Ekspedisi Menjemput Harimau Jawa

Ekspedisi Menjemput Harimau Jawa

Ekspedisi Menjemput Harimau Jawa

lpmarena.com

Rabu, 27 Juni 2018. Hari yang ditunggu pun datang. Kami bersama 43 peserta ekspedisi lain bersiap-siap berangkat ke lapangan untuk tugas besar yaitu menemukan tanda-tanda maupun keberadaan Harimau Jawa. Pagi itu, hiruk pikuk peserta menyiapkan barang bawaan yang akan dibawa selama 10 hari kedepan di hutan. Pukul 07.00 WIB, kami memulai dengan melakukan ritual yaitu do’a bersama dan sedikit arahan komunikasi dari tim pelaksana. Setelah cukup dalam  berdo’a dengan harapan tuhan selalu memberi perlindungan dan kelancaran dalam berkegiatan,  pukul 08.00 WIB kami berangkat menuju pulau Peucang.

Sebelum melanjutkan cerita lebih jauh, peserta sebanyak 43 itu dibagi menjadi 6 tim, 1 tim dari pengarah kegiatan, 1 tim dokumentasi. Tiap tim terdiri dari 4-5 peserta dengan didamping 2 RPU (Rhino Proctection Unit). Nantinya 7 tim ini akan disebar di tujuh titik/zona yaitu di gunung Payung, Sanghyangsirah, Bidur, Cidaon, Cibunar, Cibom, dan Pilar. Sebenarnya untuk menuju ke titik-titik/zona penyapuan tersebut bisa ditempuh degan jalan kaki, namun hal itu akan memakan waktu yang cukup lama, sehingga kami memutuskan untuk naik kapal menuju pulau Peucang. Perjalanan menuju pulau Peucang memakan waktu kurang lebih 4 jam. Sekitar pukul 11.30 WIB kami tiba di pulau Peucang. Rencana awal semua tim berangkat menuju lapangan pada esok hari, tanggal 28 Juni 2018. Namun karena pertimbangan beberapa hal sehingga memutuskan perubahan rencana, yaitu tim pada zona 4,5, dan 6 langsung menuju ke zona nya masing-masing. Pukul 12.36 WIB disaat matahari berada tepat diatas kepala kita, tim zona 4,5,dan 6 menuju ke kapal untuk melanjutkan perjalanan ke Cibom . Sesampainya di Cibom pukul 13.00 WIB, ketiga tim istirahat sejenak. Setelah beberapa saat kemudian dengan jalan kaki tim 4 dan 5 melanjutkan perjalanan, menuju zona masing-masing yaitu di daerah Sanghyangsirah dan Bidur. Tim yang tinggal di Cibom yaitu zona 6 karena memang zona penyapuan di daerah Cibom. Saya bersama tim saya yaitu Iqbal (Lombeh), Irfan (Lampos) dari RANITA UIN Jakarta, Viki dari Garba Wira Bhuana UNS, dan Alton dari Wartapala dengan didampingi RPU, yakni pak Samaya dan pak Mul.

Setelah beristirahat, makan, mandi dan lain sebagainya. Malam pun tiba, kami membuat rencana untuk kegiatan pada esok hari. Rencana kami akan menggunakan camp induk yaitu camp pusat, jadi selama 2 hari kami bermalam di Cibom tidak pindah camp karena di Cibom ini ada tempat shelter semacam bangunan pendopo, agar waktunya lebih efektif.

28 Juni 2018, kami memulai explore di daerah Cibom menuju tanjung Layar.saya, Lombeh, lampos, pak samaya dan pak nul di tim explore, dua orang lainnya menjaga tempat camp. Explore dilakukan mulai pukul 18.15 sampai 14.00 WIB. Selama explore kami menemukan jejak ditanah diperkirakan jejak karnivor macan yaitu dengan ukuran 9×10 cm, jejak badak, jejak banteng, jejak babi hutan, dan perlintasan hewan karnivor. Selama perjalanan vegetasi dalam hutan yaitu pohon Karemi, pohon Kiyara, pohon Kitanjung ,pohon Nyamplung dan pohon Jawar. Terdapat Ayam hutan, burung Rangkong, Monyet ekor panjang, burung Bangau dan Musang. Sedikir bercerita, daerah Cibom hingga tanjung layar dulunya merupakan tempat kerja rodi romusa pada zaman penjajahan, disana terdapat bangunan yang dulu adalah bekas gudang senjata, Mercusuar, dan bangunan bekas penjara. Juga terdapat kuburan orang-orang di zaman penjajahan yang mati karena malaria.

Baca juga  Menuju Persma yang Now

Explore hari pertama nihil, kami belum menemukan tanda-tanda keberadaan kucing besar, Harimau Jawa. Selain itu kami juga meneliti lingkungan sekitar, seperti jenis mata air, batuan, dan tanah. Dengan meneliti hal hal tersebut dapat berkesinambungan dengan fauna-fauna yang ada di hutan. Tempat camp kami yaitu Cibom dekat dengan muara sungai, yang air-nya mengandung kapur.

Malam pun tiba, setelah makan kami evaluasi dan merancang rencana untuk esok hari, 29 Juni 2018. Kami bergerak menuju Cirame kecil. Pukul 07.50 WIB kami mulai bergerak dan melakukan explore lagi. Diperjalanan sambil melakukan penelitian, kami menemukan jejak Banteng, jejak Badak, garukan hewan karnivor ditanah, jejak karnovor ditanah, jejak Babi hutan, cakaran karnivor di pohon dan Feses. Untuk vegetasi dalam hutan yaitu pohon Kiyara, Bambu, Cerlang, Langkap dan Pandan. Untuk informasi saja, saat kami menemukan tanda-tanda karnovor maupun hewan pre, kami mengidentifikasi dengan mengukur panjang, lebar, tinggi dan ciri-ciri lain, titik koordinat penemuan, arah jejak dan lain sebagainya. Catatan-catatan itu yang nantinya menjadi bahan penelitian kami.

