Calon Pelacur yang Manis

  • 5
    Shares

Calon Pelacur yang Manis Part II

Oleh: Khaerul Muawan

www.lpmarena.com

Selama enam tahun lebih aku dan Risma berjalan bersama waktu. Tak satu pun hari kami lalui untuk bersenang-senang seperti anak kebanyakan. Selama itu pula, ibuku jarang pulang ke rumah. Saat bangun pagi, Risma memasak sarapan. Ia belajar memasak dari teman-teman dan gurunya. Saat ia berangkat sekolah, saat itu pula aku berangkat bekerja. Aku menghabiskan waktuku di anjungan hanya berjualan keliling dan mengamen. Kusisakan uangku untuk ditabung. Penghasilan selama enam tahun membuat adikku bisa bersekolah dengan tenang. Sedangkan aku sudah tidak pernah mendapat cambukan lagi dari ibu.

Kehidupan ibu semakin berantakan. Terkadang ia pulang dalam keadaan mabuk saat larut malam. Kami hanya mengunci pintu kamar dan diam tanpa suara. Saat suara ocehannya menghilang, barulah kami keluar mencari tempat aman.

Biasanya, masjid di anjungan yang tak jauh dari rumah menjadi tempat untuk beristirahat. Kami tak peduli dengan angin malam atau pun hujan, yang jelasnya kami aman. Saat menjelang subuh, kami baru pulang ke rumah mengambil pakaian untuk kembali lagi ke masjid. Tanpa mandi pagi, Risma berangkat ke sekolah. Dan aku tetap bekerja.

Menjual minuman keliling tidak mutlak kukerjakan. Aku masih sering dengar rutinitas yang kulakukan sejak dulu, yaitu mengamen. Selama bertahun-tahun aku menyanyi untuk bertahan hidup, akhirnya membuat suaraku terdengar lebih indah. Dengan uang hasil mengamen itu, aku membeli gitar untuk memperindah syair lagu yang kunyanyikan. Aku tak pernah kekurangan untuk menghidupi adikku. Kini Risma juga semakin giat belajar. Tak ada waktu baginya selain membaca buku.

Selepas pulang sekolah, ia terlebih dahulu mendatangaiku di anjungan. Selama enam tahun pula, uang jajan yang kuberikan padanya hanya ditabung. Ia tidak pernah jajan di sekolah. Katanya, dia tidak akan bisa menyantap makanan jika tak bersamaku. Semua makanan dianggapnya sampah jika aku tak ikut makan bersamanya. Selama enam tahun, aku merasakan kebahagian hidup bersama Risma hingga tiba suatu malam dimana menjadi malam terakhir kebahagiaanku beraama Risma. Ia direnggut oleh suatu peristiwa, tepat di malam ulang tahunnya yang ke tujuh belas ditemani hujan deras dan suara gemuruh dari langit serta cahaya kilat.

Dalam kamar yang dihiasi balon warna-warni serta tulisan Happy Birthday, kami menikmati kue bolu sederhana dan satu lilin kecil. Kami memakai topi kerucut yang kubuat dari karton manila berwarna. Kami tertawa, bernyanyi sembari memainkan gitar dan meniup lilin kecil bersama-sama.

“Selamat ulang tahun ya, Dik! Semoga adikku yang cantik, manis, imut dan baik ini, umurnya dipanjangkan dan rezekinya terus bertambah serta sehat selalu!”

“Terima kasih kakakku yang tampan tapi bau!” Ujar Risma sembari tertawa kecil lalu mengecup pipi kiriku. Aku memeluknya penuh kebahagiaan. Tiba-tiba suara benturan pintu terdengar dari luar rumah.

“Risma?” teriak ibuku memanggil adikku.

Risma yang ketakutan segera memelukku dengan erat. Aku lupa mengunci pintu kamar, hingga pintu itu tiba-tiba terbuka. Ibu berjalan menghampiri Risma dan menariknya keluar. Tangan kanan Riska berhasil lepas dari pelukanku. Aku langsung menggenggam tangan kirinya.

