Usia Peralatan PTIPD Tua, Kinerja Server Terganggu

  • 38
    Shares

Usia Peralatan PTIPD Tua, Kinerja Server Terganggu

Lpmarena.com– Faktor usia dari peralatan PTIPD membuat kinerja server tidak mampu berjalan dengan semestinya. Lapuknya usia tersebut terhitung sejak tahun 2011, yakni ketika UIN mendapat dana hibah sebesar 30 Miliar.

Belum terimplementasinya Disaster Recovery Center (DRC) juga memicu terhambatnya kinerja server. Hal tersebut diungkapkan Sofwatul ‘Uyun selaku Kepala Pusat Teknologi dan Informasi Pangkalan Data (PTIPD). DRC sendiri menjadi bagian terpenting dalam hal penyimpanan data ke server.

“Katakanlah ada Sistem Informasi Akademik (SIA), ketika dosen transaksi nilai, server akan menyimpan dobel, ke PTIPD dan pihak ketiga,” terangnya ketika ditemui ARENA di kantornya, Rabu (6/6).

Pengadaan DRC merupakan program dari kepala PTIPD periode sebelum Shofwatul ‘Uyun. Setelah serah terima jabatan pada Agustus 2016, Shofwatul langsung mencanangkan DRC. Selain DRC, ia juga mencanangkan dana untuk membeli Uninterruptible Power Supply (UPS).

UPS sendiri merupakan alat untuk mem-back up listrik apabila terjadi mati listrik. Alat tersebut sudah ada sejak tahun 2011 dengan kapasitas 100 Kvh yang mampu bertahan selama tujuh jam. Namun, semakin bertambahnya usia, kemampuan UPS semakin rapuh dan akhirnya rusak.

PTIPD akhirnya memprioritaskan untuk membeli UPS dengan kapasitas 40 Kvh atau dapat bertahan selama satu jam. Sayangnya pada awal Mei terjadi insiden mati lampu lebih dari lima kali selama lima hari dan lebih dari satu jam.

“Mati listriknya itu di antara pukul dua belas sampai empat dini hari. Jadi tidak ada satpam yang menghubungi bagian rumah tangga,” terang Shifwatul.

Hal tersebut berdampak pada midplane salah satu blade yang mengalami kerusakan total. Padahal, segala penyimpanan data-data aplikasi berbasis web tersimpan dalam server tersebut. Alhasil, data aplikasi website dan data non-akademik hilang.

Baca juga  Matinya Wifi Seminggu Terakhir Menyulitkan Mahasiswa

“Tapi, untuk data nilai, presensi, dan sejenisnnya itu ada di server lain,” ujar perempuan yang juga lulusan Teknik Informatika tersebut.

Sementara itu, diberlakukannya kebijakan untuk reaktivasi akun beberapa hari lalu juga karena Active Directory—aplikasi yang menghandle akun—ada di server yang mati tersebut. Akhirnya PTIPD pelan-pelan membenahi mulai dari koneksi internet yang dibuat umum. Karena data akun tersebut ada di server yang rusak, maka semuanya mulai kembali dari nol, baik dosen, mahasiswa, dan pegawai.

Tak berhenti sampai situ, mahasiswa ada yang harus reaktivasi manual dan harus mendatangi kantor PTIPD. Hal tersebut diduga karena ketidakvalidan mahasiswa dalam mengisi Data Pribadi Mahasiswa (DPM) saat sebagai mahasiswa baru. Ratusan mahasiswa sampai harus mengular di kantor PTIPD untuk melakukan reaktivasi manual.

Ahmad Fathoni, mahasiswa Sejarah Kebudayaan Islam tersebut mengaku terhambat dalam mempersiapkan seminar pra munaqosyah. Untuk melakukan transkrip nilai, ia harus masuk ke akunnya. Ia sudah reaktivasi melalui web, akan tetapi tetap saja tidak bisa. Akhirnya ia harus menyambangi PTIPD untuk memulihkan kembali akunnya.

Kesulitan tersebut senada dengan Tiara Sisi Everina, mahasiswi Ilmu Komunikasi semester dua ketika hendak membuka nilai semester yang sudah keluar. Ia harus ke PTIPD untuk mengantre. Ia mengapresiasi PTIPD yang tanggap dan memproses dengan cepat ketika hanya dengan menyerahkan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM).

“Saya berharap semoga PTIPD sesegera mungkin memperbaiki dan terus evaluasi agar tidak meresahkan lagi,” ungkap mahasiswi asal Banjarnegara tersebut.

Shofwatul ‘Uyun terus mengimbau untuk tetap bersabar. Ia bersama rekannya akan mengusahakan semaksimal mungkin hingga Jumat. Jika ada yang belum terlayani sampai hari Jumat, PTIPD akan aktif kembali usai lebaran besok. Sebab, PTIPD sudah memprediksi kalau midplane sudah datang dan akan memastikan apakah data bisa diambil atau tidak.

Baca juga  Matinya Wifi Seminggu Terakhir Menyulitkan Mahasiswa

“Kalau masih ada yang rusak, ya, kita benerin satu per satu. Karena sampai sekarang juga kami memakai server yang bukan server semestinya, tapi menggunakan laptop. Jadi kinerjanya beda,” pungkasnya.

Reporter: Tsaqif Al Adzin Imanulloh

Redaktur: Fikriyatul Islami

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of