Festival Dolanan Anak; Pendidikan Bukan Hanya Belajar, tapi Juga Bermain

Festival Dolanan Anak; Pendidikan Bukan Hanya Belajar, tapi Juga Bermain

  • 9
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    9
    Shares

Festival Dolanan Anak; Pendidikan Bukan Hanya Belajar, Tapi Juga Bermain

Lpmarena.comAnak-anak Indonesia adalah anak-anak yang kreatif, hanya saja mereka tidak memiliki ruang bebas untuk bermain dan berekspresi. Saat ini konteks bermain sudah dipisahkan dari konteks belajar oleh lembaga pendidikan sendiri. Anak-anak dilarang bermain, dan dituntut menghabiskan waktu yang panjang di sekolah. Padahal selain untuk sekolah, seharusnya anak-anak memiliki waktu untuk keluarga dan lingkungan. Ia juga harus berinteraksi dengan orangtua dan lingkungannya.

“Jadi kalau anak pulang sekolah, ya, dunianya di rumah, dia ketemu orang tua, main sama temen di lapangan, di sawah, tapi sekarang tidak ada wahana bermain dirumahnya,” jelas Teguh Laksono saat ditemui ARENA dalam Festival Dolanan Anak Cilik-cilik pada Minggu sore (22/07).

Acara tersebut digelar oleh Omah Kreatif dan Perempuan Tattoo Indonesia, berkolaborasi dengan beberapa komunitas rumah belajar seperti Atmosfir, Paguyuban Pengajar Pinggir Sungai (P3S), dan lain-lain. Pihak penyelenggara merasa kondisi anak saat ini sangatlah memprihatinkan, dengan sangat kurangnya wahana bermain anak.

“Sebagai orang yang lebih dewasa, mbok yao kita sedikit memberi ruang yang bebas untuk anak-anak, karena perlu kita akui bahwa dunia anak-anak adalah dunia bermain,” ungkap Teguh selaku ketua panitia.

Dalam festival yang juga memperingati Hari Anak Nasional tersebut terdapat banyak kegiatan. Diantaranya, workshop, display permainan, area bermain dan panggung seni. Workshop berisikan kegiatan untuk memperkenalkan cara membuat permainan tradisional seperti layang-layang, egrang, bakiak dan topeng. Pada lapak display, permainan panitia menyuguhkan beberapa permainan tradisional. Selain itu acara festival juga dimeriahkan dengan pentas ekspresi yang diisi oleh berbagai penampilan, seperti penampilan solo biola, perkusi dan band anak.

Baca juga  Absurditas Pendidikan Dasar Indonesia

Penyelenggara memilih mengisi acara dengan kegiatan edu-fun (pendidikan-menyenangkan) karena penyelenggara menyadari bahwa dunia anak-anak adalah dunia bermain. “Mungkin kita pikir itu kotor, atau lecet, ya, tapi begitulah dunia anak, yang aktif, yang ingin tahu,” papar Teguh.

Acara festival ini disambut baik olah para orang tua dan anak. Lili, ibu muda yang sedang menemani putranya bermain dalam festival, menuturkan bahwa festival ini merupakan acara yang bagus. “Bagus, mengenalkan anak dengan permainan supaya anak tidak main gadget terus,” ujarnya.

Hal itu juga juga diamini oleh Febriarto, Bapak yang sedang menemani kedua putranya bermain gasing. “Anak-anak sekarang bisa belajar kearifan lokal dari permainan yang ada disini, ada permainan yang sifatnya kerjasama tim, ada juga yang individu, anak bisa belajar saling menghargai,” jelasnya.

Kimmi Nakila, anak yang telah menjajal permainan egrang, kelereng, gasing dan layang-layang dalam festival mengaku senang dengan permainan yang ada dalam festival. Sedangkan Arsya Saputra yang telah bermain gasing, egrang dan gobak sodor, mengaku lebih suka bermain permainan yang ada di festival daripada permainan yang ada di gadget. “Lebih suka bermain ini, banyak temenya,” ujarnya.

Pihak penyelenggara juga berharap anak-anak Indonesia kedepannya bisa menjadi diri mereka sendiri. “Jadilah diri sendiri, lakukan apapun yang kamu ingin lakukan, orang tua cukup memfasilitasi, kita berikan ruang kepada anak-anak untuk menjadi apa yang mereka mau,” pungkas Teguh.

Reporter: Mar’atus Sholihah

Redaktur: Ajid FM

Komentar

komentar

1
Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of

Klau akusih lebih suka bermain ketimang belajar