73 Tahun Berburu Makna Kemerdekaan

  • 5
    Shares

73 Tahun Berburu Makna Kemerdekaan

Oleh: Ilham Rusdi*

Menata ulang konsepsi terkait kemerdekaan adalah sebuah rutinitas menyejarah yang selalu kita ulang-ulang. Bahkan tiap tahun kita terus memperbarui makna kemerdekaan sesuai konteks zaman. Hampir separuh hidup selama 73 tahun, diperuntukkan berburu makna kemerdekaan yang terus kusam. Apa arti sebuah merdeka, kemerdekaan, memerdekakan atau dimerdekakan?

Kata merdeka selalu berubah-ubah dan yang memperumit sebetulnya adalah daya eksploitatif terhadap maknanya yang begitu kuat. Maknanya akan bergantung pada siapa, kapan dan di mana kata “merdeka” itu dieksploitasi. Bagi penguasa (tidak bermaksud menuduh pemerintah atau pemodal), biasanya kemerdekaan cukup dimaknai bilamana rakyat terlihat baik-baik saja. Seperti, tak diusik atau dilukai martabat dan kebebasannya sebagai manusia.

Namun sebagian masyarakat kecil (tertentu), justru kerapkali memandang kemerdekaan dari terminologi yang berbeda. Mereka merasa menjadi representasi golongan yang bingung memaknai cara merdeka orang-orang di sekitarnya. Sehingga kemungkinan besar, seremonial menyambut kemerdekaan hanya dianggap sebatas euforia belaka. Bak acara huru-hara.

Bagi masyarakat kecil tertentu, hampir makna kemerdekaan selalu terkontekstualisasikan langsung dengan kehidupan finansial mereka. Sebab, banyak orang yang kadang tak sengaja mengukur kemerdekaan masyarakat kecil dengan cara-cara ekonomis. Seperti anggapan, orang miskin adalah orang yang belum merdeka. Sebuah gambaran kemerdekaan yang seolah-olah bergantung pada sirkulasi kebutuhan ekonomi. Meskipun sebetulnya ada banyak aspek yang menjadi komponen dalam meraih kemerdekaan.

Dengan demikian, apa mungkin kita juga mengakui makna kemerdekaan bagi masyarakat kecil bergantung pada hal-hal ekonomis?

Mungkin saja iya, bila dampak ekonomi dianggap lebih signifikan mempengaruhi kemerdekaan manusia ketimbang aspek politik, agama, sosial, budaya dan lainnya. Apalagi para Ekonom, terutama yang condong beraliran Marxis ortodoks, sebagian masih meyakini adanya determinasi ekonomi. Ditambah lagi jika dikait-kaitkan (cocokologi-kan) dengan keadaan di era sekarang yang kata aktivis sangat hegemonik dan kapitalistik. Tentulah tipikal masyarakat tersebut yang hidup di zaman ini, akan sangat mudah digerogoti kemerdekaannya.

Baca juga  Mengingat Kembali Perjuangan Para Pahlawan

Tanggapan semacam di atas, hanyalah sebuah contoh termin yang berupaya memaknai kemerdekaan pada satu perspektif dalam beragam aspek kehidupan. Masih banyak aspek lain, semisal aspek politik, agama, budaya dan sosial yang menjadi alasan orang untuk memaknai kemerdekaan. Toh, mereka punya tolak ukur kemerdekaannya masing-masing.

Upaya mengakomodir makna kemerdekaan yang bermacam-macam itulah, yang kerap memicu perdebatan yang tak kunjung usai. Kita selalu berkutat merumuskan perdebatan makna kemerdekaan yang terus bergulir dari zaman ke zaman. Dulu, kemerdekaan suatu bangsa dan negara diakui ketika negara punya pemerintahan, wilayah, warga, dan pengakuan dari negara lain. Saat ini kita sudah punya keempatnya, tapi mengapa justru makin membuat kita rumit mendeskripsikan makna kemerdekaan yang sebenarnya? Atau jangan-jangan kita memang belum merdeka?

Mungkin sudah benar kata orang, bahwa makna kemerdekaan rentan menyesuaikan dengan kebutuhan zaman. Tergantung kapan dan siapa yang mengeksploitasi maknanya, serta untuk kepentingan apa. Sehingga bikin njlimet dan sukar dipahami.

Oleh karenanya, hal ini menjadi sebab yang kadang tak disadari bahwa ternyata, separuh hidup kita pasrahkan untuk berburu dan memaknai ulang arti sebuah kemerdekaan. Bermula dari sebuah perdebatan kecil hingga perdebatan panjang memaknai kemerdekaan. Tahun demi tahun. Sia dan kesia-siaan. Pada akhirnya, makna kemerdekaan menjadi abstrak dengan sendirinya.

Menyikapi Kemerdekaan

Terlepas dari perdebatan makna kemerdekaaan di atas, ketemu atau tidak ketemunya makna kemerdekaan yang hakiki bukanlah sebuah hal yang harus diseriusi. Yang selalu terpenting dalam menyambut perayaan adalah bagaimana menyikapi hasil pemaknaan kemerdekaan kita masing-masing. Sehingga tak ada lagi kebingungan.

Oleh karena itu, tepat hari ini, 17 Agustus, adalah dirgahayu kemerdekaan Indonesia yang ke-73. Agar tak lagi jadi perdebatan, mari kita sepakat menganggap bahwa bangsa dan negara telah merdeka seutuhnya sebagai penghormatan terhadap leluhur. Begitulah, setiap perayaan mesti ada kejutan-kejutan.

Baca juga  Merdeka atau Pseudomerdeka?

Namun menariknya, tahun ini suasana kemerdekaan dihiasi oleh perhelatan olahraga akbar Asian Games. Putra-putri bangsa menorehkan prestasi sebagai kejutan. Tak lupa juga dengan kemeriahan agenda politik yang menghiasi perayaan kemerdekaan. Para politisi juga memberi banyak kejutan. Seperti, Sandiaga Uno yang memberikan kado 500 M kepada Prabowo Subianto sebagai jenderal yang berjasa pada bangsa , yang “mungkin” maksudnya adalah bentuk syukuran kemerdekaan. Atau “mungkin” juga, pergantian Cawapres tiba-tiba dari Mahfud MD ke K.H Ma’ruf Amin, adalah kejutan Jokowi kepada masyarakat dengan maksud menambah nuansa dan kemeriahan dirgahayu kemerdekaan. Mungkin saja.

Sebenarnya, yang terpenting dari keseluruhan tulisan ini adalah ucapan selamat ulang tahun Republik Indonesia. Selebihnya, hanyalah ngelanturan!

*Ilham Rusdi, dipaksa redaktur menuliskan artikel bertema dirgahayu kala sedang buntu-buntunya memaknai sebuah kemerdekaan.

Gambar

Komentar

komentar

2
Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Kulimaspul
Guest

Mantaplah