Penyebaran Islam Radikal di Media Online Massif, Savic Ali: Zamannya Gagasan, Ideologi, dan Tafsir Dipertarungkan

  • 28
    Shares

Penyebaran Islam Radikal di Media Online Massif, Savic Ali: Zamannya Gagasan, Ideologi, dan Tafsir Dipertarungkan

Salah satu fenomena yang menandai kemunculan radikalisme Islam di Indonesia adalah adanya laman, akun media sosial, portal online, dan badan penerbitan dengan basis wacana Islam yang digunakan untuk mempropagandakan wacana Islam garis keras, hatespeech, ideologi kekerasan, sampai pendirian negara Islam.

Hal tersebut diungkapkan oleh Nafi’ Muthohirin dalam Radikalisme Islam dan Pergerakannya di Media Sosial yang diterbitkan di jurnal Afkaruna: Indonesian Interdisciplinary Journal of Islamic Studies (2015). Merujuk pada Khamami Zada, sebagian produk penerbitan dan media online tersebut berasimilasi dengan organisasi atau individu berbasis wacana Islam dengan orientasi radikal.

Dalam riset yang dilakukan oleh Alvara Research Center terhadap 1.200 responden dari kalangan profesional, 1.800 mahasiswa, dan 2.400 siswa SMA di tanah air. Mengungkapkan, salah satu tokoh agama yang menjadi idola dan panutan mereka adalah Khalid Bassalamah dengan prosentase 4,3 persen di kalangan profesional, 5,3 persen di kalangan mahasiswa, dan 0 persen di kalangan siswa SMA. Hanya tertaut sedikit dari KH. Ahmad Musthofa Bisri dengan prosentase 5,9 persen di kalangan profesional dan 5,9 persen di kalangan mahasiswa. Sementara itu, pada semua kalangan, tercatat Felix Siauw lebih unggul, baik dari tokoh Nadlatul Ulama (NU) maupun Muhammadiyah, organisasi Islam moderat di Indonesia.

Pada Jum’at (25/05) wartawan ARENA, Syakirun Ni’am, berkesempatan melakukan wawancara dengan Savic Ali, Direktur NU Online dan CEO Islami.co melalui Whatsapp. Savic sendiri aktif mengamati dan mencounter pergerakan wacana ekstrem di media online. Selain itu, NU Online juga menjadi satu dari sepuluh media online Islam yang mengangkat semangat kebangsaan. Sementara sembilan lainnya tidak. Berikut ini wawancara tersebut.

Bagaimana penyebaran wacana ekstrem di media online?

Iya, pertama, sekarang aliran yang ada berbeda-beda, maksudnya kategorinya. Misal ekstremisme kekerasan, misal pro terorisme atau radikalisme. Artinya kelompok yang khilafah atau syariat Islam kan ingin perubahan sistem tatanan sosial politik. Atau sekedar kelompok intoleran. Kelompok intoleran, ya, sebenarnya mereka tetap berpayung Pancasila. Nah, ini kan ada banyak macem. Atau yang ultra konservatif Islam berbentuk Salafi Wahabi yang pada dasarnya nggak pernah ngomong politik. Tapi nilai-nilai yang dikembangkannya bertentangan dengan multikulturalisme dan semangat kebangsaan. Ini ada beda-beda, jadi mana yang mau dipecahkan?

Mungkin intoleransi dan ujaran kebencian…

Kalau urusan intoleransi dan ujaran kebencian, kita harus akui memang dunia media sosial, website, Youtube kita, itu dipenuhi oleh konten-konten yang saya kira punya tendensi intoleran. Dia tidak bisa menerima perbedaan pandangan, tidak bisa menerima perbedaan aliran, memaksakan supremasi muslim, dan memandang warga kalangan non Islam sebagai warga negara kelas dua. Itu kan diskriminatif dan intoleran kan? Website kita dipenuhi itu. Website-website Islam di Indonesia dipenuhi oleh yang ultra konservatif, Wahabi, sama web-web Islam Politik yang selalu mengeksploitasi isu keagamaan.

Nah, itu yang terajadi. Jadi kalau kita nyari apa di Google terkait kata kunci Islam, ya, larinya antara ke web-web Wahabi atau yang Islam Politik ini. Nah, web  seperti NU Online itu seperti satu-satunya website yang ada di sepuluh besar yang mempromosikan semangat kebangsaan. Yang lain, di sepuluh besar itu tidak ada ada yang mempromosikan semangat kebangsaan.

