Wali Mahasiswa Keberatan Wajib Pesantren

Wali Mahasiswa Keberatan Wajib Pesantren

  • 46
    Shares

Wali Mahasiswa Keberatan Wajib Pesantren

Lpmarena.com– Aryamanto, orang tua wali dari Rahmaal Dheskascarayu Syifaamani, mahasiswa baru Program Studi (prodi) Pendidikan FIsika Fakultas Sains dan Teknologi (Saintek) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, menyatakan keberatan dan tidak setuju dengan program wajib pesantren. Hal tersebut ia sampaikan kepada ARENA saat ditemui di gedung Rektorat Lama lantai satu, Selasa pagi (31/07).

Menurut Aryamanto, dengan adanya program wajib pesantren konsentrasi belajar anaknya dalam menempuh studi Strata Satu bisa terganggu. Tugas perkuliahan yang tidak bisa diselesaikan dari pukul 07.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB akan dilanjutkan pada malam hari. Sementara, dengan status ganda sebagai santri, mahasiswa akan kelelahan karena harus mengikuti kegiatan pesantren di malam dan pagi hari.

Kan, tidak punya waktu untuk menyelesaikan itu (tugas/Red),” tutur orang tua wali asal Sragen tersebut.

Ketika mendengar pernyataan program  wajib pesantren merupakan salah satu agenda pembelajaran baca-tulis Al Qur’an dan mengatasi berkembangnya radikalisme di perguruan tinggi, Aryamanto berpandangan lain. Menurutnya, pembangunan karakter dan pendidikan keagamaan anak tidak hanya bisa ditempuh melalui jalur formal seperti pondok pesantren.

Perguruan tinggi bisa membentuk dan menanamkan materi pembelajaran yang pancasilais dan mengadakan kegiatan-kegiatan kemahasiswaan. “Kalo lewat kegiatan kemahasiswaan monggo lah,” kata Aryamanto. “Menurut saya jika di-polling banyak yang nggak setuju.”

Mengenai pembiayaan, Aryamanto berharap pihak kampus dan pesantren mitra mempertimbangkan kemampuan ekonomi keluarga. Ia menyandingkan dengan sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT). Bagi mahasiswa dengan UKT golongan I, semestinya diberi keringanan biaya masuk pesantren. Begitu pula mereka yang mendapatkan UKT golongan II dan berikutnya.

Aryamanto tengah mencari jalan agar anaknya bisa tidak mengikuti program wajib pesantren. Mendengar kabar Wakil Rektor III menyampaikan mahasiswa bisa tidak mengikuti program pesantren dengan syarat mengajukan surat keberatan dan lolos tes baca-tulis Al-Quran, serta kabar salah satu orang tua mahasiswa Ilmu Komunikasi yang sudah mengajukan surat keberatan, ia tampak antusias. Aryamanto meminta contoh format surat keberatan mengikuti program wajib pesantren  dan menyatakan bahwa anaknya siap dites.

Baca juga  Forkom UKM, Bukan Arena Politik

“Kalau mau dites, monggo,” tukasnya.

Menanggapi program wajib pesantren ini, Septiana Hanif Tri Armananti, mahasiswa Prodi Pendidikan Kimia angkatan 2014 berpendapat kebijakan tersebut kurang memepertimbangkan banyak aspek. Berdasarkan pengalamannya, masa semester satu sampai dengan empat kegiatan akademik sangat padat. Perkuliahan bisa baru selesai pada pukul 17.00 WIB, bahkan 17.30 WIB.

“Terus ada praktikum juga,” tutur Ian, sapaan akrabnya, saat dihubungi ARENA melalui Whatsapp pada Rabu siang (01/07).

Dampak pada UKM dan Organisasi

Septiana Hanif Tri Armananti  menuturkan, program wajib pesantren juga akan berdampak pada kaderisasi organisasi kampus, baik organisasi intra kampus seperti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) maupun organisasi ekstra. Sebab, kegiatan pesantren yang berlangsung sejak sore sampai malam dan dilanjutkan pagi hari, bertabrakan dengan kegiatan UKM dan organisasi lainnya.

Sejak pagi hingga sore mahasiswa disibukkan dengan kegiatan akademik, anggota UKM dan organisasi pada umumnya berkegiatan sore sampai malam. Ian yang aktif di UKM Mahasiswa Pecinta Alam UIN Sunan Kalijaga (Mapalaska) merasa gelisah dengan kebijakan ini. Sebab, Pendidiakn Tingkat Lanjut—salah satu agenda organisasi yang penting di Mapalaska, biasanya dilaksanakan pada hari Sabtu dan Minggu.

“Sepengetahuanku, temen-temen yang mondok mau ijin kegiatan di luar susah,” jelas Ian.

Ian sendiri mengaku kagum kepada teman-temannya yang di pesantren. Di luar jadwal kuliah, mereka mengaji sampai pukul 22.00 WIB, setelah itu baru mengerjakan tugas. Menurutnya, sebagian besar  teman-temannya yang di pesantren tidak ikut UKM ataupun organisasi. “Karena sudah full, di pesantren banyak kegiatan to,” tutur Ian.

Sebelumnya, pada 5 Juli 2018 Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengeluarkan Pengumuman Nomor: B-3810/Un.01/R/PP.00/07/2018 Tentang Kewajiban Mengikuti Pesantren Untuk Mahasiswa Baru Prodi Umum Tahun Akademik 2018/2019. Melalui pengumuman ini, mahasiswa prodi umum lulusan SMA atau SMK wajib mengikuti program wajib pesantren selama dua semester.

Baca juga  Siapa Aku Ini dalam Kenyataan?

Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama Waryono Abdul Ghofur mengungkapkan kebijakan ini merupakan isntruksi dari Kementerian Agama melalui surat bersifat penting Nomor: Dj.I/Dt.I.IV/PP.00.9/2374/2014 tentang Instruksi Penyelengaraan Pesantren Kampus (Ma’had Al-Jami’ah).

Reporter: Syakirun Ni’am

Redaktur: Fikriyatul Islami

Sumber Gambar: jambi.tribunnews.com

Komentar

komentar

1
Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of

Kalau saya sih setuju-setuju saja