Jelang Sidang Penggusuran, Warga Bara-Baraya Gelar Mimbar Rakyat

  • 26
    Shares

Jelang Sidang Penggusuran, Warga Bara-Baraya Gelar Mimbar Rakyat

“Mungkin kalian pengendara yang melalui jalan ini bertanya-tanya ada apa di sini? Maka saya beritahukan bahwa warga Bara-Baraya akan digusur oleh mafia tanah!” Seru seorang warga yang berdiri di depan posko.

Lpmarena.com Warga Bara-Baraya menggelar mimbar rakyat untuk mempererat solidaritas warga menjelang sidang kesimpulan pada hari Selasa (10/7) nanti. Acara tersebut diselenggarakan oleh warga setempat dan mahasiswa pada hari Sabtu (7/7) pukul 19.00 WIB di depan posko Bara-Baraya, Makassar, Sulawesi Selatan.

Dimulai dengan sambutan dari salah satu tokoh sebagai wakil warga, Andarias, menceritakan tentang kronologi penggugatan KODAM VII/WRB kepada warga Bara-Baraya yang akan digusur padahal memiliki surat berupa akta jual-beli.

Pada awalnya penggusuran tersebut hanya berlangsung pada warga yang menempati wilayah Asrama KODAM VII/WRB. Namun, setelah wilayah asrama tersebut digusur pada 13 Desember 2016, dua bulan setelahnya KODAM VII/WRB menggugat warga yang berada di luar asrama. Andarias mengaku didatangi oleh pihak KODAM VII/WRB dan diminta memilih antara dua opsi: menerima uang ganti rugi atau digugat di pengadilan.

Ia sempat kaget, baru kemudian setelah itu muncul desas-desus bahwa tanah di luar asrama akan digusur. Namun, hingga saat ini warga di luar asrama KODAM VII/WRB masih mampu mempertahankan tanahnya karena solidaritas yang mereka jaga selama masa persidangan. Andarias berharap bahwa solidaritas tersebut terus dijaga.

Hal senada disampaikan oleh tim kuasa hukum LBH Makassar. Sepanjang persidangan, warga memang telah mendapat capaian-capaian baik. Namun, warga tetap harus menjaga solidaritas menjelang sidang kesimpulan hari Selasa (10/7) nanti.

“Jika warga tidak kompak dalam mengawal persidangan ini, teman-teman tergugat akan terus diganggu,” tegas tim kuasa hukum LBH Makassar.

Ihsan Masdar, panitia acara ketika didatangi ARENA selepas acara menyatakan bahwa sejauh ini solidaritas warga sudah cukup baik. Capaian-capaian yang diperoleh juga cukup baik. Namun, masih terlalu cepat untuk mengatakan bahwa harapan untuk menang akan tercapai, “Karena yang kita lawan ini pemilik modal,” pungkas Ihsan.

Acara dimeriahkan dengan pembacaan puisi dan akustik dari mahasiswa serta warga setempat yang tergugat. Muhammad Ihsan Masdar selaku master of ceremony menjelaskan bahwa acara itu memang dirangkai untuk menarik simpati warga.

 

Reporter: Muhammad Sidratul Muntaha

Redaktur: Fikriyatul Islami

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of