Sesampainya di Ciramea kecil, kami membangun shelter, masak dan makan. Shelter yang digunakan untuk 3 hari kedepan karena kami akan berkegiatan didaerah Ciramea. Lokasinya dekat muara sungai,  dengan air sungai yang bersih dan dekat pantai, terlihat pula kapal tongkang yang terdampar pada tahun 2017.

30 Juni 2018, Kami membagi tim explore dan jaga camp. Alton, lampos dan viki bersama bapak pendaping melakukan explore menuju Tanjung layar/Ewog, saya dan lombeh menjaga camp. Pukul 12.30 WIB mereka melanjutkan explore menuju sungai dan susur sungai samapai sore tiba. Sementara hasil penemuan masih sama dengan penemuan-penemuan hari sebelumnya yaitu, jejak karnovor dan jejak pre. Hari yang melelahkan, kami memasak dan makan bersama. Di hutan kami memanfaatka hal-hal yang bisa dimanfaatkan namun tidak merusak hutan. Ketika  malam tiba, tidur kami sangat tidak nyenyak karena banyak nyamuk-nyamuk malaria yang ganas. Untung kami tidak terkena penyakit ganas itu, karena memang sudah ada prosedurnya, yakni minum obat anti malaria sebelum berkegiatan. Jadi memang harus banyak persiapan untuk melakukan kegiatan di alam bebas ini.

1 Juli 2018, seperti biasa kami melakukan explore lagi. Memang terdengar membosankan, namun begitulah, setiap hari hanya explore dan penelitian. Hari itu explore dilakukan di daerah Ciramea besar dengan menyusuri sungai Ciramea. Kami berjalan di Pesisir pantai, dengan sejuta keindahan yang terbentang luas. Perjalanan yang cukup melelahkan karena sepanjang perjalanan kami berjalan di pasir pantai yang berat. Tak banyak yang kami temukan disini, hanya jejak pre saja. Kami tidak menemukan karnivor..

Baca juga  UKM INKAI Siap Menggelar Kejurnas Karate ke IX

Pada tanggal 2 Juli 2018, Sapuan zona kami kali ini di daerah Cikalapberem,dengan  Jarak perjalanan yang lumayan jauh, karena harus melewati Ciramea untuk menuju ke Cikalapaberem. Temuan-temuan juga masih nihil, kami hanya mendapatkan jejak dan feses pre.

Setelah kami beriskusi panjang dan mempertimbangkan kebutuhan logistik, ternyata kebutuhan logistik kami tidak mencukupi untuk berada disini lebih lama, hanya cukup untuk sehari lagi. Disisi lain tugas penyapuan zona 6 sudah tersapu semua sehingga kami memutuskan untuk kembali menuju ke Cidaun. Cidaun adalah tempat semua tim berkumpul. Karena banyak pertimbangan, salah satunya adalah logistic maka pada hari itu juga, tanggal 3 juli 2018, kami memutuskan pulang, dengan berjalan dan explore sepanjang jalan menuju Cidaun. Banyak temuan-temuan karnivor namun diduga itu ciri-ciri macan. Jejak kaki, garukan di pohon dan garukan di tanah macan. Setengah perjalanan kami lewati hingga sampai di Cikembang. Kami istirahat sejenak dan diskusi kembali, alasan yang kuat karena logistic habis, kami memutuskan tidak melanjutkan perjalanan menuju ke Cidaun, kami menuju ke pulau Peucang. Dengan pertolongan Allah, kami dipertemukan dengan kapal nelayan, karena untuk menuju pulau Peucang harus menyebrang laut.

Hari salanjutnya 4 Juli 2018, kami mencari signal untuk dapat berkomunikasi dengan tim pilar dan tim lainnya, karena selama di hutan kami tidak mendapat signal untuk komunikasi. Kami melaporkan kondisi tim . Keberadaan kami di pulau Peucang menjadi pusat informasi bagi tim pilar dan tim yang ada di Cidaon. Sehingga beberapa hal dapat tersampaikan dengan baik. Tim zona 6 selama 3 hari di pulau Pecang menunggu tim lainnya turun. Pada 5 Juli 2018 tim 1,2,3,4 merapat menuju pulau Peucang. Alhamdulillah semuanya baik-baik saja, namun tim zona 6 yang masih tertinggal. Mereka sesuai dengan intruksi awal pada tanggal 6 juli 2018 zona 6 merapat ke Cidaun dan langsung dibawa ke pulau Peucang. Hari itu juga, kami langsung bergegas menuju dermaga Tamanjaya. Misi telah terselesaikan selama 10 hari, melakukan penelitian di hutan Ujung Kulon. Kami membuat laporan tiap tim dan dipresentasikan apa saja yang dilakukan dan ditemui saat di lapangan . Temuan-temuan tim di kumpulkan dan diteliti oleh ahli karnovor.

Tanggal 8 Juli 2018 upacara penutupan Ekspedisi Pencinta Alam Indonoesia menjemput Harimau Jawa dan kembali menuju rumah-masing-masing.

Septiana Hanif, Anggota Mahasiswa Pecinta Alam UIN Sunan Kalijaga, mendedikasikan jiwa dan raga untuk menjaga eksploitasi alam dari kerakusan kapitalisme.

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of