Pare Undercover

Pare Undercover

  • 1
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    1
    Share

Pare Undercover lpmarena.com

Oleh: Sholehatul Inayah*

Jika Anda mengenal Pare sebagai Kampung Inggris, kampung sejuta kursus, dan sejuta kenangan; yang dikunjungi ribuan orang dari dalam dan luar negeri, yang membuahkan orang-orang fasih berbahasa asing; Saya melihat yang lain. Barangkali sebuah konsekuensi dari perjalanan pembangunan suatu wilayah yang tidak berimbang. Suatu akibat dari pembacaan pemerintah daerah yang rumpang. Maka inilah kesaksian Saya, semacam Pare undercover.

Beberapa hari berada di Pare, rasa takjub akan tempat ini membuat saya betah dan bertahan. Alam, teman gagal mesra satu pesantren saat SMA, sudah menetap di sini selama kurang lebih satu tahun. Dia mengenal setiap sudut tempat ini sampai jalan tikusnya. Barangkali dia juga punya lis titik-titik kakus dan alamat mbah dukun pembaca mantra yang dia rahasiakan dari kami.

Ada sesuatu yang kurang menyenangkan ketika pertama kali berkenalan dengan kampung ini. Dalam salah satu pengantar essainya, Udji Kayang A.S menyebutkan bahwa “Kota pada mulanya adalah citra.” Begitupun desa atau kampung. Wajah Kampung Inggris kala itu sungguh tak ramah dengan pendatang baru. Tentu saja ini di luar imajinasi Saya tentang Pare. Adalah pengamen dan pengemis begitu jamak dan mudah kita jumpai di jalan-jalan. Jadi begini realitas riil, bisa begitu berjaraknya dengan realitas media massa atau realitas informasi lisan tentang Pare.

Kisah Alam di Wakapo

Menanggapi kegelisahan Saya, Alam mengisahkan pengalamannya. Di satu malam, dia bersama dengan tiga temannya yang kelaparan memutuskan mencari tempat makan. Mereka bukan anak kos elit dengan kamar mandi dalam dan freezer, karenanya tempat makan yang dipilih adalah Wakapo. Kependekan dari Warung Makan Pojok yang mengusung sistem prasmanan dan harga merakyat. Baru beberapa menit menunaikan ibadah dinner, seorang pengamen menghampiri. Salah satu teman Alam merogoh kantong, kemudian memberikan receh 500 rupiah. Lima menit berselang, datang lagi seorang pengamen lain. Tiba giliran Alam merogoh isi dompet.

Baca juga  Menyoal Buruh dan Kampus Tercinta

Kejadian itu berlangsung hampir setiap lima menit sekali dan sempat membuat empat sekawan itu jengkel.

“Aku jengkel banget, apalagi saat satu di antara pengamen-pengamen itu memaksa untuk diberi uang. Mereka hanya pergi kalau sudah mendapatkan apa yang mereka minta,” gerutu Alam.

Duh, Alam, namanya juga seniman pemula. Lalu dia melanjutkan, “Kalau mereka belum mendapatkannya, mereka akan terus bernyanyi hingga membuat kami bosan sebelum akhirnya mau tidak mau menyisihkan uang saku kami.”

Kepada teman-temannya, dia menceletuk, “Biaya duduk ternyata lebih mahal daripada biaya makan,” disusul tawa kecut yang lain.

Itu perkenalan awal Saya dengan Pare. Tidak jauh berbeda dengan pemandangan di warung kopi pinggiran kota Jogja.

Pengamen Muda atau Pemalak Muda?

Lalu, apa masalahnya? Bukankah pengamen adalah pekerja seni sebagaimana Al Imam Galau Rian D’massif atau bahkan Cholil Mahmudnya Efek Rumah Eska, eh, Kaca? Mereka juga menjajakan karya seni kepada khalayak. Nah, di sinilah titik permasalahannya; mereka (pengamen-red) lebih terlihat memalak daripada menjajakkan kesenian.

