Haluan Soeharto ke Kubu Hijau

Haluan Soeharto ke Kubu Hijau

  • 6
    Shares

Soeharto Islam ICMI lpmarena.com

Lpmarena.com– Berdirinya ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) pada tahun 1990 disebut-sebut sebagai penyebab kembalinya Soeharto ke pihak Islam atau yang disebut jalur hijau. Tentu kembalinya Soeharto kepada pihak Islam mempunyai tujuan tersendiri yang hendak ia capai, alasan politik termasuk salah satu tujuan terbesarnya.

Memasuki dekade 1990-an, Soeharto menilai Islam bisa menjadi basis politik yang lebih kuat di masa-masa mendatang. Inilah yang membuatnya berubah arah lebih ramah pada Islam. Sebelumnya, Soeharto punya sikap alergi terhadap Islam.

Terbukti dengan sikap Soeharto yang pernah melotot kepada seorang santriwati yang menyarankan agar demonstrasi dukungan kepada ABRI di halaman Kostrad pada hari-hari pertama pasca Gestapu ditutup dengan doa. Tulis Salim Said dalam bukunya yang dikutip dari Tirto.id.

Di lain waktu, Soeharto juga pernah membiarkan Dirjen Pendidikan dan Menengah (Dikdasmen), Prof. Darji Darmodiharjo, S.H, pada tanggal 17 Maret 1982 dalam mengeluarkan Surat Keputusan tentang seragam sekolah nasional yang berujung pada pelarangan jilbab di sekolah negeri sekuler.

“Ketika hubungan Soeharto retak dengan TNI, dia butuh bantuan lain untuk mempertahankan kekuasaanya,” ucap Tri Agus Susanto selaku Anggota Forum Demokrasi dalam acara Diskusi dan Bedah Buku Demokrasi dan Toleransi dalam Represi Orde Baru karya Virdika Rizky Utama yang diselenggarakan oleh Lembaga Pers Mahasiswa Arena dan Keluarga Mahasiswa Pecinta Demokrasi (KMPD), Jumat (18/05).

Ia melanjutkan bahwa Soeharto akan menjadikan ICMI sebagai kendaraan politik di pemilihan selanjutnya. Sehingga dia berani mengubah sikap ramah kepada Islam.

Dalam acara yang digelar di Teatrikal Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga itu, Agus juga menjelaskan bahwa sebenarnya keputusan Soeharto untuk merestui berdirinya ICMI ditentang oleh beberapa perwira TNI dan ABRI seperti Benny Moerdani, Try Soestrisno dan jendral Edi Sudrajat. Mereka menganggap ICMI mempuyai mudharat lebih banyak ketimbang manfaatnya. Mereka juga mencemaskan ancaman ICMI sebagai organisasi sektarian dan sudah berulangkali mengingatkan Soeharto akan bahayanya.

Baca juga  Telusuri Hukum Pembuktian dalam Islam

Namun Soeharto masih tetap kokoh untuk meresmikan berdirinya ICMI. Ia melihat umat Islam berpotensi besar untuk melanggengkan kekuasaanya. Tak lepas juga merupakan upaya islah atas berbagai kejadian sebelumnya yang menempatkan golongan santri dan ulama sebagai musuh negara. Seperti peristiwa Tanjung Priuk dan Tragedi Talangsari.

Soeharto menyetujui didirikannya ICMI pada tahun 1990 dan memperbolehkan pemakaian jilbab pada sekolah sekuler. Ia tidak mau terus menerus ditentang diam-diam oleh orang Islam. Ia merangkul sosok Abdurrahman Wahid (Gus dur) yang menjadi Pimpinan Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), juga orang-orang pemuka Islam lainnya.

Penentangan itu mereda setelah banyak tokoh militer juga bergabung bersama ICMI. Namun politik identitas di tubuh militer mulai mengemuka. Hingga terciptalah sayap ABRI hijau sebagai warna Islam dan ABRI merah-putih sebagai bendera nasional.

Meskipun Soeharto mulai mendekat ke kubu hijau, namun dia tidak lantas membabat habis para perwira yang bersetia di kubu merah-putih. Kecuali Benny Moerdani yang dianggap punya pegaruh besar, bahkan menempatkan tokoh-tokoh militer dari kelompok merah-putih ke posisi yang cukup penting.

Misalnya, Try Sutrisno justru dipilih untuk mendampingi Soeharto sebagai wakil Presiden dan Edi Sudrajat yang sempat menjadi panglima ABRI selama tiba bulan masuk menjadi kabinet Pertahanan dan Keamanan menggantikan Benny Moerdani.

Untuk kubu sebelah, dia memberikan posisi yang tak kalah penting. Karier Feisal Tanjung melesat naik dengan ditempatkan sebagai panglima ABRI. Begitupula dengan R. Hartono, diamanahkan untuk mengisi kabinet Penerangan pada 1997.

Reporter: Luthfi

Redaktur: Fikriyatul Islami

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of