Menanggulangi Radikalisme di Kampus, Rektor: Mahasiswa Baru akan Dipesantrenkan

  • 6
    Shares

Kasus penyerangan tiga gereja di Surabaya yang dilakukan oleh satu keluarga, ledakan bom di Sidoarjo, serta penyerangan Markas Kepolisian Daerah Riau menambah daftar panjang radikalisme di Indonesia.

Sun Choirol Ummah dalam Akar Radikalisme Islam di Indonesia yang dipublikasikan oleh Jurnal Humanika Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada September 2012 silam, mengungkapkan, bersamaan dengan pencarian identitas muslim yang belum juga selesai dan tekanan sosiopolitik dan sosiohistoris Barat yang merepresentasikan Islam sebagai agama teror, menjadikan representasi Islam semakin kabur dan buruk di agama lain.

Sun juga menyatakan, fenomena radikalisme Islam sendiri sudah lama menjadi perhatian dalam sekala internasional. Isu tersebut juga dilibatkan dengan wacana politik dan peradaban global yang dibantu dengan kekuatan media massa dalam membangun pandangan publik. Menurut Sun, kelompok garis keras, ekstrimis, fundamentalisme, Islam kanan, merupakan label yang diberikan oleh Amerika Serikat dan beberapa kalangan Barat. Bahkan, Nurcholis Majid, sebagaimana dikutip oleh Sun, menyatakan bahwa pasca hancurnya ideologi komunisme, negara-negara Barat memandang Islam sebagai sebuah gerakan peradaban yang menakutkan.

Paham Islam radikal sendiri menyebar melalui banyak medium dan menyasar berbagai macam kalangan. Pada kasus yang masih terbilang dekat, ditangkapnya tiga alumni Universitas Riau di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik dengan sejumlah bom, bahan peledak, dan senjata, menggambarkan bahwa wacana ekstrim juga berkembang di lembaga akademik.

Wartawan ARENA, Ilham M. Rusydi dan Syakirun Ni’am sempat melakukan wawancara dengan rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Yudian Wahyudi pada 25 Mei lalu. Ditemui di ruang transit Gedung Profesor Amin Abdulloh selepas acara Catatan Najwa digelar, Yudian memaparkan awal mula gerakan ekstrim ini mencuat.

Beberapa cara pandangnya, serta beberapa cara menanggulangi masalah tersebut  di lembaga pendidikan maupun perguruan tinggi. Yudian menekankan pembelajaran wacana Islam moderat dan Pancasila. Terlepas dari pandangan publik tentang penggunaan Pancasila sebagai bentuk kamuflase politik; berikut wawancara tersebut.

Bagaimana pandangan Bapak terkait kalangan Islam kanan ekstrim atau Islam garis keras?

Dari segi kelemahan, kelompok kanan ini harus diungkap. Kenapa sih, kelompok kanan sampai kayak gitu? Sebagai contoh, misal, umat Islam kan banyak yang tidak atau belum sampai pada kesimpulan bahwa kelompok kanan itu sebetulnya gambaran dari orang yang selalu terpinggirkan; mewarisi kekalahan panjang orang Arab Saudi dalam sejarah Islam. Mereka itu tidak sadar, yang kalah itu orang Saudi sebenarnya dulu di kalangan dunia Islam.

Mengapa? Karena Ibu Kota Madinah yang baru 26 tahun berlangsung dipindah ke Kuffah. Maka Saudi Arabia menjadi kembali seperti semula, padang pasir dan gunung vulkanik. Karena ibu kotanya dari Baghdad, kemudian pindah ke Kairo, pindah ke Konstantinopel atau ke Instanbul. Orang Saudi yang merasa punya agama, nabinya dari situ, kitab suci dan segala macamnya, tapi kok, tidak memerintah? Gitu, loh. Yang memerintah ini orang Islam pinggiran.

Kenapa? Saya ulang, satu, karena ibu kotanya dipindah. Nah, dengan sendirinya, orang Saudi menjadi minoritas. Apalagi Islam dipeluk oleh multi etnis. Kemudian, karena mereka terpinggirkan di Saudi sana; tempatnya nggak enak, tau sendiri, ya?

Ilmunya hanya melafalkan Quran dan Hadist. Ketika berangkat ke kota, mereka kaget. Makanya orang-orang ini gambarannya cuma seperti itu terus. Gambarannya itu semua salah kecuali mereka, padahal yang nggak ngerti itu ya mereka sebenarnya.

Berarti pandangan mereka sektarian sekali, ya, Pak?

Iya dong. Dan dulu bahkan, mohon maaf, itu rasis. Maka sebetulnya mereka ini rearabisasi, bukan Islamisasi.  Maka yang tidak ada dalam pandangan mereka yaitu Quran dan Hadits, dianggapnya tidak ada.  Padahal ada toleransi, ya, kalau di Ushul Fiqih (filsafat hukum Islam); kalau tidak ada dalam Al Qur’an dan Hadits, maka mengacu pada sumber hukum lain, yakni ‘urf (adat-Red), itu lokalitas atau budaya dan ijma’, konsensus ulama. Pasti ekstrim orang itu kalau tanpa keduanya, karena dia akan pakai pandangannya sendiri di tengah-tengah gelombang besar.

