Strategi Perez Memilih Julen Lopetegui, Usaha Mengamankan Pemain Muda

Strategi Perez Memilih Julen Lopetegui, Usaha Mengamankan Pemain Muda

  • 5
    Shares

Strategi Perez Memilih Julen Lopetegui, Usaha Mengamankan Pemain Muda lpmarena.com

Dalam sepakbola tujuan utama adalah memperoleh kemenangan, dan kunci dari itu adalah pelatih. Sebaik apapun skuad pemain, jika pelatih tidak cerdas, dapat dipastikan hanya menghabiskan musim tanpa gelar. Sangat dimaklumi jika tim sekelas Real Madrid sangat kawatir paska Zidane mengumumkan pengunduran diri sebagai pelatih El Real, pasalnya dibawah besutan Zizou El Real sukses menjuarai tropi Liga Champions tiga kali beruntun, satu gelar La Liga pada musim 2016/17, dua gelar piala Super Eropa.

Kekawatiran itu terlihat dari Managemen El Real, yang mempersiapkan musim baru tanpa dengan kegemilangan yang sama, seperti pada musim-musim sebelumnya. Lobbying dan agitasi digencarkan, guna menegaskan siapa suksesor berikutnya. Isu yang berkembang di media yang mengaitkan dengan beberapa pelatih ternama jadi kilas balik, sebut saja Pochettino, Arsene Wenger hingga Guti. Hingga akhirnya keputusan mencengangkan jatuh pada pelatih yang sedang fokus bersama La Roja, Julukan Timnas Spanyol, jelang Piala Dunia 2018, yakni Julen Lopetegui. Tanpa ada pemberitaan media Spanyol, seperti Marca dan media yang lain.

Pengumuman resmi ditunjuknya Lope sebagai pelatih oleh manajemen Madrid pada Selasa (12/6), membuat Presiden Federasi Sepak Bola Spanyol, Real Federación Española de Fútbol (RFEF),  Luis Rubiales kecewa dengan Lopetegui yang meneken kontrak dengan Real Madrid hanya beberapa hari sebelum Piala Dunia 2018 bergulir. “Negosiasi dengan Madrid dilakukan tanpa sepengetahuan Federasi. Saya tidak merasa dikhianati oleh Lopetegui, dia hebat di sini, tapi sayang begitu caranya.” Ungkap Luis di konferensi pers pada Rabu (13/6).

Ketua Federasi Sepakbola Spanyol, Rubiales merasa tak ada koordinasi terkait negosiasi antara Lopetegui dan Madrid. Kasus ini serupa dengan Van Gaal pada tahun 2014 dan Luis Aragones 2008, kasusnya hampir serupa. Namun baru Lope yang dipecat sebelum menunaikan tugasnya di Piala Dunia.

Strategi Florentino Perez

Strategi politik manajemen Perez absolut, sebagai pengganti Lope di timnas Spanyol, Fernando Hierro disiapkan dan diangkat menjadi head coach yang notabene Madrid legend. Kedekatan beberapa pemain dengan Lope di timnas pun jadi momentum yang tepat, contoh De Gea dan bek kanan Odriozola jadi acuan utama Madrid di jendela transfer musim panas nanti.

Baca juga  SIA, Sia-sia Dibuat?

Timnas Spanyol boleh saja jumawa, mengingat satu dekade sudah mereka lewatkan bersama Bosque dengan raihan trofi 1 Piala Dunia pada 2010 dan 2 Euro pada 2008 dan 2012. Saat itu Timnas Spanyol didominasi pemain-pemain dari Barcelona, yang dalam performa terbaiknya di bawah asuhan Pep Guardiola. Namun semua telah berbeda setelah buruknya penampilan Spanyol di Piala Dunia 2014 dan Euro 2016. Di bawah asuhan Lope, La Furia Roja seakan bangkit dari keterpurukan, bukti nyata ia tunjukkan di kualifikasi jelang Piala Dunia 2018 dengan 14 kali menang dan enam kali hasil imbang. Itu berarti presentase kemenangan Lope mencapai 70% dalam 20 laga yang sudah ia lewatkan sejak 21 Juli 2016. Berbanding lurus dengan Madrid, yang tampil istimewa bersama Zidane sebagai raja Eropa tiga musim belakangan,  Spain adalah Madrid, dan Madrid adalah Spain. Seolah mengisyaratkan  bukan lagi eranya tiki-taka ala Barcelona, melainkan sepak bola khas Real Madrid, terbukti dengan lebih banyak pemain Madrid yang andil di timnas, ketimbang jebolan La Masia.

