Iklan Sayyidi el-Rais: Narasi Geopolitik Pemimpin Dunia VS Nasib Liris Anak Perang

  • 25
    Shares

Kupas resensi lpmarena.com

Pesan kemanusiaan yang dialami oleh semua agama samawi berserta sekte-sekte turunannya coba dihadirkan dalam video berjudul “Sayyidi el-Rais”. Menghadirkan para pemimpin berpengaruh di dunia yang seolah tak bisa berbuat banyak terhadap tragedi perang, perampasan hak dasar, dan nasib para pencari suaka yang begitu pahit. Video ini bercerita dari sudut pandang anak-anak.

14 Mei 2018, Ivanka Trump mewakili ayahnya Donald Trump meresmikan kedutaan besar USA di Yerusalem. Aksi tersebut sebagai simbol diakuinya Yerusalem sebagai ibu kota Israel usai sidang darurat Majelis Umum PBB pada 21 Desember 2017. Selain dihadiri perdana menteri Israel, Benjamin Netanyahu, turut hadir dalam acara tersebut, perwakilan dari 32 negara pendukung mengucapkan selamat kepada Israel.

Dua hari setelah itu, presiden Guatemala Jimmy Morales melakukan hal serupa, dan dikabarkan pada akhir Mei 2018, Paraguay lewat presidennya Horacio Cartes juga akan melakukan hal yang sama.

Tepat, 2 hari setelah peresmian dari Ivanka tersebut, di bulan Ramadhan yang kareem, perusahaan telekomunikasi besar dari Kuwait bernama Zain Group merilis sebuah Iklan Layanan Masyarakat (ILM) berjudul Mr. President (سيدي الرئيس ).

Kuwait merupakan suatu negara monarki Timur Tengah (utara Arab Saudi) penghasil sumber daya minyak yang kaya. Zain Group merupakan mobile telecommunications company yang didirikan tahun 1983. Jaringannya berada di delapan negara di Timur Tengah. Saat ini perusahaan tersebut di bawah pimpinan Bader Nasser Al-Kharafi berhasil meraih pelanggan sebanyak 46,9 juta aktif. Di negaranya, Zain salah satu dari tiga operator telekomunikasi terbesar, selain National Telecommunications Co. dan Kuwait Telecommunications Co.

Sejak rilisnya di YouTube pada tanggal 16 Mei 2018, video tersebut langsung menjadi viral warganet (netizen). Gema visualnya cukup besar. Kurang dari delapan jam pasca peluncurannya, video tersebut telah mendulang perhatian warganet yang cukup selow sebesar 250.000 penayang. Ketika saya menulis resensi ini (26/5), lebih dari 6,9 juta warganet telah menontonnya. Tentunya dengan beragam ekspresi: sedih, menangis, marah, memaki, menghujat, menghina, dan lain-lain tergantung situasi pikiran, emosi, dan latar belakang masing-masing.

Reaksi tentang video tersebut juga banyak bertebaran di kanal YouTube. Meski dalam narasi dan komentar di banyak artikel Indonesia mengipasi viral ini dengan tangga nada sedih bin kasihan. Selain sisi emosional dengan bumbu motivasi (instant wisdom), sedikit narasi kritis dihadirkan tentang wacana di balik iklan tersebut.

Al Rai Media online, portal koran harian berita Kuwait mengabarkan, pembuatan video tersebut diadakan di Beirut pada bulan April lalu selama tiga hari. Menghadirkan aktor anak pendatang baru asal Ain Saadeh, Lebanon bernama Alex George S. Anak tersebut berumur delapan tahun. Ia hobi menyanyi, bermain piano, dan bermain taekwondo.

Alex mengawali intro video tersebut dengan figur seorang anak laki-laki berwajah Arab yang khas. Ia berambut sedikit gondrong, berpakaian putih, memakai celana tiga perempat, dan sepatu kets datang ke Oval Office di White House, yang tak lain adalah meja kerja presiden Amerika Donald Trump.

Suaranya begitu merdu, yang bahkan ketika suara ini didengar oleh orang yang tak mengerti Bahasa Arab, orang tersebut tak kuasa untuk menolak mendengarkannya. Anak itu mengajak Trump untuk berbuka puasa bersama di rumahnya. Rumah yang telah rusak karena perang, dan tinggal reruntuhan. Menu utama berbuka ialah selembar roti dan hati yang hancur yang disediakan ibu dari hasil mengantri rejeki. Di meja makan itu ada anak lainnya yang mungkin saja nasibnya berbuka di dunia, dan sahur di surga.

