Malapetaka Mati Surinya Student Government

Malapetaka Mati Surinya Student Government

  • 4
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    4
    Shares

Malapetaka Mati Surinya Student Government

Oleh: Muhammad Abdul*

Sudah hampir setengah tahun, terhitung dari terpilihnya Senat Mahasiswa (Sema) dan Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) (student government) pada pemilihan umum mahasiswa UIN Sunan Kalijaga akhir Desember lalu. Student government adalah lembaga yang seharusnya mewakili mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi kepada kampus. Namun, sampai sejauh ini banyak mahasiswa masih mempertanyakan kinerja student government. Hal itu terlihat dari beberpa isu kampus yang tidak tercover oleh mereka seperti halnya KKN dan UKT. Mungkin bukannya tidak tercover, melainkan karena gerak mereka sangat lambat, sehingga banyak mahasiswa mempertanyakan hal tersebut.

Entah seperti apa dinamika yang terjadi dalam student government saat ini. Apa yang dipikirkan oleh mereka hari ini? Apakah jabatan dalam kampus hanya dijadikan sebagai sarana untuk meningkatkan derajat atau meningkatkan eksistensi diri?

Andaikan seperti itu saya kira niatannya menjadi pejabat kampus harus diluruskan. Pasalnya hal tersebut tidaklah sederhana. Kampus menjadi ruang belajar sebelum mereka (mahasiswa) terjun langsung ke dunia nyata. Seperti yang disampaikan dalam setiap pertemuan Pengenalan Budaya Akademik Kampus (PBAK), melalui sosialisasi dijelaskan bahwa Dewan Mahasiswa (Dema) dan Senat Mahasiswa (Sema) sebagai lembaga Eksekutif dan Legislatif, perannya seperti presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) jika dianalogikan sebagai negara.

Jujur, saya tidak bisa membayangkan tatkala negara kita nanti diisi oleh mereka, yang dalam proses belajar saja tidak maksimal dan hanya mengejar popularitas atau eksistensi. Tidaklah mungkin persoalan rakyat diselesaikan dengan baik. Kemungkinannya justru akan menambah kegaduhan masyarakat karena mereka dirasa tidak mumpuni dalam melakukan kinerja.

Tulisan ini tidak bermaksud merendahkan, melainkan bentuk kepedulian kami terhadap keadaan student government. Kami berusaha untuk mengingatkan peran dan tugas seorang pimpinan. Karena memang hanya seperti inilah yang bisa kami lakukan sebagai mahasiswa sipil.

Baca juga  Launching Perdana, Pecinta Kaligrafi (PK) Gelar Pameran di Laboratorium Agama

Student government yang dihormati oleh Allah. Kami berharap semoga kalian tetap berada dalam lindunganNya dan diberi kecerdasan serta kejernihan pikiran dalam memimpin kami, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga. Saya tidak ingin kebencian-kebencian mahasiswa terlalu larut sehingga tidak ada lagi yang percaya. Memyebabkan reputasi kalian akan diturunkan serendah-rendahnya oleh Tuhan.

Mungkin Saya perlu ceritakan terkait kondisi yang terjadi di kampus saat ini. Beberapa hari yang lalu mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) mengeluh atas hal-hal yang terjadi di luar prediksi mereka. Seperti saat mereka ditolak oleh Kepala Dusun, beban biaya KKN yang diberikan dusun terlalu mahal di luar dari kemampuan, dan juga tentang kesembronoan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) dalam memilih lokasi KKN karena belum selesai perizinannya.

Melalui sosial media yang masuk dalam grup ARENA. Mereka mempertanyakan dimana peran student government dalam hal ini. Mereka merasa bahwa kalian tidak turut andil dalam mengadvokasi isu tersebut. Entah seperti apa realitanya, Saya juga tidak tahu.

Bisa jadi kalian sudah melakukan advokasi. Namun, karena kedekatan dengan mahasiswa kurang bagus, atau advokasi yang kalian lakukan sembunyi-sembunyi, sehingga mahasiswa secara umum tidak mengetahui. Perlu digarisbawahi, mahasiswa sipil membutuhkan kalian dalam kondisi yang seperti ini karena mereka tidak mempunyai wewenang dan kesempatan untuk negosiasi langsung dengan pimpinan kampus.

Kedua, persoalan Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang dari tahun ke tahun tidak kunjung usai malah menjadi-jadi. Banyak mahasiswa iri, terlebih mahasiswa semester tua. Melihat kondisi yang terjadi di UIN Sunan Kalijaga tidak seperti di UIN Bandung dan UIN Jakarta. Mereka mengadukan bahwa di sana, semester tua hanya membayar UKT setengah namun  di sini tetap sama. Apa student government UIN Suka tidak berupaya memperjuangkannya?

Baca juga  AMUK Tuntut Transparansi UKT dengan Aksi Damai

Jangan malah mengatakan, “Kalau ingin seperti itu pindahnya saja ke UIN Bandung atau UIN Jakarta, kita kan UIN Sunan Kalijaga, ya, berbeda.” Saya kira jawaban seperti itu merupakan jawaban yang selemah-lemahnya Iman dan pertanda adanya kedangkalan berfikir.

Terjadinya penurunan jumlah pembayaran UKT tidak lepas dari peran student government memperjuangkan hak-haknya di tataran Kampus. Melalui audiensi dan negosiasi yang sangat panjang dengan memperlihatkan fakta-fakta yang terjadi. Sehingga keluarlah kebijakan tersebut.

Belum lagi persoalan mahasiswa baru yang keberatan dengan jumlah nominal yang harus dibayar. Ketidakmampuan mahasiswa menyebabkan mereka tidak dapat melanjutkan sekolah hanya gara-gara tidak bisa bayar UKT. Atau mahasiswa yang terpaksa harus cuti karena tidak mampu membayar UKT. Ditambah dengan permasalahan simpang siurnya informasi wajib pesantren bagi mahasiswa baru khusus lulusan SMK dan SMA. Keluhan datang silih berganti dan begitu massif namun samasekali belum ada penanganan intensif.

Saya kira masih banyak persoalan yang membutuhkan bantuan kalian untuk diselesaikan. Doa Saya untuk kalian, semoga dikuatkan Tuhan dalam menjalani tugas-tugas kemanusiaan. Agar kelak tidak menjadi generasi penerus penggelapan anggaran dan manipulasi kebijakan.

Amiin.

*Penulis adalah mahasiswa biasa yang suka bermain dengan anak-anak.

Gambar: krjogja.com

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of