Ketika Warna Kulit Menentukan Nasib Manusia

Ketika Warna Kulit Menentukan Nasib Manusia

  • 14
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    14
    Shares

“Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya.. hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya.”

Kalimat itu ditulis Harper Lee dalam novelnya, To Kill a Mockingbird. Mengambil seting di Kota Maycomb County, kota pemukiman tua di pinggiran Alabama, Amerika Serikat tahun 1930-an ketika Great Depression melanda. Cerita berpusat pada kehidupan keluarga Atticus Finch, seorang pengacara lokal yang memiliki seorang putra dan putri; Jeremy Finch (Jem) dan Jean Louise Finch (Scout).

Scout Finch yang berumur enam tahun memiliki rasa ingin tahu yang terlalu besar, dengan sifatnya tersebut ia tidak segan menanyakan apapun, terutama pada Atticus. Tumbuh besar tanpa sentuhan ibu mengakibatkan ia menjadi gadis cilik yang tomboy. Bahkan ia tidak ragu menggunakan kekerasan ketika keadaan mendesak. Karena yang terakhir ini dia sering mendapat teguran oleh ayahnya.

Kakaknya, Jem Finch, beranjak remaja ketika novel ini dimulai. Bagi  Scout, kakaknya yang hanya berselisih empat tahun lebih tua merupakan teman bermain dan tempat mengadu. Walau belakangan ia merasa Jem makin mirip ayahnya dan terasa menyebalkan. Bersama Dill Harris, teman musim panas mereka yang berasal dari Missisipi, mereka mendapat kesenangan baru dengan menyelidiki Boo Radley yang tidak pernah sekalipun meninggalkan rumahnya di Radley Place.

Sebagai pengacara, Atticus Finch, tidak pernah membeda-bedakan orang yang akan dibelanya. Sebagai seorang ayah, ia tidak pernah mengajarkan keberpihakan kepada anak-anaknya. Ia mendidik anaknya dengan caranya sendiri; seperti diungkapkan Scout, Atticus bermain bersama kami, membaca untuk kami, serta menghormati kami dengan tidak mencampuri urusan kami.

Kehidupan keluarga Atticus biasa saja, ia bekerja, anak-anaknya juga bersekolah dengan baik. Namun semua mulai berubah ketika Atticus memutuskan untuk menjadi pengacara Tom Robinson, seorang kulit hitam yang dituduh memperkosa Mayella Ewell, anak dari Bob Ewell, seorang kulit putih yang dicap sebagai sampah masyarakat. Karena itu, Atticus yang juga seorang kulit putih, dianggap ‘cari penyakit’.

Baca juga  Pengumuman Penerimaan Anggota Baru LPM Arena 2016 (Gelombang I)

Rasisme terhadap Kulit Hitam

Pada tahun 1930-an, Amerika diselimuti racial segregation. Paham rasisme kulit putih terhadap kulit hitam mengalir di semua aspek kehidupan bermasyarakat; mulai dari pekerjaan hingga pelayanan umum dibedakan berdasarkan warna kulit. Uniknya, dalam menjelaskan itu Harper Lee menggunakan sudut pandang Scout. Berbagai prasangka disematkan kepada ras kulit hitam, entah mereka bersalah atau tidak.

Prasangka jugalah yang membuat warga Maycomb memberikan pandangan negatif kepada Atticus karena mau membela seorang Nigger (julukan yang diberikan kepada kulit hitam) dengan memanggil Atticus ‘nigger-lover’. Scout dan Jem kena getahnya, mereka diejek habis-habisan oleh tetangga dan teman-teman mereka di sekolah. Bahkan Jem yang ingin meniru jejak ayahnya, kehilangan kepercayaan terhadap pelaksanaan pengadilan.

