Calon Pelacur yang Manis

Calon Pelacur yang Manis

  • 2
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    2
    Shares

Calon Pelacur yang Manis (Part 1)

Oleh: Khaerul Muawan

Bukan hal sederhana ketika berhadapan dengan kehidupan. Entah kata sandi apa yang telah kukatakan pada Tuhan hingga membuatku lulus tes untuk ikut serta dalam kehidupan ini. Sebuah kehidupan yang sukar dijalani. Andai kala itu aku tahu kehidupanku sesukar ini, lebih baik aku memilih tidak hidup sama sekali. Bagi mereka yang bisa bernafas dengan lega, menganggap kehidupan ini adalah segalanya. Tak memikirkan bagaimana melihat mentari pagi. Sedangkan aku hanya memikirkan bagaimana mendapat sesuap nasi untuk melihat mentari pagi. Mentari yang menerangi hari-hariku demi bertahan hidup. Terkadang aku hanya berterima kasih pada matahari. Meski Islam agamaku tapi mataharilah Tuhanku. Begitulah kepercayaanku dari sebuah kehidupan.

Aku masih ingat saat usiaku sepuluh tahun. Di antara gedung-gedung tinggi dan lautan, sebuah tempat dimana aku menghabiskan waktu demi kehidupan. Sebuah anjungan yang dikenal dengan nama Pantai Losari adalah kantor bagiku. Pakaian kusut serta bolong-bolong adalah pakaian dinas terbaik bagiku. Meski tak ada tas, pena, buku ataupun komputer kumiliki, tapi setidaknya dengan modal dua tangan, wajah dengan ekspresi lemah tak berdaya dan suara yang membuat orang tutup telinga, bisa menghasilkan lima ratus rupiah tiap kepala.

Di samping menjadi anak jalanan, aku juga menjadi anak jajahan. Anak yang bekerja untuk sepasang manusia yang telah melahirkanku di kehidupan ini sebagai tanda bakti bagi mereka, katanya. Jika pulang dari dinas dan hasil jerih payahku membuat mereka tidak puas, maka hukum cambuklah yang kudapat agar mereka puas. Ayahku yang besar, tinggi dan hitam membuatku selalu takut berhadapan dengannya. Ibuku besar dan cerewet, juga sama saja dengan ayahku. Hampir tiap malam mereka menyambutku dengan cambukan, bukan sebuah senyuman ataupun pelukan sebagaimana umumnya orangtua yang berbagi kasih dengan anak-anaknya.

Saat pertama kali aku diperlakukan sebagai budak, tangisanlah yang menjadi pengantar tidurku yang hanya beralaskan kardus, bukan sebuah cerita ataupun dongeng. Begitu pula saat aku bangun pagi, bukan sapuan halus yang penuh kasih sayang, melainkan gertakan dan pukulan yang penuh kekejaman. Maka tangisan pula yang mengawali hariku.

Aku juga masih ingat saat itu Risma, adikku, yang usianya lebih muda lima tahun dariku. Ia begitu disayang, dirawat bahkan didandani layaknya putri. Pakaiannya tidak pernah kotor. Ia dibiasakan hidup layaknya gadis-gadis penggoda. Entah darimana kedua orangtuaku mendapat uang untuk membiayai adikku ini. Ia tidak hanya dengan kasih sayang, tapi juga pendidikan yang layak. Tapi dari semua kebahagiaan yang didapatkan adikku itu, tak satu pun yang tidak ia bagikan kepadaku. Bahkan ia mengajariku apa yang telah dipelajarinya di sekolah. Saat ia mendapat uang jajan lebih, ia mendatangiku di anjungan sepulang sekolah. Pernah suatu hari aku berbincang-bincang dengannya, saat itu usianya masih delapan tahun.

Baca juga  Bunga yang Tidak Menabur Serbuk Pelangi

“Kak, kenapa mama sama papa jahat sama kakak?” pertanyaannya membuatku ingin menjawab semua keluhan yang kualami selama ini. Namun aku tahu, ia masih polos.

“Papa sama mama tidak jahat, Dik. Mereka itu baik! Buktinya kamu disekolahkan, diberi kasih sayang bahkan diberi uang jajan lebih. Kakak ini cuma berbakti sama mereka, Dik. Cara kakak berbakti sama mereka itu dengan seperti ini. Sedangkan kamu dengan cara sekolah, punya cita-cita biar punya uang banyak.”

“Tapi aku tidak mau lihat kakak dicambuk tiap pulang ke rumah! aku tidak mau, Kak!” Air matanya perlahan menetes, membasahi setiap kulit pipinya yang masih halus. Aku berikan ia pelukan pertama. Sesuatu yang indah dalam tangisan kurasakan dan itulah yang biasa mereka sebut kasih sayang. Aku kecup keningnya lalu kupeluk kembali dengan pakaianku yang kotor dan bau. Air mataku perlahan menetes. Aku sapu hingga bersih dan tak berbekas. Aku tak ingin ia melihatku menangis. Lalu aku lepaskan pelukanku darinya. kami duduk di hadapan mentari senja.

“Dik, kamu lihat matahari itu?” tanyaku padanya sembari tersenyum lalu menunjuk pada matahari senja itu.

“Iya, Kak! Aku lihat. Kenapa, Kak?”

“Kira-kira matahari itu kemana?”

“Tenggelam, kak.”

