Menyikapi Waktu dengan Menari di Perbatasan Rindu

  • 6
    Shares

Menyikapi Waktu dengan Menari di Perbatasan Rindu. lpmarena.com

Bismillahi majreehaa wa mursaahaa, kulayarkan perahuku.

Mengarungi samudera semesta-Mu dalam samudera semestaku.

Berbekal sejuta doa dan harapan menggebu.

Pembungkus tubuh sejak dalam kandungan ibuku.

Berbekal kompas bismillah yang diajarkan ayahku.

Kutipan di atas merupakan penggalan puisi Anggitan Bachrum Bunyamin dalam Tanwin #3 Sanggar Nuun Yogyakarta.

Menggambarkan betapa pentingnya posisi Tuhan dalam segenap hidup kita, baik dalam alur kehidupan yang penuh dinamika maupun perihal waktu di tangan-Nya. Sebab Dia berada dalam nadi manusia dan memiliki kekuasaan penuh dalam mengatur segalanya.

Bertajuk Menari di Perbatasan Rindu, merupakan pertunjukan musik dan puisi yang diadaptasi dari naskah garapan Zulfan Arif. Mengisahkan tentang penyikapan waktu yang telah disuguh oleh-Nya.

Dilaksanakan selepas tarawih, pementasan ini mampu menyedot ratusan pasang mata di depan Laboratorium Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Selasa malam (29/5).

Tanwin #3 merupakan acara tahunan Sanggar Nuun yang dihelat saat Ramadhan dan selalu mengangkat persoalan-persoalan kehidupan manusia dalam kacamata religiusitas atau agama.

Ilham Nawawi, sutradara dalam pementasan tersebut memaparkan, Menari di Perbatasan Rindu menggambarkan bahwa proses perjalanan waktu yang manusia lewati selalu sama. Bedanya ialah, bagaimana manusia tersebut merespon waktu yang ada. Gelisahkah? Atau gembirakah?

“Intinya ini tuh, penyikapan kita terhadap waktu, karena waktu yang kita lewati, ya, ujung-ujungnya ke Sang Pencipta,” bebernya ketika ditemui ARENA usai acara.

Pada akhir pementasan, pembaca puisi melafalkan Innalillahi wa innailaihi roji’uun sebagai ungkapan bahwa waktu yang sebenar-benarnya abadi itu berada saat manusia sudah berada dalam pangkuan-Nya.

Pementasan diawali dengan menampilkan tarian yang memvisualisasikan salah satu fase kehidupan, yakni adaptasi. Sebab, dalam proses kehidupan, manusia akan melewaati fase lahir, remaja, dewasa, dan seterusnya. Dalam fase remaja inilah manusia akan mencari jati diri, kawan sejawat, dan pertemuan-pertemuan lain. Seperti Nabi Adam yang merasa sepi ketika di dunia kemudian Allah menurunkan Hawa sebagai peneman dirinya.

Baca juga  Yuk!! Ikut Bedah Buku Puisi

Tak cukup sampai di situ, agar lebih menggambarkan amanat yang ingin disampaikan, Tanwin #3 juga menampilkan aktor sebagai peraga. Aktor tersebut menceritakan dua orang yang hidup dalam kesederhanaan meski hanya seorang pemulung. Hidup yang kumuh tak mengurangi rasa syukur mereka kepada Yang Maha Merajai. Sebab, hidup yang miskin tidak juga membuat batin ikut miskin. Dibanding harta kaya, namun memiliki kesengsaraan batin.

Ilham Nawawi menambahkan, perbatasan rindu yang dimaksud di sini lebih ke Yang Mempunyai Segalanya. Ini juga banyaak merespon dari Surat Al-Baqarah ayat 155-156. Semua yang ditampilkan penuh dengan penyikapan terhadap waktu yang manusia lewati.

Di perbatasan ketika manusia sedih bisa merasa senang dan bahagia. “Intinya nerimo lah, gitu. Maka kerinduan itu akan ada di Al-Haq-nya.”

Pementasan yang digawangi oleh belasan orang ini terdiri dari mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga, dan Institut Seni Yogyakarta.

Tak cukup pada selasa malam saja, Tanwin #3 akan dihelat kembali pada tanggal 31 Mei di Pondok Pesantren Sunni Darussalam, Maguwoharjo.

“Keren! Selalu pecah dan menarik,” ungkap Husein, mahasiswa Manajemen Dakwah UIN Sunan Kalijaga.

Reporter: Tsaqif Al Adzin dan Zaim YS

Redaktur: Fikriyatul Islami M

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of