Puisi-puisi Farid Merah: Senja, Aku, Dendam, dan Bapakku

  • 3
    Shares

Senja, Aku, Dendam, dan Bapakku

Kerentaan adalah senja,
dan bapakku,
yang mengenakan kopyah kecil bulat
Kala berangkat kerja,
Juga tangis ibuku kala ia dimadu,

Matanya layu,
melagukan nada minor yang sendu,

Bapakku mengernyit keningnya,
Mengisyaratkan keudzuran usianya,
Kepada anak dan istri mudanya,

Langit kelabu di atas keningnya
Hujan harapan ditelapak tangannya,
Dan rindu menggenang dalam kenangnya
Dipendam dalam lubang pesarean ibuku dan ibunya,

Dendamku padanya,
Tak bisa dipadamkan,
Juga kasihku padanya,
Tak bisa ditinggalkan,

Aku dan Ia,
Adalah arah barat
dan semesta senja, yang keemasan.
Kami saling sembunyi-menyembunyikan,
Kami saling memendam dan memadamkan,
Dan aku masih dendam.

Aku berdoa siang-malam kepada tuhan,
Agar aku menjadi segala keterbalikkan pribadinya.

 

Tanpa Pegangan

Tuhan ia,

Lihat aku jalan pelan,
Lihat kami,
Jalan beriringan,

Ini waktu,
Penghabisan,

Mereka semua punya harapan,
Beda arah jalan,
Sama satu tujuan,

Pulang,

Waktu pergi,
Ini niat,
pembuktian,

Aku pendam dendam,
Aku cari arahan,
Aku bangun jalan,
Sendirian,
berlelaku,
hadapi lika-liku zaman,
Di lorong kegelapan,

Diam adalah pengkhianatan,
Walau hanya pada kedirian,
Mendiami rumah dikhianati,

Aku pesakitan,
Aku pergi,

Kotoran bernama kepercayaan dan harapan,
ku buang pada tempatnya,

Aku jalan,
Ini pengobatan,
Bukan pelarian,

 

Aku bayiMu

Wahai Kau Tuanku Yang Maha
S…E… G… A… L… A… N… N… Y… A…
Segala puji bagiMu,

Yang berhak memiliki
Totalitarianism, otoriterianism,
imprealialism, kolonialism,

Hanyalah milikMu,
Semua makhluk tunduk pada Mu,

Tapi tidak denganku,

Aku masih terus menanyakan
Ketundukkan ku pada Mu,
Aku tidak sungguh yakin,
Apakah aku benar dan sungguh
Tunduk pada Mu,
Atau aku hanya tunduk pada kebodohanku,
Yang menjadikanku buta, dan tuli akan tiap esensi,
Yang menyingkap diriku
Dari bahasa simbolmu,

Baca juga  Malam Sastra: Ekspresi Diri dan Silaturahmi Gondes

Aku adalah wujud nyata dari kekeliruan
Peradaban bumi yang Anomali,

Wahai Tuanku,
Batiniah hamba masih terlalu belia
Untuk kehidupan duniamu ini,

Hamba mohon pada Mu,
Di bulan suci ini Tuanku,
Bawa hamba Tuanku,
Gandeng hamba Tuanku,
Rangkul hamba Tuanku,
Cium kening hamba Tuanku,
Genggam jiwa, hati, dan pikiran hamba Tuanku,
Letakkan hamba dipangkuanMu Tuanku,
Hamba masih bayi dihadapan semesta Mu,

Selimuti hamba dengan selimut Ketenangan Mu,

Akulah bayimu Tuanku,
Aku bayi dihadapanMu,
Aku bayiMu.
Aku ingin kembali di tangisan pertamaku,
Aku merangkak pada Mu.

 

Farid Merah, nama siluman dari M. Farid, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga yang aktif berkegiatan di Teater Eska. Selain puisi, Farid juga memproduksi lagu.

 

Gambar: lukisan Hantu-hantu Dendam Kabuk Ketut Suasana di www.tatkala.co

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of