Transformasi Angpau Ramadan, dari Buat Beli Permen ke Kuota Internet

  • 14
    Shares

Transformasi Angpau Ramadan, dari Buat Beli Permen ke Kuota Internet – lpmarena.com

Oleh
Rony K. Pratama*

Ramadan berada di pucuk. Saf-saf salat tarawih di masjid mulai menyusut. Tempat perbelanjaan dirubungi banyak orang. Potret semacam ini jamak ditemui di kota-kota besar. Bahkan, di dusun-dusun. Keadaan ini merupakan hal wajar. Baik kaum muda maupun tua, seakan-akan seia-sekata.

Bagi warga desa, membeli baju baru untuk lebaran adalah tradisi tahunan yang mesti dilakukan. Barangkali tradisi tersebut menjadi titik penting merayakan lebaran. Mensucikan diri dengan minta maaf kepada sanak-saudara tanpa memakai baju anyar ibarat Idul Fitri tanpa opor ayam dan sajian rengginan.

Perjumpaan dengan keluarga menjadi momen terbaik setahun sekali. Mudik ditengarai mampu mengembalikan ingatan masa silam. Tak heran bila di kawasan metropolitan sontak sepi sejak tujuh hari sebelum Idul Fitri. Mereka adalah sekelompok perantau yang meluangkan waktu kembali ke kampung halaman, walaupun rela berdesakan merebutkan tiket transportasi massal.

Jalur mudik dipadati kendaraan bermotor. Selain pakai kendaraan umum, sebagian besar orang juga rela mengegas kendaraan pribadi mereka. Pos-pos mudik dan masjid ramai sebagai tempat peristirahatan sementara guna melepas lelah. Pemandangan orang tidur, baik sendiri maupun bersama keluarga kecilnya, mudah ditemui—setidaknya diwartakan banyak media cetak dan daring.

Di kota pelajar, seperti Yogyakarta, mudik mulai terlihat simptomnya bila Warmindo tutup. Tempat makan, minum, bahkan tongkrongan merakyat kaum pelajar itu lazim diketahui pemiliknya, yaitu perantauan dari Jawa Barat. Aa dan teteh burjo memanfaatkan kesempatan itu untuk kembali ke tanah Sunda. Tak heran jika para perantau di bumi Mataram ini cemas karena sukar menemukan tempat makan murah yang buka di hari raya.

Baca juga  Penghujung Kau dan Aku: Jalan Sufi Mencegah Fanatisme

Tren Kuota

Melepas rindu bersama keluarga memuncak ketika prosesi salaman. Duduk melingkar urut dari yang muda sampai yang tua mengamsalkan lapisan sosial yang dipertahankan hingga hari ini. Lanskap kultural tersebut bukan menyiratkan primoridialisme Jawa yang serba patuh dan hormat kepada generasi sebelumnya, melainkan wujud kerendahanhati serta paham sangkan dan paran-nya.

Isak tangis acap kali tak tertahankan bila punggung merunduk dan menggenggam erat tangan orang tua. Momen demikian, selain ajang saling memaafkan, juga melantipkan afeksi. Pelbagai dosa masa silam seakan-akan mencuat di kepala dan ingin ditebus pada hari itu. Selang beberapa menit, usai acara selesai, tegur-sapa antarkeluarga berlangsung.

Di zaman telepon pintar, mereka yang bersyawalan tak ingin melewatkan momen swafoto. Memperbarui status media sosial juga hal yang biasa dilakukan. Linimasa Facebook, Twitter, dan Instagram dipenuhi foto kehangatan keluarga. Itupun ditambah dengan bubuhan kalimat yang sentimentil. Idul Fitri di era disrupsi, dengan kata lain, juga berarti selebrasi media sosial.

Yang tak luput dari pandangan Idul Fitri di kampung halaman adalah kesibukan menatap layar Smartphone. Mereka hadir secara fisik tapi pikirannya masih masuk di jagat maya. Entah sekadar membalas ucapan selamat lebaran atau hanya mengamati status media sosial orang lain. Habituasi tahunan tersebut bukan hal baru oleh karena seringkali terjadi pada situasi lain.

Kesibukan bermain gawai pintar menandakan perbedaan mencolok Ramadan mutakhir dengan Ramadan dua dekade sebelumnya. Kenyataan modern tersebut di satu sisi menjelaskan betapa teknologi mutakhir menyelinap rapat di sela-sela tradisi arkais, namun di sisi lain dijadikan biang kerok perenggangan sosial. Jelas dikatakan demikian karena seperti ungkapan belakangan ini: gawai menjauhkan yang dekat, tapi mempertautkan yang jauh.

Baca juga  Mendudukkan Hierarki Realitas

Angpau di zaman Revolusi Industri 4.0. ini turut pula berubah. Perubahan ini bukan secara fisik, melainkan tuturan pemberi. Ucapan “Le, Nduk, iki dinggo tuku mbanggulo, yo”—“Nak, ini (angpau) buat beli permen, ya”—sudah jarang didengar walau tak berarti sirna sama-sekali.

Sekarang kalimat khas itu berubah tak lagi diberi uang untuk beli permen atau baju, tetapi untuk beli kuota internet. Ini sungguh-sungguh terjadi. Setidaknya menurut pengalaman penulis.

Kuota internet telah diposisikan sebagai kebutuhan primer. Kenyataan demikian mengemuka seiring dengan munculnya teknologi informasi dan komunikasi. Simbolisme uang dan pertautannya dengan permen tergantikan oleh kuota internet.

Keadaan ini pun menggeser keras eksistensi pulsa yang sejak telepon genggam viral di masyarakat. Pulsa mulai ditinggalkan karena sekadar menawarkan kesempatan sms dan telepon, sedangkan kuota internet menyajikan pusparagam yang lebih menggiurkan.

Pantas kalau generasi tua yang memberi angpau sebab sudah melek literasi media sehingga tak gagap mengatakan orientasi uang untuk beli kuota. Orang tua telah meneropong selera kawula muda yang mustahil terlepas dari kuota internet. Ia mafhum, bila generasi mudanya itu, alih-alih membeli permen, malah bila diberi uang langsung dibelanjakan kuota berekstensi puluhan gigabyte.

Kuota internet bak Dewi Fortuna yang merekatkan tali silaturahmi. Andai ada sanak saudara tak bisa mudik, dengan kuota internet, ia dapat berkomunikasi visual jarak jauh meski sebatas layar telepon pintar. Setidaknya teknologi canggih itu, disadari atau tidak, kini diam-diam mentradisi di Hari Raya Fitri.

*Peneliti Pendidikan Literasi Yogyakarta

Sumber gambar: pinterest.com

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of