan genting-genting. Namun, bisa jadi “Aku” yang Jibril sesungguhnya representasi dari Tuhan. Ketika Jibril menjadi angin dan hujan yang membuat hujan setempat yang amat kecil tapi lebat.

Kemudian membuat genteng pecah dan anak-anak di dalam kelas berhambur keluar ke atas bukit. Sebelum anak-anak kembali ke kelas Jibril juga yang membersihkan lantai dan mengganti genting pecah.

Danarto seolah ingin mengatakan bahwa Tuhan dapat mewahyukan apa saja, di mana saja, dan kepada siapa saja. Banyak gambaran yang dapat diambil di sini, seperti sifat Tuhan yang paradoks “merusak” dan “merawat”, “menciptakan” dan “menghancurkan.”

Bahkan dalam tafsiran saya, Danarto ingin pembaca memahami bahwa dalam dunia yang serba paradoks dan membingungkan, sesungguhnya semuanya hanya permainan saja. Tuhan ada di balik segala kejadian. Dan pada akhirnya Tuhan sendiri yang akan menyelesaikannya.

Jika meminjam istilah cerpen eksperimental. Buku ini sangat eksperimental dengan seluruh simbol-simbol baik dalam penokohan maupun dalam penulisannya. Salah satunya saat saya coba menafsirkan kata “cak” dan “ngung” yang ditulis berulang dalam salah satu cerpen dalam buku ini, tapi tetap saja nihil dan tak berbuah pemahaman yang memuaskan.

Saya risau jika tidak bisa mengerti satu kata saja saya akan kehilangan banyak makna dalam cerita. Namun, saya juga tidak bisa memaksakan diri untuk memahami.

Barangkali, seperti itu yang Danarto inginkan. Mengingat dalam karya-karya sebelumnya bau-bau sufistik sangat kental dalam karya Danarto. Dan seperti yang kita tahu dalam tradisi sufistik, kepekaan intuisi mengambil peran penting di dalamnya. Sehingga pembaca juga dituntut menyelami cerita dengan kepekaan dan pengalaman spiritual mereka masing-masing selama membaca buku ini.

Baca juga  Realitas Kampung dalam Seni Ilustrasi Buku

Judul : Adam Ma’rifat
Penulis : Danarato
Penerbit : Basabasi
Tahun Terbit : November 2017
Tebal : 112 hlmn; 14 x 20Ak
ISBN : 978-602-6651-11-2

Peresensi : Zaim Yunus

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of