Apakah jumlah website ekstrem kanan banyak?

Jumlahnya banyak. Tetapi yang dibaca oleh puluhan ribu atau di atas lima puluhan ribu orang perhari itu jumlahnya puluhan, nggak sampai ratusan. Yang lain, ya, jumlahnya puluhan.

Kami sedikit mengamati, di Youtube mereka juga massif mengunggah video ceramah dengan pesan-pesan yang provokatif

Di Youtube ustaz-ustaz yang konservatif lebih dominan, non politis, namun konservatif. Seperti Khalid Bassalamah. Lebih dominan ustaz-ustaz seperti itu. Tapi kalau yang intoleran, sebenarnya tidak banyak. Tapi karena iklim politiknya lagi begini, itu jadi ditonton banyak orang. Karena iklim politiknya lagi panas, konten-konten yang intoleran itu ditonton banyak orang. Tapi sebenarnya jumlah ustaz (sebenarnya) nggak segitu banyak.

Tetapi dibanding kalangan moderat, ya, mereka menang. Karena memang masih sangat sedikit kiai-kiai, ulama, atau intelektual moderat yang ada di Youtube.

Anda kan di PBNU, dan PBNU sendiri berkomitmen menyuarakan Islam moderat. Apa penyebabnya ulama NU kurang mendapat, atau, dalam ungkapan lain, merebut panggung di media online?

 NU kan basisnya masyarakat rural, pedesaan, ya. Mendapatakan akses internet juga belakangan. NU tertinggal. Sementara kelompok-kelompok ini kan berangkat dari latar belakang urban, kelas menengah yang mana mereka punya akses internet lebih dahulu dari pada wilayah pedesaan yang dihuni oleh mayoritas NU. Kedua, rata-rata kiai NU ini sudah punya madrasah (lembaga pendidikan), sudah punya pesantren yang diurus. Dan mereka memprioritaskan jamaah offlinenya ini sehingga tidak begitu ngeh untuk bermain di online. Kalau ustazustaz Wahabi, mereka tidak punya pesantren, jadi mereka membangun konstituennya lewat online. Karena mereka memang tidak punya jamaah. Sementara kiai NU kan sudah punya. Nah, itu yang menjadi penyebab kedua kenapa kiai-kiai NU agak tertingal di dunia online.

Sekarang sudah mulai. Dari Ramadhan tahun lalu banyak sekali pesantren NU yang live streaming ngaji Ramadhan, dan sekarang mulai banyak. Ya, startnya terlambat, tapi sudah mulai banyak kesadaran untuk menggunakan teknologi.

Tapi pada akhirnya, penyebaran wacana radikal di luar basis NU, di luar audiens pokok NU itu jadi masalah buat NU sendiri juga?

Ya, ya, ya. Tentu saja  berdampak pada NU, karena ultra konservatisme ini kan bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar NU. Seperti tawashut, tawazun, tasamuh. Dan dia mengancam masa depan Indonesia.

Apakah di kalangan muda NU sendiri ada semacam penggalakan penyebaran wacana  moderat di media sosial atau web dengan memproduksi konten-konten yang kreatif?

Ya, di generasi muda mulai banyak. Banyak anak-anak ini yang bikin website, video pendel’ termasuk di Instagram. Ya, kita terlambat, tapi sudah memulai. Cuma, masalah ini kan yang membuat rumit karena berkelindan dengan politik. Jadi, orang memandang ini hanya diakibatkan oleh ustaz-ustaz yang radikal. Tidak. Ini berkelindan dengan poltik. Ada banyak kelompok-kelompok politik yang berkampanye dengan sentimen keagamaan, meskipun pada dasarnya mereka secara keagamaan tidak radikal atau menganut fundamentalisme.

Apa hambatan terbesar dalam membesarkan website sehingga bias seperti NU Online?

Hambatan terbesarnya kan mengelola media itu memang tidak mudah. Butuh tim yang dedicated, konsisten, dan kerjaan media, menulis, itu kerjaan tiap hari. Ya, kalau tidak ada tim yang “militan” atau profesional, ya, nggak. Jadi orang NU yang banyak mengerjakan hal semacam ini kan voulentery. Karena mereka kan memang punya tanggung jawab utama mengerjakan hal yang lain. Jadi, tidak mudah membangun tradisi ini.

