Petugas Posko Kurang Memahami Kebijakan Wajib Pesantren

  • 1
    Share

Petugas Posko Kurang Memahami Kebijakan Wajib Pesantren

Lpmarena.com- Sekitar pukul 08.40 WIB beberapa mahasiswa dan orang tua wali yang telah melakukan pemberkasan mendatangi posko yang disediakan bagian kemahasiswaan UIN Sunan Kalijaga. Mereka bertanya seputar kejelasan program pesantren seperti daftar pesantren yang bermitra dengan kampus dan beberapa pertanyaan lain terkait program wajib pesantren. Sayangnya, petugas penjaga posko yang kurang memahami kebijakan tersebut justru membuat orangtua wali mahasiswa kebingungan.

Hal ini tampak dari Aryamanto, orang tua wali dari Rahmaal Dheskascarayu Syifaamini mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika. Ketika Aryamanto bertanya apakah putrinya bisa mengikuti program pesantren tahun depan, bagian kemahasiswaan yang bertugas di posko menyatakan harus tahun ini. Petugas tersebut juga tampak latah saat menjawab pertanyaan Aryamanto. Dia justru menyarankan agar menemui Dekan Fakultas Sains dan Teknologi (Saintek).

Aryamanto yang mengaku baru mengetahui informasi wajib pesntren kemarin hari di pos yang sama. Pasalnya, pernyataan tersebut berbeda dengan jawaban dari petugas di hari sebelumnya yang menyatakan bahwa mahasiswa bisa mengikuti program wajib pesantren pada tahun kedua perkuliahan, atau bahkan tahun selanjutnya.

“Dan hari ini beda lagi jawabannya,” tutur orang tua wali dari Sragen itu.

Padahal, berdasarkan pernyataan langsung dari Boy Fendriya Djatmika selaku Kabag Kemahasiswaan dan WR III Bidang Kemahasiswan dan Kerjasama, Waryono Abdul Ghofur, mahasiswa baru yang tidak bisa mengikuti program pesantren tahun ini bisa mengikuti program tersebut tahun depan.

Mendaftar Langsung ke Pesantren

Sebelumnya, ditemui ARENA pada Selasa pagi (31/07), Boy Fendriya Djatmika mengungkapkan bahwa mahasiswa tetap harus melakukan pendaftaran secara langsung pada pesantren terkait. Posko tersebut lebih berfungsi untuk menjelaskan dan mengarahkan mahasiswa baru tentang program wajib pesantren. Mereka memang disilakan untuk mengisi data diri pada lembar beberapa pondok pesantren yang mereka pilih, meliputi nama, program studi, dan nomor telepon.

Baca juga  Sekolah Relawan, Cetak Relawan Humanis

Dari posko tersebut mahasiswa baru tidak mendapatkan surat rekomendasi atau pengantar untuk pesantren yang akan mereka tempati. Sebab, pihak pesantren yang telah bermitra dengan UIN Sunan Kalijaga telah ditemui oleh Wakil Rektor (WR) III BIdang Kemahasiswan dan Kerjasama Waryono Abdul Ghofur. “Semua pun pada akhirnya bakal langsung (daftar di pesantren).”

Boy juga menjelaskan, setelah melakukan pengumpulan berkas di Pusat Layanan Terpadu (PLT) yang terletak di gedung Rektorat Lama, mahasiswa baru diarahkan untuk mendaftar di posko pesantren yang disediakan bagian kemahasiswan di sebelah kiri sekretariat PLT.

“Ada orang bagian kemahasiswaan yang ngepos di sana,” ungkap Boy pada ARENA di ruang tunggu gedung KH. Syarifudin Zuhri (Rektorat) lantai satu.

Selain itu bagian kemahasiswaan akan melakukan pendataan dan melakukan kroscek mahasiswa baru yang terkena program wajib pesantren. Dari sana, mahasiswa baru yang belum mengikuti program pesantren dan belum melapor pada bagian kemahasiswaan akan ketahuan dan mendapat teguran langsung dari pihak kampus.

Menganai bantuan transportasi untuk mahasiswa baru dengan lokasi pesantren yang jauh, Boy menjelaskan, bantuan tersebut hanya diberikan untuk santri pondok pesantren Nawasea yang diasuh oleh Rektor Yudian Wahyudi. bantuan tersebut pun hanya berlangsung selama pelaksanaan Pengenalan Budaya Akademik (PBAK). “Selanjutnya terserah mahasiswa,” tututr Boy.

Reporter: Syakirun Ni’am

Redaktur: FIkriyatul Islami

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of