Klimaks dari kisah novel ini terletak pada saat persidangan belangsung. Atticus dengan pengalamannya sebagai pengacara kawakan menyudutkan Bob Ewell serta menyingkap fakta yang sebenarnya terjadi. Padahal masyarakat tidak berada dalam situasi dapat menerima kemenangan dari pihak kulit hitam. Akhirnya hakim tetap menjatuhkan hukuman untuk Tom.

Harper Lee menyeret pembaca memahami kondisi yang diakibatkan racial segregation. Betapa mudahnya prasangka melahirkan diskriminasi sosial dan masyarakat kehilangan rasionalitasnya sampai menentukan nasib seseorang hanya karena perbedaan warna kulit. Hanya karena ia lahir dengan warna kulit yang tidak sama dengan golongan penguasa.

Mockingbird, Simbol Kemurnian

Mockingbird yang dipilih Harper Lee sebagai perumpaan dalam judul novel, memiliki makna innocence–tidak berdosa, kemurnian. Analaogi untuk seseorang yang tidak merugikan dan menganggu orang lain. Membunuh Mockingbird yang hanya ingin berkicau, menurut Atticus sendiri dianggap sama dengan berbuat dosa, begitulah yang dia katakan pada Jem. Di berbagai resensi, ada dua tokoh yang dianalogikan sebagai Mockingbird, Tom Robinson dan Boo Radley.

Scout mulai mengerti kenyataan hidup orang dewasa. Dunia tidak hanya berwarna hitam dan putih, ia belajar memahami apa itu kompromi dan kenyataan di baliknya. Itulah pelajaran yang diterima Scout, bahwa prasangka belum tentu benar, bahwa tidak baik terlalu mencampuri urusan orang lain. Harper Lee mampu menjaga kualitas, kontinuitas dan relevansi antara judul, tema, cerita dan pesan yang ingin ia sampaikan.

Baca juga  Foto "Suasana Pemilwa 2013"

Kekuatan novel ini terletak pada narasi yang kuat dan penokohan yang tajam. Scout yang di dapuk sebagai tokoh ‘aku’ menceritakan watak tiap karakter dengan baik. Ia mengungkapkan segala sesuatu dengan jujur; tanpa motif tertentu, tanpa kemunafikan dan khas anak-anak. Namun, sebagai seorang anak berusia enam tahun narasi yang digunakan Scout terlalu dewasa untuk seukuran murid sekolah dasar.

Bab-bab awal alur cerita berjalan dengan lambat, tanpa konflik dan hanya berupa pengenalan tiap-tiap karakter. Pembaca cenderung bosan dengan alur cerita yang monoton, tidak jarang banyak yang menyerah di sini. Alur cerita mulai mengalami perkembangan di pertengahan, terlalu lambat untuk sebuah novel.

Di penghujung cerita, Boo Radley yang hampir dilupakan Jem dan Scout, menyelamatkan mereka dari Bob Ewell. Setelah harga dirinya jatuh karena kebohongannya berhasil dikuak oleh Atticus, Bob Ewell yang gelap mata berniat membunuh kakak beradik Finch. Beruntung Boo Radley datang disaat yang tepat, namun ia membantah membunuh Bob Ewell, yang ditemukan tidak bernyawa di tempat kejadian perkara. Scout menduga-duga, apakah Bob Ewell benar dibunuh Boo Radley ketika berkelahi, atau terjatuh dan menimpa pisaunya sendiri, seperti yang diungkapkan Boo.

Harper Lee berhasil mengangkat tema rasisme dalam To Kill a Mockingbird dengan memenangkan penghargaan Pulitzer, penghargaan tertinggi dalam bidang jurnalisme cetak Amerika Serikat di tahun 1961. Tiga puluh satu bab di novel ini memiliki banyak kejutan, namun lebih banyak lagi perenungan yang didapatkan.

 

Judul: To Kill a Mockingbird

Penulis: Harper Lee, 1960

Penerbit: Qanita, 2009

Tebal: 540 Halaman

ISBN: 9793269400

 

Peresensi: Dian Lathifah

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of