Selain urusan digital kan hal baru di kalangan Nahdhiyin, sehingga bagi mereka, namanya editing video itu hal yang asing di kalangan banyak santri. Jadi, ya, tantangannya tidak mudah. Membangun tradisi dengan teknologi itu tidak mudah.  Membawa NU dari yang analog ke yang digital itu tidak mudah.

Kami lihat hasil surveynya Alvara Research Center dari MataAir Foundation, di tahun 2020 ada kenaikan nominal generasi milenial usia sekitar 15-39 tahun yang itu pastinya aktif menggunakan gadget. Golongan itu meningkat hingga 34 persen dari penduduk Indonesia, yang berarti jumlahnya sangat banyak. Bersamaan dengan itu, peredaran wacana esktrem di media online begitu massif. Bagaimana Kang Savic melihat fenomena itu?

Ya, ini tantangan. Tantangan buat kelompok muslim moderat di Indonesia. Tidak hanya NU, tapi juga Muhammadiyah dan beberapa kalangan intelektual kampus. Ini tantangan, bahwa memang ke depan akan semakin banyak orang yang benar-benar menjadikan handphone itu sebagai sumber informasi utama, dan, itu berarti juga memeberi peluang kepada kelompok-kelompok garis keras, kanan garis keras, saya pake istilah garis keras saja.

Mereka juga punya peluang menyebarkan gagasannya di kalangan generasi muda. Tapi itu juga peluang buat kita. Kita juga punya  kesempatan yang sama menjangkau generasi muda ini. Tinggal siapa yang militan, siapa yang konsisten, siapa yang istiqomah, siapa yang mampu mengerjakan itu dalam sekala yang lebih besar. Ya, ini memang zaman yang terbuka, di mana kontestasi gagasan, ideologi, dan tafsir itu dipertarungkan.

Kalau di NU sendiri semacam memobilisasi (seharusnya mengorganisir) katakan IPNU atau IPPNU untuk melakukan kerja-kerja tersebut?

Ya, nggak semudah itu. Kan tidak semua punya tradisi nulis. Tidak semudah itu. E, ini kerja  intelektual, tidak bisa mobilisaisi. Mobilisasi itu hal-hal yang sifatnya mungkin tidak intelektual. Kerja intelektual tidak pernah menuntut pekerjaan yang bisa dikerjakan semua orang.

Bikin video keislaman kan butuh pengetahuan. Iya, kan? Narasumbernya sendiri harus mempunyai pengetahuan keislaman. Kemudian, yang ngambil gambar harus ada pengetahuan teknis urusan video. Ini pengetahuan-pengetahuan yang baru, yang belum akrab di lingkungan warga NU. Santri, ya, (nggak) belajar video, anak-anak IPNU juga nggak.

Lalu, persoalan wacana toleransi dan intoleransi ini digunakan untuk komodifikasi politik bagaiamana?

Ya, tadi sudah Saya jelaskan. Polarisasi ini semakin tajam. Hatespeechnya kian tajam karena ada peran aktor-aktor politik. Nah, itu, bukan hanya peran kelompok-kelompok radikal dan kelompok fundamentalis. Ini ada peran politik, dan ini membuat situasinya menjadi lebih sulit.

Kami melihat, satu kubu dia menggandeng kalangan yang cenderung ekstrem, satu kubu lainnya menggandeng yang lebih moderat. Bagaiamana Kang Savic melihat fenomena itu?

Ya, memprihatinkan. Tapi itu ralitas yang harus kita lihat. Sebenarnya yang berjalan mungkin masih bisa ditangani. Namanya hatespeech itu kan harusnya ditindak secara hukum karena itu membahayakan banyak orang. Tapi, kalau tidak ada tindakan apa-apa, ya, kita bisa jatuh dalam polarisasi yang lebih tajam atau konflik horizontal.

 

Reporter: Syakirun Ni’am

Redaktur: Fikriyatul Islami

Sumber gambar: nu.or.id

Komentar

komentar

Baca juga  Kepleset Eiy: Seniman Jangan Hanya Berhenti Pada Karya!

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of