Bisnis Panitia di PBAK

  • 140
    Shares

Bisnis Panitia di PBAK

Mahasiswa baru mengeluarkan tidak sedikit dana untuk membeli atribut yang dikenakan saat pelaksanaan Pengenalan Budaya Akademik Kampus (PBAK). Tidak hanya panitia, divisi Dana Usaha organisasi ekstra kampus juga menjual atribut di stand kepanitiaan.

Lpmarena.com– Hilda Alaida Qudsiah Zikri, mahasiswa baru (Maba) program studi Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, mengaku menghabiskan uang sekitar Rp200.000 lebih untuk menyiapkan PBAK tahun ini. Hal itu ia ungkapkan kepada ARENA saat ditemui di kosnya, Ngentaksapen, Sleman, Yogyakarta, Minggu (26/08).

Hilda, begitu ia biasa disapa, menghabiskan uang tersebut untuk memenuhi kelengkapan atribut PBAK yang telah ditentukan oleh panitia fakultasnya. “Ya, kami disuruh sama panitia untuk bawa kertas asturo warna kuning dan merah, kaos kaki warna putih dan warna hitam, tas karung yang dihiasi, masker, pin, slayer, pita dan cocard,” ungkap Hilda sembari sesekali bermain gawai.

Harganya bervariasi. Sembilan lembar kertas asturo yang dibelinya dengan harga Rp5.000 per lembar, dua pasang kaos kaki seragam seharga R10.000 per pasang, tas karung Rp15.000, masker seharga Rp1.000, air mineral Rp3.000, arem-arem Rp2.000, cocard Rp20.000 dan buku untuk kegiatan literasi seharga Rp30.000.

Daftar tersebut belum termasuk harga pin, stiker, slayer dan biaya menghias tas karung yang tidak ia rincikan pada kami. Tidak hanya untuk atribut-atribut yang dibelinya, Hilda juga mesti mengeluarkan uang untuk transportasi selama menyiapkan atribut PBAK.

Kayaknya sudah nggak bisa dihitung, ya. Soalnya, uang kita terkadang habis di perjalanan bolak-balik kampus. Maklum, kita Maba belum punya kendaraan dan belum tahu kondisi,” kata Hilda.

Meskipun tidak mengetahui tujuan atribut-atribut tersebut, Hilda tetap membelinya dan terpaksa merogoh kocek cukup banyak. Sebab, Hilda merasa takut jika ia tidak memenuhi kelengkapan PBAK akan mendapat hukuman dari panitia.
“Katanya kalo nggak lengkap, bakal diperiksa. Terus, kalau tidak akan dihukum,” paparnya.

Bukan hanya Hilda yang harus merelakan tidak sedikit uang untuk keperluan PBAK. Di fakultas lain juga terjadi hal yang sama. Amalia De Tavarel, misalnya, mahasiswa baru dari Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (Fishum), saat dihubungi ARENA melalui WhatsApp pada Senin (27/08), juga mengaku menghabiskan uang sekitar Rp138.000 untuk kelengkapan atribut PBAK dan malam keakraban. “Itu belum termasuk uang bensin,” Amalia menambahkan.

Amalia yang tercatat sebagai mahasiswi baru program studi Psikologi membelanjakan uang sebanyak itu untuk memenuhi ketentuan dan atribut yang diinstruksikan oleh panitia PBAK fakultasnya. Di Fishum atribut yang ditentukan oleh panitia fakultas antara lain; tas yang terbuat dari kardus, scarf dan slayer.

“Bayar malam keakraban (Makrab) Rp50.000, scarf sama slayer Rp25.000, lem dan kardus bekas senilai Rp35.000, urunan (iuran/Red) dengan teman Rp30.000 dan makan Rp20.000,” kata mahasiswi asal Yogyakarta tersebut merincikan pengeluarannya kepada ARENA.

Berdasarkan riset yang dilakukan ARENA dari 301 responden mahasiswa baru dari 14 program studi yang dilakukan secara online; tentang pengeluaran maba untuk memenuhi atribut dan kebutuhan PBAK—termasuk membeli buku yang diinstruksikan oleh panitia beberapa fakultas— diperoleh data 34% Maba mengeluarkan uang sebesar Rp50.000 sampai Rp100.000; 22% mengeluarkan Rp100.000 – Rp 150.000; Rp150.000 – Rp200.000 sebanyak 22%; dan sebanyak 22% memiliki pengeluaran lebih dari Rp200.000. Riset tersebut dimulai dari Selasa (28/08) pukul 11.41 WIB sampai Rabu (29/08) pukul 10.58 WIB.