Buka puasa lintas negara dan lintas iman itu ternyata tak hanya mengundang Trump, tapi juga presiden Rusia, Vladimir Putin. Dengan lembutnya sang anak menggandeng tangan Putin dan memperlihatkan betapa harmonisnya bunyi azan masjid dan lonceng gereja saat bertemu. Seperti halnya sepasang saudara yang sangat rukun sambil bernyayi: to the same heaven, same God of all.

Disusul kemudian pergantian suasana degradasi yang dalam, sang anak duduk di pinggir pantai melihat “perahu-perahu kematian datang dari tanah impian”.

Kanselir Jerman Angela Markel dan Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau terlihat berdampingan dan melakukan pertolongan kepada para pengungsi tersebut. Merangkulnya, menggendongnya, dan menyelamatkannya.

Scene ini merujuk pada kasus tragis Aylan Kurdi. Anak tiga tahun yang tewas bersama imigran Suriah lainnya. Perahu yang mereka tumpangi tenggelam dalam perjalanan mencari suaka perlindungan.

Tujuan akhir yang dituju keluarga Aylan adalah Kanada. Sebab peristiwa itu, foto jenazah Aylan yang tersebar di internet mendapat dukungan dengan munculnya trending topic dengan tagar #KiyiyaVuranInsanlik yang berarti “kemanusiaan telah terdampar”. Suatu krisis imigran yang sampai sekarang belum berakhir. Mereka terlunta-lunta.

Adegan berganti ke tempat tidur yang porak poranda. Presiden Korea Utara, Kim Jong-un yang tak pernah tersenyum itu pun datang dengan wajah nelangsa dan mata berkaca-kaca ketika mendapati sang anak menangis. Sang anak setiap malam tak bisa tidur. Sebab mimpi indahnya telah diganti dengan suara bom dan bedil yang saling berseliweran.

Baca juga  Olah Rasa dan Upaya Menertawakan Kenormalan

Tempat tidur yang seharusnya empuk mesti mengandung derita asap dan api. Lagu Lulabi (Nina Bobo) yang manis harus diganti dengan nyanyian tangisan di sana sini. Serta mainan yang seharusnya imut dan lucu ketika dimainkan mesti dihorori dengan darah. Suatu metafor sarat makna lewat apa yang dekat dengan anak-anak yakni mainan.

Dunia tahu, suara anak-anak tak pernah dihiraukan. Iklan ini mengambil sudut pandang anak yang jarang didengar. Anak-anak perang yang jarang mewarnai isu opini publik. Padahal merekalah pihak yang paling rentan derita, apalagi trauma. Sang anak mewakili penderitaaan anak-anak yang dihancurkan perang. Anak-anak yang menjadi korban militer dan tak jarang menjadi kendaraan untuk mencapai suatu tujuan politik. Padahal secara dasar, anak memiliki dunia indah mereka. Seperti yang ditulis Zain dalam sebuah caption video di akun YouTube-nya tentang anak-anak:

All kids have cute and sweet little ecrets; secret places, habits, games, stories, etc. But abused children hide a heavier and darker secret. They suffer in silence. This video talks mainly to the adults, relatives and teachers surrounding an isolated and sad child. It’s a call for action for them to push and encourage the kid to speak up and break the silence.”

Epiknya pula, iklan ini dalam salah satu adegan yang sangat saya suka menampilan anak perempuan yang mirip aktivis muda Palestina, Ahed Tamimi. Di scene tersebut, Ahed dipenjara dan sang anak laki-laki seperti pangeran membebaskan Ahed dan menghancurkan gembok penjara dengan martir. Lalu mereka berdua berlari bersama. Lari yang khas anak-anak dengan senyum dan tawa yang begitu tulus menuju tanah kebebasan, Masjid Al-Aqsha.

Di dalam adegan ini, saya teringat penyanyi Lebanon Majida El Roumi dengan lagunya yang berjudul yang sama, Mr. President. Dalam terjemahan lirik lagu tersebut, Roumi mengkritik:

Mr. President,

Do you hear the free people when they ask?

Why are the martyrs killed twice?

Our children are still dreaming at night;

Who will save the dreams when they fall asleep?

We walk and among us there are betrayers

It hurts us that they are gambling with our future;

It wounds us that they are besieging our decisions;

It worries us that they know what they are doing.

Till when will they stay in the vein of our vision?

Ahed Tamimi sendiri adalah aktivis cilik dari Nabi Saleh yang sejak umur 8 tahun melakukan perlindungan terhadap tanah airnya. Ahed anak dari aktivis Palestina bernama Bassem Tamimi yang melakukan protes Palestina di dalam media sosial secara damai.