Ironisnya, mayoritas dari pengamen itu adalah anak-anak berusia sepuluh tahun hingga remaja. Anak-anak yang baru melewati pubertas, beberapa bulan sebelum Habib Rizieq umroh dan tak kunjung mudik. Citra Pare bagi sebagian pendatang; yang mulanya kampung sejuta kursus menjadi kampung sejuta pengamen.

Padahal remaja-remaja ambivalen notabenenya masih polos, belum bisa disebut sebagai pemuda. Mengapa? Dalam quotes buku Pahlawan-pahlawan Belia karya Saya Sasaki Shiraisi, menjelaskan perbedaan yang sangat menonjol antara makna dari pemuda dan remaja. Sasaki menuturkan, “Pandangan stereotip kontemporer tentang remaja menggambarkan mereka sebagai kumpulan orang yang belum matang, cenderung bergerombol. Kadangkala mengenakan seragam sekolah, tidak disiplin, gampang naik darah, liar, dan terutama tidak penting.” Berbeda dengan tanggapannya tentang pemuda yang secara konotatif memiliki makna yang lebih revolusioner.

Turun Tangan Pemerintah

Beberapa bulan berselang, Alam melihat sedikit tindakan dari pemerintah Pare. Ya, kita tidak tau, tindakan itu memang benar-benar untuk “mempemudakan” remaja-remaja mereka, atau mungkin hanya bentuk formalitas saja. Beberapa hari polisi berpatroli, pamflet dilarang mengamen memenuhi jalanan, pos-pos penjaga dibangun.

Baca juga  Ekspedisi Menjemput Harimau Jawa

Sayangnya, aktifitas ini hanya berjalan beberapa minggu dan akhirnya kembali seperti sedia kala. Lalu Alam bertuah, Kau tau apa kata James Bender dan Lee Graham dalam bukunya yang berjudul Your Way to Popularity and Personal Power? Mereka mengatakan, “Finally, in a matter of months, you were back where you started, having the same trouble as usual.

Kenapa itu semua terjadi? Simon Sinek dalam pidatonya menyebutkan “Consistency not intensity.” Kita bisa berkesimpulan bahwa tanpa konsistensi oleh pemerintah setempat, semua akan berakhir kembali di awal, tak peduli seberapa besar niatnya. Kok seperti Sisifus, ya?

Saat ini, pengamen, pengemis, bahkan pencuri kembali beraksi. Di camp Saya, baru sehari aktif kursus, seorang pencuri masuk dengan mudahnya. Padahal beberapa meter di depan adalah pos penjaga. Cukup sukses, ia berhasil menggaet gawai dan uang 500 ribu. Beberapa bulan yang lalu laptop Si Alam juga dicuri.

Muncullah pertanyaan susulan, bagaimana bisa seorang pencuri masuk ke dalam camp sementara di depannya terdapat pos penjaga?

Dalam pandangan yang lebih kritis, bagaimana jika pengamen, pengemis, dan pencurinya itu merupakan dampak dari pembangunan wilayah yang tidak emansipatoris? Dari pemetaan sosial pemerintah setempat yang rancu?

Kata redaktur online Saya yang pernah hidup di jalanan selama dua tahun dengan mengamen, kebanyakan dari mereka yang ngamen, mencopet, dan sejenisnya, adalah korban broken home dan ketidkahadiran pemerintah dalam hal pendidikan dan ekonomi. Bagaimana mungkin pendatang berduyun-duyun belajar bahasa asing, tes TOEFL, sampai uji IELTS, lalu lanjut S2 di luar negeri; sementara tidak sedikit warga setempatnya justru menjadi pengemis sampai pencuri? Situ yakin sehat, Om?

*Sholehatul Inayah, sedang belajar bahasa Inggris di Pare. Redaktur jangan ganggu!

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of