Dead Poets Society: Membebaskan Diri dengan Puisi

Dead Poets Society: Membebaskan Diri dengan Puisi

  • 21
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    21
    Shares

Dead Poets Society: Membebaskan Diri dengan Puisi lpmarena.com

Berkali-kali saya menonton film ini dan tidak juga bosan. Film dengan konten kritik atas sistem pendidikan asal Amerika ini berjudul “Dead Poets Society” yang dirilis tahun 1989. Entahlah, bagi orang anti drakor klub macam Saya, film ini menarik dikaji secara mendalam.

Diceritakan, lembaga elit konservatif Welton Academy di Vermont pada tahun 1959 adalah sekolah khusus laki-laki berasrama. Berpedoman prinsip tradisi, kehormatan, disiplin, dan prestasi, bisa dikatakan lingkungan semacam ini memiliki tuntutan sosial yang tinggi. Di mana kontrol kekuasaan terhadap masyarakat sekolah dan individunya telah berada pada posisi yang mapan.

Namun sebagaimana kisah dalam fakta sejarah yang panjang, dalam bentuk masyarakat dan dominasi yang terus berkembang; tetap saja kita dapat menemukan orang-orang yang menyimpang. Seolah baik sejarah maupun Tom Schulman, penulis naskahnya, menyatakan bahwa suatu masyarakat tidak pernah bisa ditaklukkan seluruhnya.

Adalah Neill Perry (Robert Sean Leonard) anak dari seorang ayah yang kolot dan totalitarian, bersama teman sekamarnya bernama Todd Anderson (Ethan Hawke), laki-laki berwatak kaku. Mereka dipertemukan dengan Keating (Robin Williams), seorang guru Bahasa Inggris yang nyeleneh; akan menjadi lintasan peristiwa utama pada film yang diangkat dari kisah nyata ini.

Suatu pagi ketika awal dimulainya kelas, Keating meminta seorang siswa membacakan pengantar dari buku puisi yang menjelaskan bagaimana mengukur kualitas suatu puisi melalui skala. Metode ini sudah umum dalam literatur klasik waktu itu. Sebaliknya, Keating justru memerintahkan agar muridnya merobek halaman pengantar buku tersebut. Metode pembelajaran yang asyik dan cara berpikir Keating yang bebas dari bentuk-bentuk yang menstabilkan seseorang agar berada dalam suatu garis tertentu, membuat siswa terkesan dan membangun gairah baru di dalam kelas.

Pada suatu pertemuan, Gerard Pitts, salah seorang siswa di kelas itu, membacakan penggalan awal puisi To The Virgins, to Make Much Time karya Robert Herrick, sastrawan Inggris kelahiran 1951; Gather ye rosebuds while ye may, old time is still a flying, and this same flower that smiles today, tomorrow will be dying.

Kemudian Keating menanggapinya dengan berkata, ”Kumpulkan bunga mawar selagi kau bisa dan sama saja dengan kata Carpe Diem, petiklah hari dan percayalah sedikit akan hari esok.”

Satu kalimat terakhir tidak lain merupakan sepotong puisi yang ditulis oleh Quintus Horatius Flaccus, seorang pujangga yang hidup pada era kaisar Agustus, sekitar 65-68 SM. Dari Horatius ini lah frasa Carpe Diem yang berarti “petiklah hari” muncul untuk pertama kali.

Dia melanjutkan, “Percaya atau tidak, sebagian atau keseluruhan dari ruangan ini suatu hari akan berhenti bernafas, kedinginan, dan mati.”

Keating membawakan pelajaran puisi dengan ruhnya dan tanpa menghilangkan sifat dasar dari puisi: membebaskan. Jauh berbeda dengan yang kita dapatkan di sekolah-sekolah pada umumnya, yang justru membunuh dan menanggalkan sifat dasar puisi serta menjadikannya tidak berbeda dengan tiang listrik di pinggir jalan.

Baca juga  Olah Rasa dan Upaya Menertawakan Kenormalan

Satu hal yang tak boleh dilewatkan adalah ketika Keating mengajak siswanya untuk melihat dokumen foto pelajaran terdahulu. Foto-foto itu mengisahkan anak remaja yang memiliki mimpi besar penuh gairah. ”Foto-foto itu semua mirip dengan kalian, kan?” tanya Keating sambil menatap wajah mereka.

Carpe diem, carpe diem!” teriaknya sambil keluar dari ruangan itu.

Saat itulah kesadaran Neill pecah. Selama ini dia hanya bisa menerima satu cara pandang saja, cara pandang yang dibentuk oleh ayahnya. Dalam hati dia memiliki mimpi-mimpi besar untuk diwujudkan; menjadi seorang aktor utama dalam sebuah pementasan drama. Namun orang tuanya yang menentukan masa depan hidupnya. Bahkan ia dilarang mengikuti kelas ekstrakurikuler dan harus lulus dalam waktu setahun.

Di sini lah yang menarik, konflik yang dibangun oleh Schulman dibenturkan dengan gagasan-gagasan yang terkandung dalam puisi para penyair. Menjadikan film ini bagai sebuah arena dialektika antara pendisiplinan fisik dan gagasan oleh sistem dominan dengan puisi dari berbagai zaman.

