Pentingnya Edukasi UKT bagi Mahasiswa Baru

Pentingnya Edukasi UKT bagi Mahasiswa Baru

  • 40
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    40
    Shares

Pentingnya Edukasi UKT Bagi Mahasiswa Baru

Lpmarena.com Edukasi Uang Kuliah Tunggal (UKT) dibutuhkan untuk membekali pengetahuan mahasiswa baru (maba). Hal ini disampaikan Syarif Hidayatullah dalam diskusi dan sosialisasi banding UKT yang diadakan Senat Mahasiswa (Sema) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

“Agar nanti ketika mereka (maba-red) bilang UKT-nya tidak sesuai itu bisa ada pengetahuan,” ujarnya saat ditemui ARENA selepas diskusi di selasar Gedung Prof. Amin Abdullah, Selasa sore (21/08).

Syarif menejalaskan bahwa edukasi UKT perlu dipahami mahasiswa baru karena sistem penggolongannya kerap kali berbuntut masalah. Seperti dialami oleh Pramodya, salah satu mahasiswa baru program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI). Ia merasa UKT yang diterimanya terlalu mahal dan memberatkan keluarga.

“Selain biaya hidup kuliah, keluarga masih ada tanggungan adik-adik untuk sekolah juga. Jadi saya masih keberatan dengan UKT itu,” tutur mahasiswa baru asal Solo yang mendapat UKT golongan III dengan nominal Rp 2.300.000.

Senasib dengan Pramodya, Ima Nurhikmayani mahasiswa asal Kuningan juga merasa sangat keberatan dengan beban UKT golongan VII senilai Rp 3.500.000 yang dia terima. Pasalnya, selain dirinya orang tua, Ima juga harus membiayai sekolah adiknya.

“Saya ingin banding UKT karena biaya sebesar itu memberatkan keluarga,” ujar mahasiswa program studi Bimbingan Konseling Islam (BKI) tersebut.

Perlunya Pendampingan Banding UKT

Selain edukasi UKT maba juga perlu memahami edukasi banding UKT. Menurut Syarif, edukasi banding UKT penting bagi maba karena ada kerjasama antara mahasiswa yang merasakannya dengan orang tua yang menanggung biaya pendidikan mereka. Dia tidak ingin kejadian-kejadian yang menimpa 30 maba Fakultas Sains dan Tekhnologi (Saintek) tahun lalu terulang kembali.

Baca juga  Aboeprijadi Santoso: Korban IPT 65 Harus Diadili

Saat itu, maba beranggapan bahwa mereka tidak butuh didampingi oleh Sema Fakultas maupun Sema Universitas. Mereka seolah hanya membutuhkan edukasi tentang UKT dan proses banding, selanjutnya mereka bergerak sendiri ke rektorat ataupun Wakil Rektor (WR) II bidang Administrasi Umum, Perencanaan dan Keuangan.

“Padahal tujuan sebenarnya adanya edukasi banding UKT itu adalah biar saling bergerak bersama, antara mahasiswa baru dengan perwakilan mahasiswa,” pungkas Sekretaris Jenderal Sema Univeristas tersebut.

Pengetahuan tentang sistem penggolongan dalam UKT juga penting. Sebab, setiap fakultas memiliki rumus penggolongan yang berbeda-beda. Ia memberi contoh Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, untuk menentukan golongan satu, jumlah gaji orang tua dimulai dari Rp 0 sampai Rp 1.000.000. Sedangkan di Fakultas Dakwah dan Komunikasi, ketentuan jumlah gaji orang tua dimulai dari Rp 0 sampai Rp 500.000.

“Dari data yang saya punya hanya 20-an mahasiswa dari 430 mahasiswa yang dapat UKT golongan satu,” ucapnya.

Menurut Syarif, berdasarkan fakta yang dia temui selama mendampingi banding UKT, pihak kampus seringkali menyerang orang tua maba dengan pernyataan biaya kuliah di UIN Sunan Kalijaga sudah murah.

“Sudahlah, Pak/Buk tidak usah banding, di UIN kan sudah murah,” tuturnya menirukan kata-kata yang diucapkan pihak kampus. Sejak diberlakukannya UKT pada tahun 2014 sampai sekarang, pihak kampus tidak pernah memberi keterangan tentang transparansi ataupun alokasi dana UKT yang mahasiswa bayarkan kecuali data yang telah melewati audit akhir. “Itu menjadi catatan besar terkait UKT,” tegasnya.

Reporter: Ach Nurul Luthfi

Redaktur: Fikriyatul Islami

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of