Apakah golongan seperti itu cenderung tidak mengkontekstualisasikan pandangan mereka?

Mereka nggak sadar. Mereka itu kan hanya menghafalkan Qur’an dan Hadits, belajar di tanah-tanah kering yang jauh dari pusat peradaban. Masuk ke kota, kaget, nggak? Itu harus dijelaskan dulu. Ke-kagetan psikologis itu dijelaskan dulu. Ini yang Saya katakan, kelompok-kelompok ini harus dibongkar akar-akar masalahnya ini apa sih, gitu loh.

Jadi kalau kita sudah tahu bahwa akar masalahnya dulu karena kekalahan orang Saudi di tangan orang-orang non Saudi, atau bahasa Arabnya ‘ajam (non Arab) atau Mawali. Jadi kita bisa paham, kita gak butuh itu, paham, ya?

Misalnya sebagai contoh, kalau Anda baca doanya nabi Ibrahim, di tanah kering dia kan minta buah-buahan, Wa arjuku minas tsamarat. Lah, kalau Anda sekarang doanya minta buah-buahan di sini, kelenger gak? Kan ndak relevan, ya. Nah itu ada kontekstualisasi. Jadi yang diperlukan di Indonesia bukan buah-buahan kalo berdoa, paham?

Kecuali kalau di tanah kering kayak di Bima, di NTT, boleh. Kalau di sini janganlah. Mintanya kira-kira uang, pasar, gitu loh.

Menurut Bapak, bagaimana caranya menanggulangi wacana ekstrim kanan, semisal di universitas?

Ya, kalau sekarang perlu ada pelatihan berjenjang yang dilakukan. Ya, kepada mahasiswa, kemudian aktivis, dan ditambah lagi dosen. Tapi kalau yang paling dasar sebenarnya menurut Saya begini; itu yang pertama kali perlu ditegaskan kembali bahwa Pancasila itu religius dan sekuler sekaligus. Jadi misalnya “Ketuhanan Yang Maha Esa itu religius, tapi cara mewujudkannya butuh sekularitas.

Nah, kedua, ini perlu digalakkan sekarang; mata pelajaran agama menjadi mata pelajaran ujian nasional. Supaya tidak menimbulkan radikalisme justru akan ada deradikalisasi atau moderasi untuk jenjang konten kurikulumnya. Misalnya untuk akidah dan ibadah mahdhoh (murni kepada Tuhan, misal sholat), itu diajarkan oleh guru seagama hanya kepada siswa seagama.

Kemudian level ketiga, agama untuk kebutuhan nasional. Itu masih sama diajarkan oleh guru seagama kepada murid seagama. Nah misalnya, Islam membahas tentang terorisme dari versi Islam.  Korupsi, narkoba, isu sparatisme, dan pokoknya yang mengancam republik itu dibahas dari kacamata agama.

Misalnya Islam, diajarkan kepada orang Islam, yang Katolik juga gitu, diajarkan hanya kepada orang Katolik. Yang Kristen diajarkan hanya kepada Kristen, dan juga Hindu sama. Dari sana  terbangun pondasi kesadaran beragama, tapi sekaligus sudah memasuki masalah-masalah kontemporer nasional.

Level keempat itu Pancasila. Jadi mata pelajaran yang sudah membahas tentang problem-problem nasional tanpa menyebut agama. Misalnya kita berbicara penanggulangan narkoba, itu pakai peraturan nomor sekian-sekian sudah aman. Kenapa? Karena anak-anak itu sudah punya pondasi keagamaan bahwa itu sama dengan agama mereka. Nah, itu salah satu cara untuk menggalakkan tekanan.

Untuk menanggulangi wacana ekstrim di perguruan tinggi, kira-kira cara yang lebih konkrit bagaimana?

Nah, itu yang kita lakukan. Pertama, Menteri Agama sudah melakukan pengarahan yang namanya mengharusutamakan Islam moderat. Islam moderat itu kira-kira Islam yang mengakui dan memperkuat Pancasila, UUD 1945, kebhinekaan, dan NKRI harga mati. Kalau bahasa fiqhi, Islam yang mengakui ‘urf dan ijma’ sebagai bagian dari kebhinekaan.

Nah, kita akan melakukan itu sejak semester baru nanti. Pertama, untuk mahasiswa baru yang belum atau tidak mengerti baca tulis Al-Qur’an akan dipesantrenkan satu tahun. Diajari bahasa Arab atau Qur’an dan Hadits, kemudian diajari tentang hubungan Islam dengan negara dan Islam dengan Pancasila. Salah satunya lewat pesantren satu tahun ini.

Kemudian nanti dalam pelajaran-pelajaran akan ditambahkan. Seperti yang Saya bilang tadi, kita juga akan mengadakan kegiatan yang untuk pertama kali akan dibuka oleh presiden. Mengumpulkan tokoh-tokoh mahasiswa dari seluruh Indonesia ke sini, ditraining soal Pancasila dan negara.