Seperti bagaimana kekangan hidup yang diterima Neill dibenturkan dengan puisi Walt Whitman, penyair kenamaan Amerika abad ke 19. Bunyinya, ”O, hidup adalah sebuah pertanyaan yang berulang-ulang dari perjalanan yang tak berujung dan ketidaksetiaan, serta kota yang penuh dengan kebodohan bahwa sebuah kehidupan itu memliki ciri khas dan mungkin kalian akan menjadi peran utama.”

Dengan kata lain, perlawanan yang dilakukan terhadap struktur sosial yang dominan dilakukan menggunakan puisi. Bagaimana membangun pembangkangan dengan kepercayaan bahwa kata-kata bisa menjadi jimat, meresap dalam kesadaran seorang subjek hingga akhirnya menjadi sebuah tindakan praktik sosial. Sebagaimana Keating bilang, “Tidak masalah orang-orang menganggapmu apa, kata-kata dapat mengubah dunia. Kita hidup dengan banyak ilmu seperti kedokteran, hukum, teknik. Tetapi puisi?”

Seluruh film ini adalah proses penyadaran, di mana para siswa melihat bahwa otoritas lembaga dapat dan selalu berupaya menjadi pengarah. Tetapi, hanya diri sendiri yang dapat mengetahui siapa kita sebenarnya.

Menghidupkan Kembali Dead Poets Society

Di meja makan khusus siswa terlihat Neill baru datang dari perpustakaan. Ia membawa buku tahunan yang mengutip Keating. Dia adalah kapten sepak bola di dalam buku itu. Jelas di buku tertulis bahwa Keating adalah editor dari sekolah Cambridge, penulis Thigh Man dan Dead Poets Society. Mereka tertarik dengan kata Dead Poets Society, tetapi mereka kecewa karena tidak menemukan keterangan-keterangan yang mendukung.

Siang hari, setelah makan siang, Neill Perry, bersama dengan Todd Anderson, Knox Overstreet, Charlie Dalton, Richard Cameron, Steven Meeks dan Gerard Pitts menemui Keating di lapangan. Kemudian Neill bertanya “Apa itu Dead Poets Society, Pak?”

Baca juga  Yuk!! Ikut Bedah Buku Puisi

Jawaban Keating membuat mereka penasaran. Dead Poets Society merupakan klub Keating pada masa dia bersekolah di Welton Academy. Keating sendiri takut, sebab ini adalah rahasia besar. Pasalnya, bagi Keating, dead poets adalah ungkapan hakikat cara memandang kehidupan. Ia berkumpul dengan temannya di sebuah gua Indian membaca karya-karya Thoreau, Whitman, Shelley; dan ia mengatakan dalam pesona saat itu, puisi mampu hidup dengan sihirnya.

Menurutnya, perkumpulan itu bukan gerombolan pembaca puisi, melainkan perkumpulan orang romantik. Namun di luar dugaan, Keating meminta agar buku tersebut dibakar.

Neill, yang baru saja menemukan semangatnya, mengajak keenam temannya agar menghidupkan kembali klub tersebut dan belajar di luar asrama. Gua adalah tempat sasaran Neill untuk berkumpul dan membaca puisi secara bergiliran bersama temannya. Mereka mengendap-ngendap dalam kegelapan malam menuju sebuah gua. Kemudian menjalankan ritual membaca puisi secara bergilir.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa, kelas Keating berjalan penuh gairah. Sampai Neill mendapatkan informasi tentang pementasan drama dan ia sangat ingin menjadi pemeran utama. Ia memasuki kamar dan menceritakannya kepada Todd tetapi sahabatnya itu tidak senang dengan kemauan Neill.

“Bagaimana kalau ayahmu tidak menyetujuinya, Neill?” kata Todd dengan sedikit kecewa.

Neill, sangat marah dengan perkataan Todd saat itu, ia menganggap bahwa Todd tidak menjadi sahabat yang mendukungnya.

Todd berusaha menasehati Neill agar tak ikut drama itu, tetapi Neill bersikeras karena ia adalah tokoh utama. Malam harinya, mereka yang merupakan anggota Dead Poets Society berangkat bersama Pak Keating, kecuali Knox yang berangkat bersama Chris. Penampilan Neill memukau penonton. Namun puncak masalah justru datang; ayah Neill melihat pertunjukkan drama tersebut. Neill dipaksa pulang ayahnya dan akan dipindahkan ke akademi militer.

Sesampainya di rumah, kesedihan, kecemasan, dan keputusasaan Neill terus memuncak. Di kamar Neill menatap mahkota yang dipakai saat pentas drama, ia merenung. Dalam suasana mencekam, dia berjalan ke ruang kerja ayahnya sambil memegang pistol dan mengakhiri hidupnya sendiri.

Keesokan harinya doa bersama dilakukan oleh Welton Academy dan Keating dipecat. Saat Keating berpamitan kepada siswanya, Todd berdiri di atas meja. Diikuti siswa lainnya, mereka memekik, ”O, captain, my captain. Carpe diem!”

Judul Film: Dead Poets Society | Tahun Rilis: 1989 | Durasi: 128 menit | Sutradara: Peter Weir | Penulis: Tom Schulman | Negara: Amerika | Bahasa: Inggris | Pemain: Robin Williams Robert, Sean Leonard, Ethan Hawke, Josh Charles, Gale Hansen, James Waterston, Norman Lloyd, Kurtwood Smith | Peresensi: Mifta Kharisma

Gambar: jxteacher.com

Komentar

komentar

3
Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of

Kerennn….

keren sekali