Penghujung Kau dan Aku: Jalan Sufi Mencegah Fanatisme

  • 11
    Shares

Penghujung Kau dan Aku: Jalan Sufi Mencegah Fanatisme lpmarena.com

Jauh dari jalan yang terjamin, dapatkah harapan diselamatkan? Kapal tidak bisa berlayar di tanah kerontang. Singkap dunia dari dalam dirimu, dan hiduplah telanjang! Sebab, dengan telanjang pula kau datang ke dunia.

Kalimat di atas merupakan sepenggal dialog dalam Tadarus Puisi Teater Eska yang ke 21. Sebuah narasi yang mengingatkan, betapa perjalanan menjadi insan kamil atau manusia sempurna tidak mudah. Sebab tujuannya adalah kepuasan batin yang memerlukan proses panjang. Pencapaian tersebut pun harus dilihat ulang, diteliti apakah capaian tersebut sudah benar-benar termasuk kriteria insan kamil yang sejati.

Dalam menjalani kehidupan, manusia sering mengalami dinamika batin yang bergejolak. Kadang merasakan kesenangan tidak terhingga dan sebaliknya dia mengalami hal pahit yang tidak terlupakan. Namun, melalui pengalaman tersebut, dia akan merasakan suatu hal membuatnya tersadar atas apa yang dilakukannya. Apakah kepuasan batin atau malah kepuasan yang dibuat-buat.

Berjudul Penghujung Kau dan Aku, naskah pementasan tersebut merupakan adaptasi dari puisi Al Attahiyat yang berjudul Garis Hidup dan karya Ibnu Arabi berjudul Aku. Mengisahkan pengalaman religi yang kaprah dialami manusia namun kurang disadari. Pementasan digelar di belakang parkiran Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Minggu malam, (26/5).

Habiburrahman, sutradara dari pementasan tersebut menjelaskan, pada puisi Garis Hidup karya Al Attahiyat dikisahkan seseorang yang sudah mengalami pahit manisnya kehidupan. Pada momen tertentu dia mangalami kesadaran akan perbuatannya. Seperti dalam bait Kesalahan dapat dikenal melalui wajahnya, kebenaran melalui asal patuahnya. Kesalahan atau kelalaian itu berbentuk lahiriah seperti hubungan sosial sekaligus perilakunya, sedangkan kebenaran merupakan suatu yang berbentuk metaforik yang harus digali dan diselami.

Baca juga  Jumlah Guru Besar Kurang, Rektor Canangkan Program Post Doc

Dalam pengalaman religius, manusia sering mengalami gejolak ketuhanan yang membuatnya terombang-ambing. Kadang sudah merasa baik dan kadang buruk, atau merasa dekat dan sebaliknya. “Sehingga penampilan tadarus puisi tersebut menjelaskan konsep kesufian yaitu, takholli, tahalli, dan tajalli,” ujarnya.

Tiga hal tersebut merupakan konsep dalam kesufian yang dilakukan secara bertahap. Pertama, manusia perlu membersihkan diri dari perbuatan yang membuatnya abai dari mendekatkan diri kepada Tuhan. Itulah takholli. Selanjutnya, dalam tahalli dia mengisi dan menghiasi diri dengan kebajikan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Setelah melewati dua tahapan tersebut barulah dia memasuki tahap ketiga, yaitu tajalli. Dalam tahap ini, seorang manusia selalu menampakkan diri kepada setiap hal yang sudah diperintahkan oleh Tuhan. Sehingga dia terbebas dari penghalang yang berwujud sifat-sifat kemanusiaan serta memperoleh cahaya yang selama ini tersembunyi.

Menurut Habib, Ibnu Arabi juga pernah berkata, ketika sholat seseorang merasa menghadap kepada Tuhan. Tapi pada kenyataannya, hanya menghadap kepada dirinya sendiri. Seperti bait Tidak ada hubungan darah dengan perbuatan baik. Seorang manusia sering terlalu berpegang pada darahmya sendiri yang dianggap sebagai kekuatan Tuhan. Hal ini pada nantinya akan memunculkan sikap fanatisme beragama.

Habib juga menambahkan, karena perasaan itu perjalanan batin tidak kunjung selesai. Seperti prasangka sudah sampai kepada Tuhannya. Namunpada kenyataannya belum. Lebih lanjut, prasangka itu bisa saja hanya berupa fantasi yang muncul dan mengkondisikan hasrat manusia. Padahal, untuk benar-benar sampai kepada Tuhan, dia harus melampaui fantasi-fantasi yang menyatakan bahwa dia sudah sampai.

“Perjuangan dibangun karena lawan terbesar yang sebenarnya dalam diri seseorang adalah anggapan bahwa dirinya telah sampai,” papar Habib.

Reporter : Rudi dan Luthfi

Baca juga  Tiga Guru Besar akan Dikukuhkan, UIN Sunan Kalijaga Masih Kurang Banyak Profesor

Redaktur: Ni’am

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of