Baca juga  Tiga Tips Menjadi Pengusaha dari Hary Tanoesoedibjo

Memanfaatkan PBAK untuk Berdagang

Banyaknya atribut yang diperlukan oleh Maba untuk pelaksanaan PBAK, dimanfaatkan oleh beberapa mahaisswa senior untuk berdagang. Beberapa di antaranya merupakan panitia PBAK, penitia event jurusan, sampai organisasi ekstra kampus. Mereka menjual barang hasil kreativitas sendiri yang disesuikan dengan kebutuhan Maba.

Seperti yang dilakukan Septiana Ayu Paramita bersama teman-temannya. Mereka membeli kain panjang, kemudian dijahit menjadi scarf dan slayer. Hasil jahitan tersebut kemudian dijual kepada Maba Fishum.

Scarf dan slayer tersebut kami jual ke Maba seharga Rp25.000, awalnya modal kami sekitar Rp500.000. Kemudian untungnya sekitar satu sampai 1,5 jutaanlah, Mas,” ungkap Septi kepada ARENA saat ditemui di lantai I Fishum (28/8).

Septi berdagang atas atas nama organisasinya, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Ia mengaku di organisasinya ada divisi Dana Usaha (Danus) yang bertugas mencari dana. Bersama yang lainnya, ia memanfaatkan momen tersebut untuk memasarkan hasil jahitannya untuk kebutuhan dana organisasi. Selain di kampus sendiri, ia dan teman-temannya juga biasa berjualan di Sunmor, pasar mingguan dekat kompleks Masjid Kampus Universitas Gajah Mada.

Hasil karya Septi yang berbentuk scarf dan slayer tersebut memang tidak hanya dijajakan di satu tempat. Selain di depan Poliklinik UIN Sunan Kalijaga yang memang kerap ramai oleh pedagang atribut PBAK, soal SBMPTN dan UMPTKIN, sesekali ia juga menjualnya di stand panitia pendaftaran PBAK Fishum. ”Hari pertama kita menjual itu di stand panitia PBAK,” jelas Septi.

Usaha Septi pun mendapatkan sambutan baik dari beberap Maba. Hal tersebut dibuktikan dengan jumlah Maba yang tidak sedikit membeli dan merasa terbantu oleh karyanya.

Salah satu pembelinya adalah Amalia. Dia membeli scarf dan slayer di stand pendaftaran PBAK. Dengan adanya stand tersebut ia mengaku tidak lagi direpotkan untuk mencari atribut PBAK.

“Beli scarf dan slayer, sama kakak-kakak bagian kesekretariatan, di stand pendaftaran PBAK. Soalnya, biar sekalian tinggal pesan, nggak ribet nyari lagi,” tulis Amalia kepada ARENA melalui Whatsappp (27/8).

Hal sama dilakukan Anna Zakiah dari Fakultas Adab dan Ilmu Budaya (FAIB). Mahasiswi program studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA) tersebut juga memanfaatkan momen PBAK untuk mefasilitasi dan menawarkan produknya kepada Maba. Namun, produk yang dijual Anna berbeda dengan yang dijual Septi.

Karya Anna yang ditawarkan kepada Maba adalah tas karung. Sebagaimana Septi, ia berjualan atas nama Danus kepanitian lain yang diikuti Anna, yakni acara Sukarabic. Sukarabic merupakan event tahunan program studi BSA. Hasil penjualan tas tersebut dialokasikan untuk acara di luar dari PBAK. “Jadi yang jualan bukan panitia PBAK,” jelas Anna.

“Itu Danus dari kepanitiaan Sukarabic. Mereka mengambil ide untuk jualan, seperti jualan-jualan di depan Poli (Poliklinik) dan Kopma (Koperasi Mahasiswa) begitu, Mas,” jelas Anna saat ditemui ARENA di Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, Selasa (28/08).

Meskipun tidak mengatasnamakan panitia PBAK, Anna merupakan Steering Committee (SC) acara Sukarabic dan sekaligus SC panitia PBAK FAIB. Ia bersama teman-teman yang lain sering menjual produknya di depan Poliklinik dengan harga sekitar 10 ribuan. “Sama dengan harga di luar kampus,” tutup Anna.

Pada foto print out yang berjudulkan “Atribut Mahasiswa Baru Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK ) 2018 Fakultas Adab dan Ilmu Budaya.” Selain rincian mengenai berbagai macam atribut yang harus dikenakan Maba FAIB selama pelaksanaan PBAK, pada bagian bawah lembar tersebut terdapat notebook, “Kami dari panitia menyediakan beberapa atribut, di antaranya Slayer kuning, pin, pita, dan dasi kupu-kupu dengan harga Rp20.000.”

