Realisasi Tema PBAK Tidak Maksimal

  • 41
    Shares

Realisasi Tema PBAK Tidak Maksimal

Lpmrena.com– “Membangun Karakter dan Integritas Mahasiswa yang Religius, Intelek Dan Nasionalis” menjadi tema Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) yang diselenggarakan 27-29 Agustus 2018 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Wakil Rektor (WR) III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama Waryono Abdul Ghofur menyatakan tema tersebut disesuaikan dengan isu-isu kontemporer tingkat nasional yang akan menjadi tantangan di masa depan bagi bangsa dan negara, khususnya kaum muda.

Menurutnya mahasiswa yang religius minimal dapat menjalankan nilai agama yang dipercayai dengan baik sekaligus memanfaatkan sarana yang telah disiapkan di universitas. Seperti Laboratorium Agama yang mengadakan kajian-kajian keagamaan. Namun, di sisi lain tidak mengesampingkan kecintaan mahasiswa baru terhadap nilai-nilai kebangsaan.

“Kan sekarang ada kecenderungan seolah-seolah kalau agamanya baik, kemudian enggak mau menyanyikan Indonesia Raya, berdiri, dan hormat (pada) bendera,” ungkap Waryono saat ditemui ARENA pada Senin siang (27/08) di belakang panggung Gedung Prof. M. Amin Abdullah (Multi Purpose)

Sedangkan term “Intelek” menurutnya menekankan pada pemikiran mahasiswa yang teruji, dalam artian opini yang dilemparkan mahasiswa tidak sekedar asumsi belaka. Melainkan berbasis riset.

Senada dengan Waryono, Ketua Dewan Mahasiswa (Dema) UIN Sunan Kalijaga Mohammad Romli Mu’allim, mengungkapkan tema PBAK 2018 menekankan dua hal; pertama nilai-nilai keislaman dan kedua nilai-nilai kebangsaan. Nilai keislaman yang dibangun tetap merangkul kebudayaan, kebhinekaan dan setiap perbedaan yang ada di Indonesia.

“Dengan nilai-nilai keislaman kami rasa mampu menyatukan negara ini, salah satunya adalah Islam yang pro terhadap budaya lokal,” ucapnya mantap.

Untuk merealisasikan gagasan itu, dibuat strategi agar nilai-nilai yang telah dirumuskan bisa tersampaikan kepada mahasiswa baru. Menurut Ketua I PBAK Universitas Sulistyaningsih, salah satu cara yang ditempuh dengan mengundang pemateri yang profesional dan kompeten di bidangnya. Serta dengan melibatkan profesor-profesor muda yang ada di universitas.

Baca juga  PBAK Molor di Hari Pertama

Romli menambahkan, tujuan dari melibatkan profesor-profesor muda dalam kegiatan PBAK tidak lain untuk mendobrak semangat mahasiswa baru agar menjadi mahasiswa yang kritis dan progresif.

Selain itu, pada PBAK tahun ini mahasiswa baru juga akan diarahkan pada kegiatan lain yang menstimulus kepedulian sosial mereka. Seperti menyumbang buku gratis untuk masyarakat, membaca bersama, dan meresensi buku sebagai bentuk kegiatan literasi yang telah ditentukan oleh panitia.

Namun sayang, strategi apik tersebut tidak berbanding lurus dengan praktik di lapangan. Dalam hal religiusitas, Afiq Abdurrahman mahasiswa baru dari program studi Pendidikan Agama Islam (PAI) menyayangkan aktivitas PBAK yang tidak memberikan waktu jeda untuk menunaikan sholat Asar. Padahal menurutnya, waktu sholat tidak lebih dua puluh menit.

Hal senada juga diungkapkan oleh Mahera Armi mahasiswi baru Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI). Ia menilai realisasi term religius seperti yang tertera dalam tema sangat kurang. Hal itu terjadi ketika memasuki waktu Dzuhur, peserta PBAK disuruh buru-buru. Padahal saat itu mereka sedang melaksanakan sholat.

“Ya, mungkin karena keterbatasan waktu. Tapi, kan, setidaknya soal beribadah, soal agama, masak suruh buru-buru,” kata Armi kepada ARENA dengan raut kecewa saat ditemui di gedung Prof. M. Amin Abdullah kemarin.

Mengenai nasionalisme, Armi justru merasa bingung menyerap nilai nasionalisme dari kegiatan yang mana. Sebab, yang dirasakannya mahasiswa baru hanya disuruh duduk dan mendengarkan. Sementara, menurut dia metode pembelajaran dalam bentuk seminar yang hanya mendengarkan ceramah narasumber yang tidak menarik tidak efektif untuk anak zaman sekarang. Mereka justru akan tidur atau bermain gawai.

Bahkan dari rangkaian kegiatan PBAK yang diikutinya pada hari pertama, Armi mengaku hanya menyerap materi dari budayawan Sastro Al Ngatawi. Padahal hari pertama PBAK menghadirkan banyak narasumber, antara lain Rektor UIN Sunan Kalijaga Yudian Wahyudi, Syaiful Bahri Anshori DPR RI Komisi I Bidang Pertahanan, Intelijen, Luar Negeri, Komunikasi dan Informatika dari fraksi PKB, budayawan dan pengurus Ikatan Keluarga Alumni UIN Sunan Kalijaga (Iasuka) Sastro Al Ngatawi, serta Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama Waryono Abdul Ghofur.

Baca juga  Mahasiswa Desak Rektorat Lakukan Revisi Sistem UKT

Nggak fokus sama yang di depan,” tuturnya. “Belum merasakan ketersambungan antara praktik dan temanya,” lanjut dia.

Repoerter: Roziqien

Redaktur: Syakirun Ni’am

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of