Islam dan Budaya Anti Korupsi di Sekolah

  • 2
    Shares

Islam dan Budaya Antikorupsi di Sekolah

Oleh: A Budiyanto*

Menurut data dari Transparency International (TI), yang meluncurkan Corruption Perception Index (CPI) pada Tahun 2016, Indonesia mendapatkan skor 37 dari 100. Menempati ranking ke 90 dari 176 negara yang diteliti oleh CPI. Skor 37 tersebut mengindikasikan tingkat korupsi di sektor publik yang terdeteksi. Dengan skor tersebut,  Indonesia masuk dalam Red Countries yang menunjukkan bahwa rakyat dan negara Indonesia sedang  menghadapi dampak yang nyata dari korupsi dalam kehidupan sehari-hari.

Korupsi seakan sudah menjalar pada kehidupan masyarakat Indonsia. Bahkan, masyarakat sudah tidak asing lagi dengan pemberitaan Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK baik di media massa mauupun media cetak. Hampir setiap hari masyarakat disuguhkan dengan pemberitaan penangkapan pejabat publik yang melakukan tindak korupsi.

Islam sebagai agama Rahmatallil ‘alamin, mengajarkan kepada kita untuk tidak “memakan harta orang lain dengan cara yang bathil”. Ajaran Islam melarang kita untuk melakukan korupsi. Walaupun tidak secara langsung menyebutkan kata “korupsi”, tetapi bisa diartikan sebagai tindakan mengambil harta orang lain, dan perbuatan inilah yang dilarang. Seperti yang sudah dijelaskan dalam Al Qur’an surat Al-Baqarah ayat 188:

“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.”

Sekolah Islam dan Budaya Anti-Korupsi

Daya dan upaya pun terus dilakukan baik oleh masyarakat ataupun pemangku kepentingan negeri ini untuk melawan virus korupsi. Bidang pendidikanpun menjadi garda terdepan untuk membentengi masyarakat dari pengaruh dan iming-iming tindakan korupsi.

Baca juga  Haluan Soeharto ke Kubu Hijau

Menurut Ki Hadjar Dewantara, pendidikan yaitu, menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat, dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya (2011:20). Pendidikan harus menyelamatkan manusia sebagai anggota masyarakat dari tindakan korupsi agar tidak terjerembab dalam lubang kesesatan dan kedzaliman yang nyata.

Menurut Al-Ghazali seperti yang dikutip Abidin Ibn Rush, (1998:60) bahwa tujuan pendidikan antara lain adalah: 1) Mendekatkan diri kepada Allah yang wujudnya adalah kemampuan dan dengan kesadaran diri dengan melaksanakan ibadah wajib dan sunnah; 2) Menggali dan mengembangkan potensi atau fitrah manusia; 3) Mewujudkan profesionalisasi manusia untuk mengembangkan tugas keduniaan dengan sebaik-baiknya; 4) Membentuk manusia berakhlak mulia, suci jiwanya dari kerendahan budi dan sifat-sifat tercela; dan 5) Mengembangkan sifat-sifat manusia yang utama sehingga menjadi manusia yang manusiawi.

Sekolah sebagai lembaga formal dalam proses pendidikan memiliki peran yang penting dalam keberhasilan pendidikan. Sesuai dengan tujuan pendidikan yang disampaikan oleh Al Ghazali di atas, maka pendidikan, terutama di sekolah yang berbasis Agama Islam, harus berpedoman kepada Al Qur’an dan Hadist Nabi Muhammad SAW. Salah satunya dalam mengimplementasikan Q.S Al-Baqarah ayat 188 di atas, yang secara tidak langsung mengajak kita untuk tidak melakukan tindakan korupsi.

Sekolah sebagai salah satu bagian dari masyarakat bisa menjadi tempat dalam membentengi manusia agar  tercegah dari berkembangnya mental korupsi. Sekolah juga bisa sebagai tempat untuk menyemai semangat antikorupsi dan penanaman pola pikir, sikap, dan perilaku antikorupsi.

Sekolah bisa menjadi tempat pembudaya antikorupsi dan berperan dalam pencegahan (preventif) korupsi. Pendidikan di sekolah merupakan salah satunya cara untuk mengurangi korupsi, dengan memberikan pendidikan nilai kepada peserta didik, terutama nilai-nilai keIslaman yang sarat dengan budaya antikorusi. Nilai yang digunakan untuk menghindar dan membentengi diri dari tindakan yang korup. Selain itu, sekolah juga perlu memberikan pemahaman terkait korupsi dan tindakan antikorupsi yang baik.

Baca juga  Sosok Kiai Sahal dalam Dunia Politik

*Penulis adalah Pengajar muda SDIT Salsabila Al Muthi’in Bantul, Instruktur Nasional Guru Pembelajar Kemwndikbud, dan aktif di Komunitas Pejuang Muda Indonesia.

Sumber gambar: Tempo.co

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of