Baca juga  PBAK dan Politik Identitas, Bukti Minimnya Ruang Demokrasi di Kampus

Hilda membenarkan print out itu diedarkan oleh panitia fakultasnya. Dari Hilda, ARENA berlanjut melakukan konfirmasi pada Divla Fadila Rahma selaku seksi acara FAIB melalui WhatsApp pada Kamis (30/08). Divla membenarkan, print out tersebut dikeluarkan oleh panitia FAIB. Fakta tersebut meunjukkan dengan jelas bahwa panitia menjual atribut yang telah mereka tentukan sendiri sebelumnya.

Selain di Fishum dan FAIB, kami menemukan hal yang sama di fakultas lain. Hanya saja metode penjualan dan barang yang ditawarkan berbeda. Contohnya, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (Febi).

Di Febi terdapat beberapa mahasiswa yang sengaja membuat kerjasama menyediakan atribut keperluan Maba Febi di PBAK dengan panitia fakultas. Mereka khusus menyediakan untuk keperluan Maba Febi, yaitu tas jaring atau tas tali karung berwarna hitam yang disablon logo UIN Sunan Kalijaga dan tulisan “FEBI UIN SUKA” berwarna jingga. Tas tersebut menjadi salah satu seragam wajib Maba Febi selama pelaksanaan PBAK.

Mahasiswa baru mengikuti rangkaian kegiatan PBAK 2018. Sumber foto: @pbakuinsuka2018
Mahasiswa baru mengikuti rangkaian kegiatan PBAK 2018. Sumber foto: Instagram @pbakfebiuinsuka2018 diunggah hari Rabu (29/08).

 

Solekhan, Ketua II PBAK Febi membenarkan adanya kerjasama antara panitia dengan mahasiswa fakultasnya. Kerjasama untuk membuat tas seragam yang telah disebutkan di atas.

“Kami memang menginginkan untuk tas Maba ada identitas fakultas jadi kami koordinasikan dengan mahasiswa Febi lain, yang sekiranya mampu menyediakan tas sesuai keinginan kami,” tulis Solekhan kepada ARENA melalui pesan Whatsapp (28/08).

Solekhan juga mengungkapkan bahwa, tas tersebut dijual dengan harga Rp25.000—meskipun ada yang menego dan mendapatkan harga Rp20.000—dan semua Maba Febi beli di tempat yang sama. “Soalnya kalo beda orang takutnya beda konsepnya, malah belang-belang jadinya,” tambah Solekhan.

Berdasarkan data yang disampaikan oleh Ketua I PBAK Universitas, Sulistyaningsih, jumlah mahasiswa baru Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora sebanyak 348 orang. Jika setiap Maba membeli perlengkapan scarf dan slayer pada Septi, maka pendapatan kotornya mencapai Rp8.700.000.

Di Fakultas Adab dan Ilmu Budaya jika semua Mabanya yang berjumlah 413 orang membeli slayer kuning, pin, pita dan dasi kupu-kupu pada panitia, maka pendapatan kotornya sebesar Rp8.260.000. Sedangkan penjualan tas karung di Fakultas Ekonomi dan Bisnis terhadap 391 pendatang barunya—mengesampingkan mereka yang melakukan nego, pendapatan kotornya mencapai Rp9.775.000.

Menanggapi pengeluaran Maba yang mencapai angka Rp200.000, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama Waryono Abdul Ghofur tidak mempermasalahkan. Selain itu, menurutnya, hal tersebut merupakan bentuk kreativitas mahasiswa fakultas. Mereka yang berada di fakultas diberikan kebebasan untuk berkreasi sepanjang itu tidak memberatkan Maba.

Mengenai penjualan properti atau atribut di Febi, Waryono mengaku mendapat informasi dari Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama Febi, harga atribut dibatasi dan tidak boleh lebih dari Rp 10.000. Namun ia menyatakan tidak mengetahui secara persis karena tidak mengurus tingkatan fakultas.

“Di tingkat universitas tidak ada pungutan. Nggak ada bayar,” kata Waryono mengakhiri wawancara dengan ARENA, selepas mengikuti pembukaan PBAK di Gedung Prof. Amin Abdullah, Senin siang (27/08).

Reporter: Hedi, Isla, Tsaqif
Penulis: Hedi
Redaktur: Syakirun Ni’am

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of