Polemik Program Wajib Pesantren, Wakil Rektor III: Bukan tanpa Persiapan

Polemik Program Wajib Pesantren, Wakil Rektor III: Bukan tanpa Persiapan

  • 19
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    19
    Shares

Polemik Program Wajib Pesantren, Wakil Rektor III: Bukan tanpa Persiapan

Lpmarena.com- Wakil Rektor (WR) III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama, Waryono Abdul Ghofur menjelaskan program wajib pesantren yang menjadi polemik belakangan ini merupakan instruksi dari Kementerian Agama kepada Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKIN) seluruh Indonesia. Melalui surat Nomor: Dj.I/Dt.I.IV/PP.00.9/2374/2014 tentang Instruksi Penyelengaraan Pesantren Kampus (Ma’had Al-Jami’ah).

Dalam surat tersebut dijelaskan program wajib pesantren memiliki fungsi untuk memperkuat dasar-dasar dan wawasan keagamaan/keislaman, kemampuan bahasa asing, membentuk karakter, menjadi pusat pembinaan tahsin dan tahfidz Al Qur’an, dan mengembangkan keterampilan dan tradisi akademik.

Menurut Waryono, dalam merespon instruksi tersebut UIN Sunan Kalijaga terhitung lambat. Pasalnya, masih ada beberapa hal yang harus diselesaikan oleh UIN seperti pembebasan lahan Pajangan untuk pembangunan kampus II. Hal ini menyebabkan kebijakan wajib pesantren ini terkesan mendadak.

Penyebaran Mahasiswa di Pesantren Mitra Kampus

Waryono juga mengatakan, kendati program wajib pesantren terkesan mendadak, kampus telah melakukan persiapan. Seperti bermitra dengan beberapa pesantren dan akan menyiapkan transportasi bagi mahasiswa baru yang lokasi pesantrennya jauh dari kampus.

Berdasarkan data yang ARENA dapatkan dari Kepala Bagian Kemahasiswaan UIN Sunan Kalijaga , terdapat 19 Pondok Pesantren (PP) yang telah menjadi mitra kampus; seperti Nawasea, Al-Ashfa, PP Wahid Hasyim, Islamic Studies Centre Aswaja Lintang Songo, PP Nurul Ummah, Fauzul Muslimin, Timoho Minhajut Tamyiz, Minhajul Muslim, Luqmaniyyah, Al-Munawir Krapyak, Sunni Darussalam, Salaimaniyah, PP Ulul Albab, Rumah Santri Darul Auliya’, Darul Qur’an Al-Imami, Al-Imdad, PP Hidayatullah, Al-Muhdi, dan Al-Mumtaz.

Tidak menutup kemungkinan mahasiswa mondok di pesantren lain,” jelas Waryono saat ditemui ARENA di ruangannya, Senin (23/7).

Baca juga  Sudah UKT, OPAK Masih Bayar?

Setiap pesantren memiliki daya tampung yang berbeda. Nawase, menampung  200 mahasiswi dari fakultas Sains dan Teknologi, Ilmu Sosial dan Humaniora, dan prodi Ilmu Hukum. Sementara, mahasiswa dari fakultas lain ditempatkan di Wahid Hayim 25 mahasiswi dan 5 mahasiswa, Al Mumtaz 10 mahasiswi dan 5 mahasiswa, Nurul Ummah 300 mahasiswa, Hidayatullah 30 mahasiswa, Al Muhdi 20 mahasiswa.

Adapaun mahasiswa yang sudah memiliki pesantren di luar dari yang disarankan kampus diinstruksikan agar melapor pada bagian Kemahasiswaan. Menurut Waryono, hal tersebut dilakukan untuk mendata dan mengecek, apakah pesantren yang dipilih mahasiswa sesuai dengan kreteria yang ditentukan oleh kampus. “Sekarang istilah pesantren sudah digunakan di mana-mana. Yang mengajarkan radikalisme pun mengunakan istilah pesantren,” tuturnya.

