Pilkada: Ambil Saja Hikmahnya!

Pilkada: Ambil Saja Hikmahnya!

  • 11
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    11
    Shares

Pilkada: Ambil saja hikmahnya! lpmarena.com

*Oleh Ilham Rus

Sudah dua hari Pilkada serentak 2018 berlalu. Hingga saat ini masih berjalan dengan baik-baik dan sehat wal afiat. Belum tampak wajah-wajah kurang piknik dan histeris dari para calon yang kalah pada pertarungan kemarin. Banyak yang menanggapi hal ini sebagai petanda baik dalam pesta demokrasi di Indonesia. Sebab dituduhnya demokrasi kita makin dewasa dan matang. Meskipun masih ada sebagian yang berpendapat sebaliknya.

Bagi para pengamat politik, atau setidaknya mereka yang suka bicara politik, tentu menemukan fakta masing-masing yang mungkin dianggap menarik dalam Pilkada serentak ini.

Ada beberapa hal yang mungkin menjadi fakta menarik dalam pilkada serentak 2018, sekaligus bisa kita petik hikmahnya.

1. Merayakan Kemenangan Kotak Kosong

Kemenangan kotak kosong-yang biasa disapa koko atas calon tunggal pemilihan Walikota Makassar diumumkan melalui salah satu stasiun tivi. Suara terbanyak diraih oleh koko berdasarkan hasil hitungan quick count oleh beberapa lembaga survey. Mungkin fenomena ini menjadi catatan yang bersejarah dalam Pilkada.

Kemenangan tersebut adalah kemenangan kotak kosong satu-satunya diantara pertarungan koko melawan 16 pasangan calon tunggal lainnya. Sebenarnya jika dipikir sedikit agak tragis.

Kalau kata tetangga, setidaknya ada dua hal yang menarik ditanggapi dalam fenomena langka itu. Pertama, bila menang melawan kotak kosong, bisakah berarti membuka celah untuk merayakan kemunduran demokrasi?

Dalam artian, jika demokrasi dimaknai sebagai sebuah kebebasan untuk memilih atau dipilih, bagaimana mungkin dalam sebuah pesta demokrasi hanya terdapat satu pilihan? Orang-orang tak bebas memilih, katanya.

Kedua, jika kalah dari kotak kosong, apakah calon tunggal bisa dianggap kalah sebagai seorang pecundang karena melawan benda mati? Bagi kita yang awam politik, hal itu mungkin kadang ada benarnya juga salahnya. Entahlah.

Baca juga  Biar Miskin, Penting Sarjana

2. Tak ada musuh abadi, melainkan kepentingan

Beberapa waktu lalu, Amin Rais telah bersusah payah mengklasifikasikan mana yang termasuk partai Allah (kata orang; PAN, PKS, Gerindra) dan mana yang partai setan (bisa berarti semua partai selain yang disebutkan), begitu juga partai pro pemerintah dengan partai oposisi pemerintah.

Namun sepertinya klasifikasi itu tidak sesuai dengan apa yang terjadi dalam pilkada serentak kemarin. Nyatanya, partai-partai Allah yang dimaksud itu justru getol menjalin koalisi dengan partai yang dianggap partai setan atau partai pro pemerintah. Salah satunya bisa dibuktikan melalui koalisi partai PKS dan Gerindra dengan partai PDI-P (diklaim pro pemerintah) sama-sama mendukung pasangan calon gubernur Jawa Timur nomor urut dua. Ini tak terjadi di satu daerah saja, namun juga beberapa daerah lainnya.

Hal ini jelas menandakan bahwa tak ada kawan dan musuh abadi dalam politik. Melainkan hanya kepentingan yang selalu berpindah-pindah. Selalu bergantung pada kentingan politik yang berjalan dinamis. Hal ini pulalah sebagai ajang pendewasaan dalam memaknai ulang konsepsi politik. Kata orang, lagi-lagi makin dewasa aja!

3. Elektabilitas tak signifikan berpengaruh

Salah satu strategi politik yang paling picik namun laris adalah praktik politik identitas. Biasanya berupa menjatuhkan nama baik lawan politiknya dengan berbagai cara agar mempengaruhi elektabilitas dan perolehan suara. Namun pola lama seperti ini rupanya kurang seksi lagi.

Pasalnya, hal itu terbantahkan karena kemenangan Syahri Mulyo dalam pilkada serentak. Sebagaimana dilansir dari Kompas TV, Syahri Mulyo merupakan seorang calon bupati petahana Tulungagung yang terjerat kasus pidana dan sedang ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ia unggul berdasarkan real count KPU dengan perolehan suara mencapai 60%. Mengalahkan lawannya yang hanya memperoleh suara hingga 30%.

Fenomena ini bisa menjadi bukti bahwa elektabilitas ternyata tak mempengaruhi perolehan suara. Apapun bisa berubah dalam politik. Hasil survey, debat kandidat, bahkan kampanye juga tak menjamin pengaruh signifikan dalam agenda politik.

Baca juga  Mari Merokok!

Namun, satu hal yang menarik dan menandakan bahwa semakin dewasanya praktik perpolitikan di negara kita. Salah satunya, masyarakat semakin mandiri dalam gagasan politiknya. Mereka punya ragam perspektif dan pembacaan dalam menyikapi fenomena seperti halnya di atas.

Jadi wajar, masyarakat memilih sesuai nurani. Bisa saja yang disukai masyarakat adalah yang sering dimisuh-misuhi di media, ataupun sebaliknya. Mudah-mudahan cara berpikir kita yang seperti ini dirahmati oleh Rocky Gerung dan bukan sebuah cara berpikir yang dungu. Amin!

4. Semua ingin jadi pemenang

Satu lagi yang mungkin menarik. Sejauh ini para pasangan calon masih tetap optimis memenangkan pilkada. Meskipun beberapa hasil quick count dari berbagai lembaga survey dan real count dari KPU telah diputuskan, namun beberapa calon masih ngotot menang dan menunggu hasil hitung versi manual dari KPU.

Bahkan mereka saling bantah-bantahan melalui media. Jika di stasiun televisi mereka kalah, biasanya di surat kabar mereka menang. Begitu yang kerap terjadi. Alangkah bahayanya jika ternyata semuanya ingin menjadi pemenang.

Lain lagi kalau kata politisi yang sering tampil di tivi, sebenarnya yang menang dalam pilkada ini adalah masyarakat Indonesia. Selamat!

Apapun yang pernah terjadi dalam pilkada, sebagian akan menjadi representasi perkembangan politik di Indonesia. Jika dianggap baik, berarti kemungkinan besar praktik politik kita memang sudah tumbuh dewasa dan matang. Namun jika buruk, berarti kita mesti bergegas lagi menata ulang konsepsi kita tentang politik.

Jadi, jangan terlau serius-serius amat. Baik yang menang, apalagi yang kalah, tetaplah selow. Lagipula, pilkada bukanlah segalanya! Hah.

*Ilham Rus, sama sekali bukan pengamat politik. Penyerap aspirasi tetangga.

Ilustrasi: The Popop

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of