Ahed telah berani melawan tentara Israel dengan tonjokan tangannya sendiri; dengan segenap aksi perlawanan itu, Ahed dipenjara. Di daerah lainnya, Ahed bersama aktivis perempuan belia asal Aleppo, Banna Al Abed juga berjuang melawan imperalisme, teror, dan kekerasan di Timur Tengah.

Di menit ke 01.44, dengan latar pengungsi Rohingnya yang harus mengungsi ke Burma (Myanmar); sang anak tak bernyanyi sendiri, tapi dilatari oleh suara banyak orang sebagai backing vocal. Di adegan itu juga terlihat sekretaris jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres membantu pengungsi Rohingya yang diusir. Dalam kenyataannya, ada sekitar 700.000 Muslim Rohingya mengungsi ke Bangladesh, melintasi Burma.

Suara bersama itu berbunyi: “Sayyidi el-Rais, kami melarikan diri. Kami diasingkan. Kami bersalah. Kami dituduh bersalah karena ‘beribadah’. Kami divonis mati dengan pembantaian. Lisan kami diputus hanya karena mengucapkan kalimat ‘syahadat’”. Lalu apa yang Anda pikirkan mendengar lirik ini?

Saya memikirkan berada di tempat sepi, gelap, dan sempit sendirian mengharap cahaya Tuhan. Lalu saya ingin bertanya pada Tuhan: ada apa dengan ibadah ini Tuhan? Kenapa di antara kami disingkarkan, diasingkan, disalahkan, dan dibunuh hanya karena ibadah?

Pertanyaan itu pun semakin kerontang ditelan beragam kejahatan berkedok agama. Iklan ini tak pernah menyebut Islam dalam liriknya. Sebab memang bukan agama yang disasar, tapi suatu sikap beribadah kepada Tuhan dengan cinta, bukan dengan teror yang menyakiti sesama manusia.

Di sisi lain, Yahudi sebagai pihak antagonis, bernasib sama seperti Rohingya atau pencari suaka Timur Tengah lainnya. Menjadi komunitas diaspora yang dimana-mana ditolak dan dibenci, sehingga di manapun akan timbul perasaan terancam dalam diri mereka. Dunia membantu intoleransi bagi Yahudi, Rohingya, dan sekte yang dianggap sesat tersebut tersebut dengan beragam ucapan kebencian, dari konspirasi, zionis, murtad, dan lain-lain.

Minim informasi yang menjernihkan sehingga persoalan bisa diselesaikan. Sehingga, hanya mengetahui dalangnya saja tidak cukup, tapi juga ada sentuhan ideologi dan keadaan yang menciptakan teror terjadi. Damai bukan berarti tanpa konflik, tapi kadilan yang ditegakkan.

Di akhir video tersebut mulai mengarahkan keberpihakan sang pembuat iklan, dengan lirik yang disuarakan sang anak: “Kami akan berbuka puasa di Al Quds. Ibu kota Palestina, yang ditetapkan oleh Rabb kami Tuhan pencipta harapan.”

Baca juga  Renovasi Tragis di “Balada Joni dan Susi” Melancholic Bitch

Lagu ditutup dengan diksi aamiin beberapa kali berturut-turut yang ditujukan kepada Vladimir Putin, Angela Merkel, Antonio Guterres, Kim Jong-un, dan terakhir pada Donald Trump. Jelas ini merupakan deklarasi terang-terangan melawan pengakuan Donald Trump atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Pengakuan yang ditolak juga oleh 128 negara di dunia pada sidang PBB tertanggal 21 Desember 2017 tersebut.
Meski berani melakukan konfrontasi halus terhadap pengusa dunia, iklan ini dikritik oleh jurnalis Lebanon, Sondoss Al Asaad dalam tulisannya yang galak di portal moderndiplomacy[dot]eu berjudul A Ramadhan Humiliating Commercial: A Blatant Call for which Sort of Peace

Sondoss menyerang tajam, bahwa: the suspicious viral Ramadhan ad has sparked a social media blacklash, accusing Zain of taking advantage of the Palestinians’ and of other Arabs and Muslims refugees’ plight.

Bahwa Zain dianggap mengambil keuntungan dari penderitaan yang dialami warga Palestina dan pengungsi muslim lainnya lewat iklannya itu. Iklan tersebut juga dianggap Sondoss memperkuat superioritas Barat.