Pesantren sebagai Benteng Radikalisme

Waryono menegaskan bahwa program pesantren ini merupakan upaya untuk merespon berkembangnya paham radikalisme di Indonesia, khususnya di kampus dan jurusan-jurusan umum. “Untuk itu kami memutuskan jurusan-jurusan umum dulu yang di pesantrenkan. Namun, bukan tidak menutup kemungkinan bahwa ke depan semua mahasiswa akan dipesantrenkan,” ungkapnya.

Kampus menentukan kriteria pesantren yang bisa dipilih mahasiswa harus memiliki komitmen menjalankan nilai-nilai kebangsaan. Sebab tidak sedikit pesantren  mengajarkan nilai-nilai yang bertetangan dengan nasionalisme, seperti mengajarkan untuk tidak hormat kepada bendera atau tidak mengizinkan menyanyikan lagu Indonesia Raya. “Kami tidak memilih yang itu,” tegas Waryono.

Program wajib pesantren sendiri tidak menjadi syarat kelulusan. Sebab, selain merupakan agenda menangkal radikalisme, perantara dan tujuannya adalah melatih baca tulis Al Qur’an; mengingat salah satu syarat kelulusan mahasiswa harus memiliki sertifikat bisa membaca dan menulis Al Qur’an. “Salah satu upaya untuk memfasilitasi itu adalah pesantren,” tuturnya.

Adapun mahasiswa yang merasa keberatan dengan program ini bisa membuat surat penyataan pada bagian Kemahasiswaan. Laporan tersebut dilakukan untuk pendataan kampus terhadap mahasiswa. Kampus akan melekaukan visitasi dan mensurvey data tersebut untuk memastikan mahasiswa mampu membaca dan menulis Al Qur’an.

Baca juga  Merawat Ingatan, Merepresentasikan Tindakan Melalui Arsip

Sebelumnya, kebijakan rektorat mengenai program wajib pesantren bagi mahasiswa baru angakatan 2018/2019 menuai banyak kritik. Sebab, pengumuman wajib pesantren dikeluarkan setelah mahasiswa baru yang masuk melalui jalur SNMPTN membayar uang kuliah tunggal (UKT) dan mengisi data pribadi mahasiswa pada tanggal 6 sampai 11 Juli. Sementara, kelulusan tes SBMPTN diumumkan pada 3 Juli.

Pada 5 Juli, barulah Pengumuman Nomor: B-3810/Un.01/R/PP.00/07/2018 Tentang Kewajiban Mengikuti Pesantren Untuk Mahasiswa Baru Prodi Umum Tahun Akademik 2018/2019 yang ditandatangani oleh Rektor Yudian Wahyudi tersebut keluar.

Azura, mahasiswa baru yang masuk melalui jalur SNMPTN mengaku kecewa. Dia melakukan registrasi sejak sebelum bulan Ramadhan dan sudah membayar kos. “Jadi, seperti memaksakan,” ungkapnya kepada ARENA melalui pesan Whatsapp, Selasa (17/7).

Tidak berbeda dengan Azura, Retno Purbaningrum mahasiswa baru yang masuk melalui jalur SBMPTN juga menyatakan hal serupa. Ia merasa kecewa pihak kampus tidak mensosialisasikan kebijakannya terlebih dahulu.

“Aku tahu ada wajib pesantren itu setelah keterima SBMPTN. Jadi tidak bisa mempertimbangkan lagi. Misal dulu tau program tersebut pas sebelum daftar kan bisa dipertimbangkan,” papar Retno saat ditemui ARENA, Rabu (18/7).

Reporter: Akmaluddin

Redaktur: Fikriyatul Islami, Syakirun Ni’am

Gambar: YouTube Redaksi BMI

Komentar

komentar

2
Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Regal

Menurut lpm arena apakah program wajib pesantren itu tidak baik,? Kok semua kebijakan UIN Suka di mata lpm arena ditanggapinya miring terus ya, hihi