Puisi-puisi Roziqien Rakara: Perbincangan Selepas Magrib

  • 8
    Shares

Perbincangan Selepas Magrib

#Emak, di beranda kita menjadi sepasang kekasih

temani kidung ayat yang mengisyaratkan kepahitan dalam dadamu
selepas perbincangan perihal surga di rumah kita
lalu kau memangku telingaku dengan bisik
“Neraka adalah silam sebelum nenekmu berpulang, waktu itu kita disunyikan penderitaan”

#Aku pandang engkau yang memandang matahari tenggelam

arakan awan di wajahmu beringsut petang
“Pengembara takkan melupakan tanah asalnya, Mak”
engkau menoleh dengan lesu

#Di sana kutemukan sabit rembulan
membelah bola matamu yang berpendar
menyilau dari langit paling bintang

2018

Sepasang Kenangan

Kukira kemarau telah sepenuhnya menghapus wajah hujan, menukar jalan musim yang masih kenangan menjadi ribuan pecahan takdir yang sulit disatukan.

Kemudian engkau datang, membawa sisa ranjang yang sebenarnya sangat sulit untuk kupandang. Namun kamu yang telah berusaha menulis keyakinan disini: dada. Menyatakan bahwa setiap lubang selalu menemukan kaki yang malang. Dan aku percayai itu, karena kamu juga telah berhasil menjatuhkanku.

Engkau menitipkan seperempat malam lengkap dengan sepasang kursi yang kita duduki, juga suasana yang sama persis seperti waktu itu.

Sedang aku yang masih merindu terpaksa harus kembali bersama harum parfummu untuk mengenang matamu yang malu.

2018

Yang Terbang

Pada jalanan kota, kita bergandengan tangan. Sambil menatap langit yang mulai hitam tubuhku dan tubuhmu tiba-tiba terseret oleh sayap yang juga tiba-tiba melekat: kita terbang, aku tersenyum dan engkau tertawa.

Samar-samar dari ketinggian, aku menyaksikan kota kita berpijak telah menjadi puisi. Sedang perempuan yang kunamai engkau menutup satiap lubang langit yang akan menjatuhkan kata-kata.

Aku sadar, sejak itu genggamanku terlepas dari tanganmu: Dan engkau terus saja tertawa.

Baca juga  Karyawan Ekstra Profesional

2018

Yang Menyungai

Seperti sungai yang mengalir tenang
Melewati rerumputan, lalang, juga bambu berduri.

Diam-diam tubuhnya merasakan luka yang berkepedihan

dengan tabah dan sabar, dedaunan yang gugur ia jadikan selimut sebagai rahasia; tempat menyembunyikan sakit.
-Biar ikan-ikan tak resah.

Sebab Tuhan telah berkabar, bahwa sungai telah berhulu dari mata.

2018

 

Roy Rakara, mahasiswa jurusan Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta asal Sumenep. Setelah diadzani sewaktu bayi masih merah, jin-jin membisikkan puisi ghaib pada telinganya.

lpmarena.com

Sumber foto: pahamgembul.wordpress.com

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of