“Ma, Risma mau dibawa kemana?”

“Diam kamu, Gembel!” Ibh terus menarik tangan Risma.

“Ma, lepaskan Risma! Dia tidak mau ikut dengan mama!”

“Hai, Gembel, asal kamu tahu saja, ya! Ada pengusaha besar yang siap membayar empat puluh juta untuk gadis perawan.”

“Tidak! Mama tidak boleh menjual Risma!”

“Lepaskan, Gembel!” dia langung menarik Risma sekencang-kencangnya hingga tanganya lepas dari genggamanku.

“Kak, tolong Risma!” ujar Risma yang terus menahan dirinya dengan kedua kakinya.

Kelakuan ibu sudah melebihi batas kemanusiaan. Aku yang sudah berjanji dengan Risma malam itu, tidak akan tinggal diam. Dengan segera aku berlari ke dapur mengambil sebilah pisau lalu kutancapkan tepat di lehernya. Darahnya memuncrat membasahi pakaian Risma. Ia lalu menjerit ketakutan sembari memelukku. Aku kemudian menutup pintu rumah agar tak ada yang melihat peristiwa ini.

“Sekarang kita ke kamar. Masukkan semua barang-barang yang kamu perlukan, terutama pakaianmu.” Ujarku seraya menariknya ke dalam kamar.

Risma yang ketakutan, segera melakukan perintahku. Aku mengambil uang tabungan di bawah kasur lalu kuselipkan ke dalam tasnya.

“Tolong ambil dua kantongan besar di dapur biar pakaian kita di tas tidak basah!” Dengan penuh ketakutan ia melakukan perintahku.

Selepas itu, kami meninggalkan rumah. aku berlari sembari menggandeng tangan Risma. Hujan deras membasahi kami. Aku yang mulai ketakutan mencari tempat persembunyian, bingung harus kemana. Kami hanya terus berlari hingga tiba di depan masjid. Kami masuk lalu berteduh di teras.

“Dik, kalau kamu mau aman, cukup lakukan apa yang kakak perintahkan!” dia hanya mengangguk. “Sekarang ganti pakaianmu lalu tidurlah! Biar kakak yang jaga.” Dia benar-benar melakukan apa yang kuperintahkan. Saat hujan mulai reda, aku mengganti pakaian lalu beranjak tidur di sampingnya.

Subuh menjelang pagi, Risma membangunkanku dari tidur lalu mengajakku shalat subuh berjamaah. Selepas shalat, aku dan Risma segera bersiap-siap meninggalkan kota Makassar.

Tiba-tiba…

“Angkat tangan! Jangan bergerak!” aku berbalik. Dua pria berseragam polisi menodongkan senjata di hadapanku. Mereka perlahan mendekat . “Anda adalah tersangka pembunuhan terhadap ibu kandung sendiri.” Mereka lalu menangkap kedua tanganku.

Aku dibawa keluar dari masjid. Risma yang terkejut berlari menghampiriku.

“Kak, jangan tinggalkan Risma!” dia lalu merangkul kaki salah seorang polisi itu.

“Pak, tolong jangan tangkap kakak! Cuma dia satu-satunya keluargaku yang tersisa.” Ucapannya membuat tangisanku pecah.

“Pak, izin aku bicara dengan adikku sejenak!” kedua polisi itu saling memandang lalu melepaskanku. Aku langsung memeluk Risma yang duduk menyedihkan di tanah.

“Risma!” ujarku sembari menatap seluruh wajahnya. Aku sapu rambutnya dari atas hingga ke bawah berkali-kali. Kusentuh pipinya lalu kuusap air matanya. “Adikku sayang! Hari ini adalah hari ulang tahunmu yang ke tujuh belas. Sudah banyak masa yang kita lewati bersama. Tawa candamu tidak akan pernah kulupa,” ujarku lirih.

