Jelang Pemilu, Sumali: Masyarakat Mesti Kritis

Jelang Pemilu, Sumali: Masyarakat Mesti Kritis

  • 4
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    4
    Shares

Jelang Pemilu, Sumali: Masyarakat Mesti Kritis

Dalam sebuah riset Dewan Pers, dipaparkan bahwa kemunculan berita hoax diawali dengan adanya wartawan yang merangkap jadi tim sukses (timses) atau bahkan politisi yang menjadi pemilik media. Ini terjadi pada pesta demokrasi tahun 2014.

Hal tersebut menimbulkan sikap kontra dari Sumali Ibnu Chamid, Ketua Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kabupaten Wonosobo sekaligus Wartawan Jawa Pos. Menurutnya, independensi media tetap harus dipertahankan. Haram jadinya ketika wartawan merangkap jadi timses.

Di Indonesia sendiri terjadi gejolak yang sangat besar. Terutama ketika pemilik media merangkap jadi praktisi politik. Hasil penelitian Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta dengan Lembaga Masyarakat Membaca Jogja (MMJ), menyebut ada lima media yang mengalami pergeseran dikarenakan pemilik media yang merangkap menjadi politisi. Ini dinilai dari prosentase media dalam menjaga integritas dan independensi.

Sumali kemudian mengungkapkan, ini merupakan tantangan dari Dewan Pers. Sebab, berita akan diberi frame yang memelintir karena mengatasdasarkan pencitraan.

“Yang bisa mengukur wartawan menyalahi kode etik atau tidak itu Dewan Pers,” tutur Sumali kepada ARENA di Pendopo Kabupaten Wonosobo (11/6).

Sumali menegaskan, tak hanya mengandalkan wartawan agar memosisikan menjadi yang kredibel, pembaca juga mesti skeptis dan kritis terhadap apa yang disodorkan kepada wartawan jelang pesta demokrasi tahun 2018-2019 ini. Masyarakat bisa andil dengan melempar aduan kepada Dewan Pers. Panwas akan bertindak ketika sudah terbukti melakukan kesalahan.

Sementara itu, dalam upaya memerangi berita hoax jelang tahun politik, telah dibuat sebuah kanal sebagai fake checker. Hal tersebut dibeberkan Astin M, sebagai relawan dari Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo).

Baca juga  New Media, Rentan Hoax

“Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Masyarakat Antifitnah Indonesia (Mafindo), Internews, Google News Initiative, dan 22 media publikasi berkolaborasi untuk menangkal hoax seperti saat krusial politik ini,” imbuhnya.

Astin M pernah menemukan salah satu berita dari media masa di Sumatera Utara mengenai foto salah seorang artis tersohor di Indonesia. Dalam foto itu, di dadanya tertulis #2019GantiPresiden.

“Ini merupakan dosa besar dari seorang wartawan,” tegas ibu rumah tangga tersebut.

Ia berharap agar semua bersinergi dalam menangkal hoax di tahun-tahun politik ini. Terlebih kepada generasi milenial. Sebab, katanya, tahun 2024 sebanyak 60% penduduk Indonesia ialah generasi milenial saat ini.

Reporter: Tsaqif Al Adzin Imanulloh

Redaktur: Fikriyatul Islami M

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of