Dua Bulan setelah Aku Ditanam

  • 36
    Shares

Dua Bulan setelah Aku Ditanam lpmarena.com

Oleh: Muhammad Sidratul Muntaha Idham

Di kala siang terik, seorang petani laki-laki berusia senja duduk di pinggir kebun. Bermandikan keringat dan dihujani matahari, ia membakar sebatang rokok sembari duduk santai setelah menyulam beberapa tanaman tembakaunya di kebun. Ternyata penanaman kali ini sial sekali, pekerjaan menyulam menjadi lebih lama dari biasanya karena cukup banyak tembakau yang tidak tumbuh optimal.

Tapi sepertinya keberuntungan masih menyertaiku. Kau tahu, bagaimana mendebarkannya waktu penyulaman itu setelah lima sampai tujuh hari setelah ditanam? Jangankan menunggu waktu penyulaman, berada di bedengan selama sebulan saja sudah membuatku bosan. Lalu setelah mendekam di sana kau dipindahkan ke lahan tanam dan satu minggu berlalu, petani tua itu memutuskan apakah kau layak untuk tetap tumbuh atau disulam saja. Siapa yang tidak deg-degan?

Jika kau bertanya-tanya siapakah aku, maka akan kujawab bahwa aku hanyalah sebuah tanaman tembakau yang beruntung karena berhasil melewati masa penyemaian dan penyulaman. Ya, beruntung. Kau tahu? Disulam karena dirasa tidak tumbuh secara optimal itu berbeda dengan ketika kau layu karena tanaman pengganggu.

Optimal atau tidaknya pertumbuhanku diputuskan oleh seberapa besar manfaat tembakau yang diproyeksikan mereka di masa depan nanti. Tidak peduli apakah kau masih bisa hidup atau tidak. Sedangkan, layu karena tanaman pengganggu berarti kau memang sudah tidak bisa melanjutkan hidup.

Ah, maafkan aku karena terlalu banyak mengoceh. Tiba-tiba saja aku dilanda stres karena melihat petani tua membakar rokok. Di dalam lintingan itu pastilah berasal dari tembakau leluhurku. Menyedihkan sekali ketika memikirkan pertumbuhanmu yang susah payah akan berakhir dibakar kemudian masuk ke sela-sela gigi dan paru-paru mereka. Seakan-akan apa yang kualami, hidupku, hanyalah kesia-siaan belaka. Tiap hari dengan rutinitas yang sama, tiap regenerasi dengan siklus yang sama.

Petani itu masih duduk di pinggir kebun. Bara api di batang rokok semakin dekat dengan bibirnya. Keringatnya semakin mengucur, panas bara api di rokok kian terasa, tapi dia tak berhenti sampai rokok itu benar-benar habis. Dari kejauhan aku masih memandangnya dan merenung.

Setelah menghabiskan rokok, petani itu kembali menggarap kebun tembakau sampai sore. Mungkin hidupnya tidak kalah absurd. Menunggu sebulan setelah menyemai, seminggu setelah menanam dan mendapati banyak yang perlu disulam. Entah seperti apa hasil yang akan ia dapati tak kunjung pasti. Kalau sudah panen nanti, makanan apa yang akan dihidangkan di meja makan bersama istri dan tiga anaknya?
**

Sudah lewat satu bulan lebih setelah aku ditanam. Aku baru saja melewati pemupukan yang kedua dan itu menyebalkan sekali. Tanah tempatku mendekam menjadi sesak dan berbau busuk. Aku tahu jika pemupukan dilakukan agar aku tumbuh subur. Tapi, siapa yang peduli? Subur tidaknya bukan aku yang menilai. Aku cukup hidup saja sampai dipetik nanti.

Baca juga  Pakaian di Kuburan

Ketika masa pemupukan, aku juga melihat beberapa anak muda yang tidak kalah menyebalkan. Rambut mereka panjang sampai bahu, mengenakan celana jeans yang sobek dengan sebatang rokok yang diapit oleh telunjuk dan jari tengah. Tangannya kurus sekali sampai urat-uratnya terlihat.

Beberapa dari anak muda itu membantu pemupukan. Selang lima menit mereka berhenti dan kepanasan. Caranya memupuk benar-benar tidak becus. Aku mendengar beberapa temanku merasa sangat tidak nyaman karena pemupukan yang mereka lakukan.

Anak muda itu juga membual tentang tembakau yang berhasil di r-e-k-a-y-a-s-a (sulit sekali menyebut kata itu). Semacam utak-atik terhadap tumbuhan agar semakin menguntungkan bagi manusia. Utak-atik dilakukan di gedung yang dingin dengan cahaya buatan. Aku tidak bisa membayangkan diriku dibedah di tempat seperti itu.

Mereka kemudian bercerita tentang populasi tembakau yang kian meningkat. Dari awal ketika tembakau masih berupa tumbuhan liar lalu didomestikasi (lagi-lagi kata yang sulit) oleh leluhur manusia. kecerdasan manusia, katanya menjadi anugerah bagi tumbuhan-tumbuhan liar yang akhirnya didomestikasi.

