Puisi Tsaqif Al Adzin: Menemukan Minggu

Puisi Tsaqif Al Adzin: Menemukan Minggu

Menemukan Minggu

Sebentar lagi hari gelap di ujung
rencana senja. Sudah waktunya
toko-toko tutup, membenamkan
dirinya ke dalam malam.
Jalan raya merayakan
kemenangannya dengan macet
berjam-jam. Membuat banyak
orang lebih suka
duduk bertahun-tahun di rumah.
Kepalaku, never slept city, ia
dihuni banyak kenangan dan
angan-angan di hari depan. Aku
ingin menemukan hari mingguku
yang hilang.

Wonosobo, 2018

BULAN SABIT

Itu bulan sabit,
yang kemarin berhasil kau penggal kepalanya
dan air dari matanya yang menjelma cahya pucat
tertinggal sepenggal di teras rumahmu; panggil-panggil namamu
dengan bisikan yang tak kau dengar
maka ia bangkai di situ, dengan hasrat
yang tak sampai: memeluk tidurmu

Wonosobo, 2018

Pengemis dan Kucing yang Duduk dengan Ekornya

Bersebelahan beralaskan koran. Berlatar gedung-gedung tinggi perkantoran.

Pengemis mengiba meminta seribuan—sebab lima ratus kini sama harganya dengan setengah mata.

Kucing mengeong bergelung, tidur dengan nyamannya sambil melingkarkan ekornya pada sebuah kaleng berisi seratus dua ratus keping syukur. Entah tidak peduli, entah cukup, entah bahagia.

Wonosobo, 2018

Almanak

(Telah dimusikalisasi oleh Fitria Eranda)

Sudah kesekian kali aku menaruh rindu di sepasang matamu. Kelopakmu mengepak seperti burung ingin terbang menggendong angin yang kusut.

Ada yang lebih penting dari rupa-rupa angka dan peristiwa. Adalah kita yang masih mempersoalkan aku yang tak berubah atau kamu yang selalu gerah.

dan selalu saja cuaca, waktu, dan suasana jadi tameng kita untuk berlindung bersama kaleidoskop yang serakah.

Wonosobo, 2018

Tsaqif Al Adzin Imanulloh adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga 2017. Masih bingung cari nama pena. Belum terima dengan keputusan UKT yang sukses mencekik dompet emak-bapaknya.

Sumber Gambar: Tribun Jogja

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of