Dari situ, terjadi silaturahmi antara tokoh-tokoh aktivis mahasiswa dari seluruh Indonesia, kalau itu berjalan dengan baik. Sehingga, mereka punya kebersamaan untuk menghadapi tantangan yang sifatnya ekstrim.

Menurut Pierre Bordieu, dari pada melakukan pengajaran moral, lebih penting membangun komunitas moral. Nah, kalau UIN Sunan Kalijaga sendiri membangun komunitas moral untuk menegasikan wacana ekstrim nggak, sih?

Ya itu malah setiap hari, yang namanya khutbah Jum’at, sholat, puasa, itu udah. Tapi ini misinya ada semacam formalisasi, supaya ada pengaruh strukturalnya, gitu loh. Ya, kalo moral dalam arti itu udah berdoa setiap hari. Itu udah komunitas, artinya secara kelembagaan dalam pengertian setiap sholat Jum’at ada khutbah atau kultum. Cuman itu pengaruhnya kalah kuat dibandingkan dengan formalis struktural, maka diarahkan ke sana.

Jadi, mahasiswa juga diberi perhatian, yang sifatnya katakanlah ekstrim. Resiko-resiko ke depan diberitau supaya mereka berpikir dengan baik. Kadang-kadang mereka itu gak ngerti kan karena terjebak. Nah, ini juga dibuka info itu pada penjelasan tentang, semisal, kelompok radikal itu apa, kelemahannya apa, kekuatannya apa, itu akan disampaikan.

Di samping, apa sih kekuatan bangsa Indonesia ini atau Islam Indonesia. Apa bedanya kalau dibanding Arab Saudi atau Mesir. Itu perlu supaya kita sadar bahwa kita ini hebat. Bukan seperti kata orang-orang Wahabi, yang katanya menyimpang dari Al Qur’an dan Hadits. Ndak, kita ini orang-orang hebat. Saya sudah berkali-kali kan menyampaikan berapa kehebatan bangsa Indonesia. Ada enam atau tujuh yang Saya sampaikan. Itu tidak ada di dunia.

Saudi berdirinya misalnya dengan membelah atau memecah khilafah Utsmaniyah. Dibikinnya malah kerajaan, Ibu Kotanya tidak di Madinah. Mereka itu bohong tiga kali sudah, gitu loh. Kita ini, tengah-tengah, tidak ada super power, sudah terjajah lebih awal selama 434 tahun, tiba-tiba bikin negara begini besarnya.

Makanya Saya bilang, dalam masalah akidah dan ibadah mahdhoh, kita kiblatnya ke Mekah dan Madinah. Tapi dalam masalah peradaban, tidak usah pernah menoleh ke Saudi. Saya ngomong berkali-kali, karena mereka ini orangnya sangat terbelakang.

Inilah yang perlu ditunjukkan. Kelemahan mereka itu ditunjukkan, mana sih bedanya Qur’an dengan Arab?

Misalnya gini, sebagai contoh membedakan, orang seringkali ngomong Arab sama dengan Islam dan Islam sama dengan Arab. Padahal ndak. Banyak Arab yang dihajar oleh Al Qur’an itu. Contohnya, mana bedanya Muhammad Al ‘Arabi dengan Muhammad An Nabi. An Nabi itu yang Islam berarti ya. Coba lihat “alam yajidka yatiman fa awa” itu Arabi, jelas sekali di surah Makkiyah itu.

Alam nasyrah laka shodrak, wa wadho’na ‘anka wizrak (bukankah Kami telah lapangkan untukmu dadamu? dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu?-Red), itu Arabnya dibersihin, gitu loh. Paham?

Jadi jelas, makanya di Al Qur’an ada Al a’rabu asyaddu kufran wa nifaaqan (Orang-orang Arab Badui itu lebih sangat kekafiran dan kemunafikannya) (At-Taubah : 97-Red). Ada di Qur’an, bukan Saya. Nah itu ditunjukkan ke kita. Jadi kalau kita ke Saudi Arabia hanya masalah kiblat dan ibadah mahdhoh. Masalah ijtihadiyah mereka nggak boleh ikut-ikut, wong mereka nggak paham.

Nah, orang Islam itu harus paham dalam hal ini, kita nggak boleh sombong. Tapi kita insyaAllah lebih pintar dari orang Saudi, wong mereka cuma hafal Qur’an dan Hadits saja, kok.

Nah, yang begini-begini ini perlu diungkap supaya tidak ada generalisasi bahwa kita di bawah Saudi. Contoh kehebatan kita misalnya, Raja Salman saat di sini (berkunjung ke Indonesia-Red) tambah tiga hari, kan? Ada nggak raja minta tambah tiga hari? Ya, kalau di Bali aja minta tambah tiga hari. Itu kalau masih muda mungkin dia pindah ke Indonesia.

 

Reporter: Ilham M. Rusydi dan Syakirun Ni’am

Redaktur: FIkriyatul Islami

Komentar

komentar

Baca juga  Radikalisasi di Sekolah

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of