Indonesia Krisis Toleransi; “Jangan Benci Orangnya tapi Perbuatannya”

  • 19
    Shares

Indonesia Krisis Toleransi; “Jangan Benci Orangnya tapi Perbuatannya”

Lpmarena.com Toleransi atau tenggang rasa menjadi topik yang sedang hangat dibicarakan di Indonesia saat ini. Mengingat semakin maraknya berbagai kasus intoleran di Indonesia khususnya dalam beragama, Ustaz Abdul Karim, seorang mahasiswa S2 Universitas Islam Madinah bersama Yayasan Islam Ibnu Abbas Pariaman menggelar kajian Islam dengan tema “Nasehat dalam Beragama.

“Jangan membenci orangnya, tetapi benci perbuatannya,” ungkap Abdul Karim, dalam ceramahnya di masjid Al-Ikhlas, Pariaman, Sumatera Barat, Jumat (6/7).

Abdul Karim menuturkan bahwa Indonesia mengalami krisis toleransi antarumat beragama. Seperti peristiwa bom bunuh diri yang terjadi di Surabaya bulan April lalu, penyerangan ulama di beberapa tempat, perusakan masjid dan gereja, belum lagi perdebatan dan kekacauan masalah penistaan agama. Hal tersebut karena adanya sikap saling membenci antarumat beragama, benci akan perbedaan.

Fenomena ini juga ditanggapi oleh ustaz yang ceramahnya banyak beredar di Youtube dengan subscriber terbanyak, Khalid Basalamah. Ungkapannya Islam adalah agama yang mulia dan tidak mengajarkan membenci sesama manusia.

Orang di luar agama Islam dan mengingkari Allah disebut “kafir“. Kekafiran ini menjadi kata sifat yang ada pada mereka, apabila sifat ini hilang, maka lenyaplah predikat kekafiran. Jadi dalam Islam yang layak dibenci adalah sifat (keyakinan), bukan subjek yang melakukan.

Ia mengungkapkan dalam salah satu vlog yang telah ditonton sebanyak 2.324 kali bahwa seorang Muslim tidak boleh sembarang membenci, memburu dan memerangi seseorang. Jika seorang non muslim menyakini Allah tidak beranak kemudian membaca dua kalimat syahadat, maka dia telah Islam dan menjadi saudara. Namun jika belum bersyahadat, maka ia harus didakwahi dan dibenci keyakinannya. Sekali lagi yang harus dibenci adalah perilaku-perilakunya, bukan orangnya.

Baca juga  URGENSI TRILOGI KERUKUNAN

Pendakwah asal Makassar itu juga mengungkap bentuk toleransi yang boleh dilakukan muslim. Diantaranya adalah bermuamalah dengan non muslim, bertetangga, menyambung silaturahmi, menjadikan mereka partner kerja, bersahabat dan berteman selama tidak berhubungan dengan keyakinan. Tidak ada toleransi dalam hal keyakinan, yang diperbolehkan hanyalah jika berhubungan dengan masalah sosial dan muamalah.

Dalam ceramah tersebut, disampaikan pula tentang perilaku Nabi Muhammad yang lembut terhadap orang kafir. Kafir di sini adalah Kafir Dzimmi, yaitu orang non muslim yang berada dalam naungan pemerintah Islam, seperti turis dan warga non muslim di sekitar tempat tinggal. Nabi juga bersikap tegas pada orang kafir, yakni Kafir Harbi, kafir yang hendak memerangi Islam. Kepada mereka seorang muslim wajib menghadapinya di medan perang.

Lebih lanjut ia menegaskan, jika muslim memang diharuskan berjihad untuk memerangi Kafir Harbi, harus dengan cara yang baik dan sesuai wahyu. Nabi Muhammad sebelum berjihad selalu berpesan, agar jangan membunuh orang tua, wanita, anak-anak, orang-orang yang mengaku menyerah, hewan, jangan rusak tempat ibadah, tanaman, dan jangan rusak fasilitas umum. Jelas sekali bahwa jihad yang dilakukan teroris sangat berlawanan dengan pesan nabi ini.

Ustaz keturunan Tionghoa, Felix Siauw menyampaikan dalam vlognya, toleransi kaum muslim telah tertuang dalam surah Al-Kafirun, yakni pada ayat 6, “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” Bahwa toleransi dalam Islam terhadap non muslim adalah membiarkan mereka mengerjakan ibadah dan merayakan hari raya mereka tanpa ikut campur.

“Toleransi sesungguhnya adalah kita mengetahui ibadah-ibadah kita, bagaimana sikap kita terhadap orang lain bukan memaksa orang lain beribadah seperti kita,” ungkapnya dalam vlog yang ditonton sebanyak 22.428 kali.

Baca juga  Tiga Pertanyaan untuk Bangsa Indonesia

Toleransi umat muslim terhadap Nasrani dalam perayaan Natal bukan berarti mengikuti perayaannya, memakai atribut Natal, mengunjungi atau mengucapkan selamat Hari Natal. Toleransi membiarkan mereka merayakan hari raya mereka tanpa ikut campur di dalamnya karena hal ini merupakan perihal akidah. Termasuk haram jika muslim mengikutinya. Toleransi dalam Islam menyakini Allah satu dan tidak memaksa agama lain mengakui Allah itu satu. Maka jika seorang muslim mengajak pada Islam, itu merupakan bentuk dakwah.

 

Reporter: Kristin

Redaktur: Fikriyatul Islami

Gambar: tribunnews.com

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of