“Kenangan manis dan pahit akan menjadi sejarah kita. Kini kau telah dewasa adikku sayang. Kau bukan lagi anak kecil yang terus merengek, minta dinyanyikan lagu sebelum tidur.”

Aku berusaha tersenyum saat air mataku tak henti-hentinya menetes.

“Adikku sayang, kini kau adalah wanita dewasa yang perkasa. Kau telah membuktikan kehebatanmu pada kehidupan ini. Sekarang kau bebas terbang kemana saja. Adikku sayang, aku selipkan uang di dalam tasmu. Uang itu akan cukup membawamu terbang jauh dari kota ini. Lupakanlah kakakmu yang pembunuh ini, Dik! Tinggalkan semua kenangan pahit di kota ini!”

“Tidak, Kak! Tidak! Aku tidak akan bisa hidup tanpamu, Kak. Aku belum siap!” Tangisannya semakin membuatku ikut menangisi takdir ini.

“Adikku sayang, kamu masih ingat apa yang kakak ucapkan semalam?” Risma mengangguk-ngangguk, mengiyakan.

“Lakukanlah adikku! Lakukan jika kamu ingin aman! Mungkin puluhan tahun kakakmu ini harus terkurung di balik jeruji besi. Tapi tidak usah khawatir, aku tetap akan hidup.”

“Kak!”

Tiba-tiba ia kembali memelukku dengan erat, seakan tak ingin melepaskanku. Pelukannya semakin membuatku tidak ingin melepaskannya dari kehidupanku.

“Adikku yang cantik, kakak ingin menatap dalam wajahmu untuk yang terakhir kalinya, Sayang!” Dia melepaskan pelukannya.

Kedua tanganku menyentuh pipinya yang masih halus dan suci. Begitu pun kedua tangannya menyentuh pipiku. “Adikku sayang, akan tiba masa dimana kau akan berkeluarga, punya anak. Berilah mereka kasih sayang, rawatlah mereka dan jadikan hari-harinya penuh kasih sayang darimu.

Karena kau adalah malaikat kecilku, Adindaku. Karenamu pula aku memiliki harapan hidup. Kau yang membagikan kasih sayang padaku saat usiamu masih belum mengerti tentang kasih sayang. Kau telah mengajariku banyak hal. Kau adalah…”

“Kak!” dia semakin menangis.

“…harapan hidupku, adindaku sayang! Andai kau tidak dicipta oleh Tuhan sebagai malaikat kecil tak bersayap, maka tiada guna aku hidup, dik! Kakakmu ini menderita, dijajah saat negara ini sudah merdeka.

Adikku sayang, jadikanlah tangisanmu sebagai tangisan terakhir atas pahitnya kehidupan. Kita sudah terlatih menghadapi semua ini. Jika suatu hari kau bertemu dengan papa, katakan padanya tentang apa yang selama ini kita alami, semuanya tentang apa yang kita rasakan! Adikku sayang, sekalipun kehidupanmu lebih pahit dari kehidupan yang telah kita alami ini, jangan pernah kau nodai dirimu dan kehormatanmu hanya karena takut mati. Karena kau malaikat kecilku yang Tuhan titipkan kepadaku agar bisa bertahan hidup dengan harapan yang kau datangkan dari kasih sayangmu, adindaku.” Aku mengecup keningnya lalu kusapu air matanya.

Kemudian ia pun mengecup keningku sembari menghapus air mataku.

Aku perlahan berdiri mengangkatnya. Wajahnya kutatap dengan saksama. Aku langsung memeluknya sesaat untuk yang terakhir kalinya. “Selamat ulang tahun, malaikat kecilku!” Selepas itu aku meninggalkannya sendirian. Aku terus berjalan dengan dua polisi itu tanpa menoleh sedikit pun ke arahnya hingga tiba aku di mobil. Dari kejauhan, kulihat ia menangis. Dari kejauhan, kulihat ia, adikku, malaikat kecilku untuk yang terakhir kalinya.

Kaliurang, 09 Mei 2015

Gambar: www.pimp-my-profile.com

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of