Ada dua alasan kritik Sondoss. Pertama, iklan tersebut untuk menambah laba yang lebih di bawah payung ,yang seolah-olah berdiri di atas perkara rakyat Palestina. Kedua, untuk menyampaikan pesan tersembunyi menyelesaikan persoalan dengan cara normalisasi dan konotasi damai. Agar para pihak yang berseteru tersebut menyelesaikan masalah dalam satu meja yang sama.

Zain menawarkan upaya rekonsiliasi dengan musuh para zionis dan serdadu imperialis. Sondoss sini bertanya: bagaimana mungkin mengais-ais simpati pada golongan seperti itu? Yang telah membunuh anak-anak Palestina dalam tendanya yang tak berdosa.

Saat ini, dunia terbagi menjadi beberapa aliansi dari Barat, Uni Eropa, Asia, dan lain-lainnya. Aliansi ini memainkan dinamika geopolitik yang kuat. Peta geopolitik dunia berjalan dengan menguasai kekayaan, menguasai pemimpin, menguasai sumber daya, menguasai daya saing, dan menguasai ideologi. Isunya pun mengikuti jalannya uang. Banyak masalah dan relasi yang sulit dalam arena geoplitik hubungan internasional ini.

Mari berandai-andai, semisal Kuwait adalah sebuah negara miskin yang tak memiliki kekayaan minyak yang banyak. Niscaya Kuwait sama seperti negara yang tak berdaya lainnya dalam kacah politik global yang sarat mengeksploitasi alam dan kemanusiaan.

Di akhir video tersebut, sang anak dan Ahed diapit oleh enam pria berpakaian thobe dan memakai penutup kepala kuffiyah. Enam orang tersebut bisa diartikan juga sebagai enam negara petro-monarki di teluk: Kuwait, Arab Saudi, Bahrain, Qatar, Oman, dan United Arab Emirates. Mereka bergabung dalam sebuah organisasi bernama Guf Cooperation Council (GCC), organisasi negara penghasil minyak yang besar di Timur Tengah—saking bagus relasinya hingga menjadi funding Bank Syariah yang ada di UK. Mereka menghadap Masjid Al-Aqsha.

Isu minyak, nuklir, dan makanan menjadi isu urat nadi dunia. Tanpa suatu bekal wacana geopolitik yang kuat, sulit mengartikan maksud iklan ini. Sebab ia tidak buta keadaan dan relasi global. Di Indonesia, sepeninggal Soekarno banyak pemimpin yang wacana geopolitiknya compang camping. Kenapa Jokowi tidak ditampikan dalam iklan ini? Jawabannya, kenapa juga harus menampailkan Jokowi? Meski Indonesia kaya alamnya dan memiliki penduduk Muslim yang besar, Indonesia bukan titik kunci. Tak punya daya tawar politik yang kuat dalam menentukan arah dunia.

Pemimpin adalah pelindung kebebasan. Nyaris titik-titik pemimpin dunia yang menjadi simbol hegemoni sistem global dihadirkan di dalam video singkat ini. Di satu sisi sebagai penyerangan halus, di satu sisi juga menjadi poin kunci pesan: kekuasaan mereka tak menjadi apa-apa kala hanya sekedar diam. Kritik lainnya semua tokoh tersebut adalah tokoh dari Barat atau negara Utara. Seolah, Presiden Erdogan, Raja Salman, Hassan Rouhani, Netanyahu, dan lain-lain, tak memiliki peran.

Bagaimana pun, Zain cukup berani menyuarakan isu politik global—apalagi lewat iklan. Ia sadar akan deklarasi pesan yang disampaikan. Caranya tidak seperti para teroris yang sangat tidak elegan dengan martabat kemanusiaan sangat rendah.

Iklan Zain ini memberikan pesan politis tentang derita kemanusiaan yang dihadapi tak hanya anak-anak dalam perang tetapi seluruh manusia. Juga isu Palestina, katiannya dengan isu terbaru pengalihan kedutaan besar AS ke Yerussalem. Lebih dari 50 warga Palestina terbunuh dalam protesnya terhadap keputusan ini. Apa yang bisa kita lakukan?

Judul Mr. President (سيدي الرئيس) | Genre Iklan Layanan Masyarkat (ILM) | Produksi Zain Group | Durasi 03.40 | Negara Kuwait | Sutradara Samir Aboud | Lirik Hama Meshary | Penyanyi dan Aktor Alex George S | Rilis 16 Mei 2018 | Source Zain YouTube Channel

Peresensi: Isma Swastiningrum, keluarga besar Bani Arena. Bermimpi bisa nge-es teh bareng Leila Khalid; dan bercita-cita melakukan liputan kemanusiaan ke Timur Tengah.

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of