Menerima Diri Langkah Awal Menebar Toleransi

Menerima Diri Langkah Awal Menebar Toleransi

  • 16
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    16
    Shares

Menerima Diri Langkah Awal Menebar Toleransi  lpmarena.com

Oleh: Anisa Dewi Anggriaeni

Maraknya konflik kekerasan berbasis agama tidak bisa kita pungkiri, mulai dari prasangka, stigma negatif, fanatisme atau kepentingan-kepentingan yang menggunakan agama sebagai senjata untuk mengalahkan lawan.

Di tahun-tahun menyambut pesta demokrasi seperti sekarang isu SARA bisa sangat mendongkrak elektabilitas. Berbagai macam narasi yang dikemas sedemikian rupa hingga membuat skeptis atau mosi tidak percaya kerap digempurkan. Imbasnya pada masalah intoleransi yang kian menjadi. Konflik-konflik yang muncul dilatarbelakangi oleh berbagai hal. Mulai dari perbedaan kepentingan, perbedaan interpretasi yang merambat pada perbedaan budaya, geograifs dan perbedaan ideologi.

Mengatasi masalah intoleransi dapat diantisipasi dengan berbagai perspektif dan yang paling sederhana adalah dimulai dari diri sendiri. Menerima diri dengan mencintai semua-mua kekurangan dan kelebihan sebagai modal awal untuk menyalurkan nilai-nilai perdamaian. Seseorang akan kesulitan menebar nilai toleransi kala belum berdamai dengan diri sendiri. Bagaimana bisa menyebarkan nilai-nilai perdamaian saat diri sendiri saja belum damai. Untuk bisa mengalami perdamaian dalam diri tentu saja melalui proses yang bisa dikatakan panjang.

Selain menerima diri, memaafkan segala luka juga menjadi faktor dalam berdamai dengan diri. Tidak merasa hina dan merendahkan orang lain sebab pada dasarnya identitas utama dan yang paling pertama bahwa kita adalah manusia. Sebagai ciptaan Tuhan yang memang harus memuliakan Sang penciptanya.

Mengatasi prasangka, penghakiman yang sering dilakukan lantaran tidak adanya pemahaman yang mendalam menjadi hal yang berbahaya. Di satu sisi jika terus dibiarkan akan menjalar dan general view akan sesuatu menjadi pemakluman dalam konteks agama misalnya. Saat melihat yang lain berbeda dari kebanyakan.

Baca juga  Tawaran Beasiswa LPDP untuk Mahasiswa Berprestasi

Prasangka malah dapat dikatakan sebagai sebuah penghakiman. Bila asumsi adalah dasar atau pemikiran yang paling pertama maka prasangka itu sendiri pendapat yang kurang baik sebelum diselidiki. Akibatnya memunculkan berbagai macam stereotip; prasangka yang sudah digeneralisir.

Konsep diri yang erat dengan pandangan terhadap lingkungan dapat diminimalisir dengan mengurangi prasangka. Pun keinginan berkompetisi kerap menimbulkan permusuhan dan penilaian negatif terhadap kelompok lain. Juga konformitas; kepatuhan terhadap nilai dalam kelompok yang jelas memunculkan prasangka dan stereotip.

Ada konsepsi negatif yang digambarkan komunitas agama untuk mempergunjingkan komunitas agama sebelah entah melancarkan ujaran kebencian yang kemudian menjadi produksi wacana. Dari berita atau general view wacana itu dibangun, akibatnya jika prasangka tidak segera dikelarkan menghasilkan stereotipe, penghakiman dalam wujud perkataan atau tindakan.

Allport dan Hunsberg menuturkan ada beberapa indikator perilaku akibat prasangka diantaranya menghindar, anti sosial, tindak kekerasan dan merendahkan yang lain. Ada perasaan superioritas dimana ia merasa paling hebat dan memandang yang lain lebih rendah darinya.

Untuk menghindari prasangka lebih jauh yang berimbas pada konflik maka perlu kiranya untuk mengantisipasi prasangka dengan cara menjalin interaksi dengan pribadi atau kelompok yang diprasangkai, klarifikasi langsung pihak-pihak terkait, menghargai keunikan pribadi suatu kelompok dalam artian perbedaan bukan dijadikan sebagai masalah utama untuk saling menghindar dan melakukan kerja nyata.

Hal sederhana yang mestinya bisa dilakukan bahkan tiap individu untuk menularkan nilai nilai perdamaian. Berdamai dengan diri adalah kunci. Ketika tidak bisa damai dengan diri, kita tidak bisa berdamai dengan orang lain. Memulai dari diri sendiri untuk kehidupan yang ‘madani’.

**Penulis adalah mahasiswi yang tidak bercita-cita menjadi pramugari. Sedang mengalami kegetiran lantaran kebutuhan hidup makin jauh dari jangkauan. Saat ini aktif di LPM Suaka UIN Sunan GunungDjati Bandung.

Gambar: peaceofmindset.wordpress.com

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of