“Tidak Dik, dia tidak tenggelam. Tapi dia pergi memberikan kehangatan di belahan bumi lain sehingga kita bisa merasa sejuk di malam hari. Bukankah dia itu adil? Ya, itulah tuhanku yang sangat adil!” Ia terkejut mendengar ucapanku.

“Kakak Islam?”

“Iya, kata mama.”

“Islam punya Tuhan Mak, namanya Allah. Kalau Kristen, nama Tuhannya Yesus.”

“Allah itu hanya Tuhan untuk orang Islam yang kaya Dik, bukan orang miskin seperti kita.”

“Tidak, Kak! Kata guruku, Allah itu Tuhan yang menciptakan matahari, bumi, dan semua isinya.” Dia menatapku serius seakan tak membiarkanku memuji matahari. “Kak, percayalah padaku! Nanti aku ajarkan bagaimana cara shalat.”

“Shalat itu apa, Dik?”

“Besok aku tunjukkan sama Jakak. Tapi Kakak ada waktu, kan?”

Aku menatapnya sembari meletakkan kedua tanganku di atas pundaknya yang kecil. “Kapan sih, kakak tidak punya waktu untuk adikku yang cantik ini?” dia hanya tersenyum. Kami memandangi matahari hingga terbenam.


Sekitar dua tahun ia mengajariku banyak hal. Aku sebagai kakaknya tidak menyangka ia sepandai ini. Selama di sekolah, ia selalu mendapat peringkat pertama sampai sekarang.

Suatu malam, pertikaian di antara kedua orangtuaku terjadi untuk yang pertama kalinya. Aku dan Risma kala itu sedang membaca buku di kamar.

“Ternyata selama ini pekerjaanmu seperti itu, Riska!” bentak papaku dalam bahasa Makassar yang kasar.

“Lebih baik aku begini daripada kamu yang kerjanya tiap malam hanya main judi!” Balas ibuku dengan bahasa yang sama. Suara pertikaian mereka terdengar dari luar kamar. Risma ketakutan hingga ia memelukku.

Baca juga  Akar Pendidikan (Menggagas Revolusi Pendidikan – Bagian II)

“Tapi setidaknya aku punya harga diri!”

“Puih! Harga diri hanya akan membuatmu menjadi bangkai, Bobi! Sedangkan aku bisa hidup dengan menjual harga diri. Empat ratus ribu tiap kali main, Bob! Tapi kamu malah tidak bersyukur. Kamu juga tidak tahu terima kasih. Kamu pikir uang modal judimu darimana? Dari aku, Bobi! Dari aku! Bukan dari anakmu yang gembel itu.”

“Tapi aku malu, Riska! Aku malu! Ternyata kau tidak hanya main dengan orang lain, tapi juga main dengan temanku. Lima tahun kau sembunyikan pekerjaan sialanmu itu, Riska. Dasar pelacur murahan!”

“Pergi kau dari rumahku, Bobi! Sekarang rumah ini bukan milikmu lagi!”

“Oke, suatu hari kau akan menyesal, Riska. Ingat itu!”

“Sekarang aku mau pergi kerja. Kalau kamu masih ada disini saat aku pulang, akan kusuruh pacarku menghajarmu!”

Aku langsung melepas pelukan adikku lalu berlari ke luar kamar. Kudapati ayahku masuk ke dalam kamarnya, sedangkan ibuku pergi entah kemana. Tiba-tiba Risma keluar menghampiriku sembari memelukku.

“Papa sama mama kemana, Kak?”

“Sssstt! Jangan bicara, nanti kita dipukuli lagi.”

Kemudian ayahku keluar dari kamarnya dengan membawa sebuah tas.

“Papa tidak akan memukulimu lagi, Nak!” Ia berlutut di hadapan kami yang sedang berdiri. Tiba-tiba ia memeluk kami.

Tangisannya pun pecah. “Papa akan pergi. Kalian jangan nakal, yah!”

“Pa, biarkan kami ikut. Kami tidak mau tinggal dengan mama. Dia sudah berubah, Pa!” ujarku.

“Iya, Pa! Aku mau ikut papa!” begitu pun Risma.

“Papa tidak bisa menghidupi kalian. Tapi tidak usah khawatir, papa akan kembali dengan uang yang sangat banyak. Nanti papa belikan Riska boneka Barbie yang cantik. Dan Riswan, papa akan belikan kamu HP canggih!”

Kami tersenyum mendengar ucapan seorang pria yang kami anggap ayah itu. Ia lalu pergi sembari menutup pintu rumah. Disitulah saat terakhir aku melihat ayahku. Tiba-tiba Risma menangis.

“Kak, aku tidak mau tinggal sama mama. Dia sudah jahat!” aku berjalan membawanya ke kamar untuk menenangkan pikirannya.

“Tidak usah pikirkan mama! Sekarang kamu baring lalu tutup mata dan bayangkan ayah datang membawa boneka Barbie yang cantik.” Ujarku seraya menyanyikan lagu pengantar tidur untuknya. Aku sapu-sapu rambutnya hingga ia benar-benar tertidur.

Aku pun berbaring di sampingnya sembari memeluknya. Aku menatapnya lalu berkata, “apa pun yang terjadi, kakak tidak akan biarkanmu seperti mama, Dik. Cukuplah mama yang seperti itu. Kakak akan bekerja keras untuk menghidupimu, karena kamulah keluargaku yang tersisa, Risma.” Aku kecup keningnya lalu tidur dengan air mata yang kembali menetes.

Gambar: m.id.aliexpress.com

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of