Boleh saja ini jadi langkah strategi ‘Kakek Tua’ itu, guna menghentikan dominasi Blaugrana, baik di level klub atau tim nasional. Juga sebagai pembuktian, bahwa Madrid tak hanya senang pengumpulkan pemain bintang tapi juga haus prestasi. Dari sejak awal jadi orang paling ‘tinggi’ di Bernabeu, ia gemar sekali menghadirkan pelatih dan pemain kelas wahid. Sebabnya, si putih acap kali disebut Los Galacticos, tim bertabur pemain bintang.

Lopetegui Bukan Orang Baru Bagi Madrid

Julen Lopetegui bukan orang baru di Madrid, meski namanya terdengar asing bagi beberapa orang. Pria asli kelahiran Spanyol ini melakoni Karirnya sebagai seorang penjaga gawang, yang tumbuh dan besar di akademi Real Sociedad, sebelum akhirnya ia berseragam si putih di tim junior Real Madrid Castilla, di sana ia hanya menghangatkan bangku cadangan saja selama tiga musim. Setelah itu, Madrid meminjamkannya ke Las Palmas, sebelum debutnya di tim senior. Kala itu jumpa tim sekota, sekaligus debutnya di laga El Derby Madridleno yang berakhir imbang 3-3 pada musim 1989-90.

Baca juga  MEMBELOT

Setelah hanya bermain sekali saja pada laga tersebut, ia pun memutuskan untuk hengkang ke klub Lagrones selama tiga musim pula. Perjalanan karirnya tidak sampai di situ, hal yang paling mengejutkan adalah ketika ia hijrah ke tim musuh abadi El Real, yakni Barcelona dan lagi-lagi ia hanya melakoni lima caps saja, hingga berakhir di Rayo Vallecano dan menghabiskan sisa karirnya di sana.

Memang, sebagai pemain, tak ada yang istimewa dengan karir Julen. Mungkin alasan Perez mengapa ambil sikap dengan menunjuknya, adalah lebih karena, menurut media Spanyol, Marca: pertama, ia sukses   bersama timnas Spanyol U-19 dan U-21. Lope bisa dianggap sebagai salah satu tokoh yang menelurkan generasi tim Matador saat ini. Di bawah kepemimpinannya saat itu, La Roja tampil ciamik dengan mempersembahkan satu gelar Piala Eropa pada 2012 dan 2013 di usia 19 dan 21. Fransisco Roman Alarcon atau yang biasa kita sebut Isco dan Thiago Alcantara adalah punggawa andalannya saat itu, ia pula yang berjasa menerbitkan sejumlah bibit muda di Madrid B. Salah satunya yakni, Nacho Fernandez, yang ia promosikan ke skuad utama. Kedua, Julen menyelamatkan karir Casemiro yang tengah terpuruk, setelah hanya jadi penghangat bangku cadangan Real di bawah asuhan Don Carlo pada musim 2013-14. Di musim yang sama, setelah sukses bersama tim Spanyol junior, Lope ketika itu menunggangi FC Porto, lalu ia meminjamnya dari Madrid. Di Porto, Casemiro jadi sosok penting bagi FC PORTO. Alasan itu pulalah yang membuat Los Blancos menariknya kembali. Sejak saat itu Casemiro menjadi gelandang utama bersama Kroos dan Modric di era Zizou.

Muhammad Najib Zain, Pegiat literasi di dunialiterasi.co.id

Sumber Gambar: Bola.com

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of