Bagaimana tidak, mereka merawat tumbuhan dari berupa bibit sampai pantas untuk dipetik. Kalau zaman dulu, katanya tumbuhan liar akan mati ketika mereka sudah layu dan kering. Jika sedang sial, mereka akan dimakan oleh predator buas.
Aku pikir tidak ada yang berbeda antara tumbuhan liar dan kami yang dirawat petani. Perbedaannya hanya terletak di jumlah populasi kami yang meningkat. Jika aku boleh memilih, aku ingin menjadi tembakau liar yang mati karena layu dan kering.

Anak muda itu juga bercerita tentang nasib malang yang menimpa beberapa perkebunan di daerah lain. Tanah mereka dialihfungsikan menjadi tempat-tempat gedung menjulang tinggi dibangun. Ada juga kebun yang tanah dan airnya tiba-tiba rusak karena pabrik dan tambang.

Ketika bercerita tentang nasib malang perkebunan, suara mereka makin mengecil. Mereka berbisik-bisik bahwa sebentar lagi nasib malang itu akan menimpa perkebunan ini. Samar-samar aku juga mendengar anak muda itu berkata agar warga petani menjaga hubungan antar sesama dan tidak berkonflik. Karena eratnya hubungan adalah salah satu kekuatan mereka untuk melawan petugas dan alat-alat berat yang akan datang nanti.

Aku jadi sedikit simpati. Hubunganku dengan petani-petani itu memang tidak baik-baik saja. Tapi mereka akan berusaha mati-matian melindungi tanah dan air yang menghidupi kami, layaknya petani di perkebunan di daerah lain. Sepertinya apa yang kami tumbuhan alami, juga sekarang manusia hadapi. Kami tumbuhan yang awalnya liar menjadi semakin produktif dan subur akibat rekayasa dan mekanisasi. Hasilnya memang tidak ada satupun dari kami yang merasakan. Mereka pun begitu. Mereka dihadapkan oleh rekayasa dan mekanisasi agar peradaban mereka maju, tapi aku ragu petani-petani itu akan merasakan hasilnya.
**

Baca juga  Pelarian Sunarto

Sudah dua bulan sejak aku ditanam, sebentar lagi aku akan dipetik. Namun perkebunan tiga hari yang lalu tiba-tiba menjadi berdebu. Aku dengar alat berat itu sudah datang, listrik mati dan beberapa rumah petani didatangi orang berpakaian rapi yang dikawal preman-preman.

Petani diminta untuk menjual tanah atau akan digusur secara paksa. Petani itu tetap bertahan. Ketika malam tiba aku sering mendengar mereka membaca doa agar musibah yang menimpa mereka kunjung selesai dan bisa kembali bertani dengan damai.

Aku juga tiba-tiba mengharapkan kedamaian itu. Aku tidak ingin kehidupanku berevolusi menjadi lebih buruk lagi. Berevolusi menuju sesuatu yang bukan atas kehendakku, yang tidak aku ketahui kemanakah arah evolusi itu. Aku sama sekali tidak percaya dengan kata “kemajuan” pada rekayasa tumbuhan yang dilakukan di gedung-gedung. Hidup seperti biasa dan berakhir dengan cara dibakar, memasuki mulut-mulut petani yang bersikeras mempertahankan aku sepertinya tidak begitu buruk.
**

Keesokan harinya, alat-alat berat benar-benar datang. Aku melihatnya sendiri, perkebunan semakin dibuat berdebu olehnya. Di sekeliling alat berat ada orang-orang berpakaian rapih, berkacamata hitam dan menggunakan masker. Beberapa petani berusaha menghadang alat berat dan orang-orang berkacamata hitam itu. Anak muda yang berambut panjang kemarin juga kembali hadir bersama kawan-kawannya. Kali ini mereka datang beramai-ramai.

Orang-orang berkacamata hitam itu akhirnya baku hantam dengan petani dan anak muda. Anak muda dan petani dipukul hingga hidungnya berdarah, beberapa yang lain dijambak dan diseret. Di sudut yang tidak begitu terlihat di samping perkebunan, aku melihat ada anak muda yang merekam kejadian.

Orang berkacamata kemudian mendatangi anak muda itu. Mereka berdua berteriak satu sama lain, entah mereka berbicara apa, tiba-tiba orang berkacamata memukul perut anak muda hingga ia berlutut kesakitan.
Sementara itu, alat berat sudah menginjak seperempat kebun. Kebun semakin berdebu, siang panas seperti biasanya, tapi siang itu benar-benar membuat semua manusia yang berhamburan di sekitar kebun bermandi keringat.

Kebun menjadi bau amis karena keringat dan darah, ditambah debu-debu yang menyesakkan. Mati dipetik dan dibakar yang dulu kubayangkan begitu buruk, ternyata kematianku lebih buruk dari bayanganku.

Gambar: arah.com

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of