Orang-orang Bingung

Orang-orang Bingung

  • 7
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    7
    Shares

Orang-orang Bingung Lpmarena.com

Oleh: Liberika Swarapukang*

Berbeda dari sepanjang pagi yang telah usai, pagi ini suara ribut memecah hening mengalahkan suara kendaraan satu dua yang biasa melintas. Di seberang jalan rumah seorang warga bernama Warisman, menggelegar teriakan caci maki.

“Ada apa di depan itu, Bu?” Warisman penasaran, menyenggol pundak istrinya yang tengah terpaku pandang ke arah keramaian di muka pintu warung Bi Ijah.

“Orang berantem, Pak,” Sang istri yang ditanya menjawab tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun.

“Siapa orang itu, Bu?” tanya Warisman lagi sembari membenarkan letak pelukan melingkar sarung kotak-kotak di pinggangnya.

“Ibu juga tidak tahu, Pak. Sepertinya dua karyawan Bi Ijah berselisih.”

Setelah menjawab pertanyaan suaminya, sang istri yang mengenakan daster hijau kusut bergambar bunga-bunga membuang pandang dan kembali khusuk pada pekerjaan yang ia lakukan sebelumnya, menjahit.

“Ada-ada saja, partner kok berantem.”

Warisman duduk, meraih sebatang rokok kemudian menyulutkan api pada ujung rokok itu, beberapa saat kemudian ia menyemburkam asap lewat hidung dan mulutnya.

“Rasanya malas sekali aku mau berangkat kerja hari ini,” keluh warisman, membuat istrinya menghentikan jahitan. Jarum berekor benang warna hitam itu berhenti di tengah lubang yang membelah celana hitam pada pangkuannya.

“Bapak ini bagaimana, gajimu nanti dipotong loh, Pak!” Istri Warisman memandang lekat ke arah suaminya sambil terus mengoceh. “Bulan ini pengeluaran kita banyak sekali, Pak. Bayar UKT (Uang Kuliah Tunggal) Windar, bayar cicilan listrik, cicilan air, belum lagi uang buku Aji di SMA-nya yang wajib beli, nih, ya, Pak, benang ini saja masih ngutang,” celoteh wanita berusia sekitar empatpuluhan itu sembari mengangkat benang hitam yang terselip pada lubang pangkal jarum.

Belakangan ini masalah keuangan sangat menghimpit. Bukan hanya soal makan atau bayar sewa rumah, bahkan sekolahpun turut memeras dompet keluarga. Si sulung yang baru masuk kuliah terus meminta uang demi pengeluaran ini dan itu. Bahkan keperluan ospek saja lebih mahal dari biaya yasinan yang digilir setiap malam Jumat. Belum lagi buku-buku sekolah si bungsu yang juga diwajibkan membeli. Bu Warisman tak habis pikir, apakah untuk menjadi pintar memang harus mengeluarkan banyak uang?

Sebenarnya ibu dua orang anak itu juga ingin mengatakan kepada suaminya, sudah beberapa hari terakhir kala matahari menggantung tepat di ubun-ubun, tiga orang berperawakan seram menyatroni rumah mereka. Tiga orang itu dari pengelola perumahan yang mereka tempati, sebab sudah tiga bulan rumah mereka menunggak. Ia belum memutuskan untuk melaporkan perihal ini kepada suami, sementara suaminya baru saja mendapatkan pekerjaan dengan gaji karyawan baru yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan terperlu saja.

Warisman terdiam menatap mata istrinya, sepenuhnya ia paham bagaimana perasaan istrinya. Soal kekurangan uang untuk biaya ini dan itu memang sulit ditolerir.

Tetapi ia juga bingung, di tempatnya bekerja sedang ada masalah yang ia tak pahami. Sudah dua bulan terakhir Warisman berkerja tanpa libur sekalipun, sementara beberapa teman yang lain sudah mendapatkan jatah libur berulang kali. Ia tak mengerti mengapa ia tak diberi libur oleh para petinggi pabrik tempatnya berkerja. Alasan yang ia terima hanya karena Warisman karyawan baru, maka ia ditugaskan untuk menguasai beberapa bagian mesin yang akan ia operasikan. Namun, hal itu bertolak belakang dengan aturan pekerjaan yang ada di perusahaan. Seharusnya setiap karyawan baru atau lama tetap memiliki hak untuk mendapatkan jatah libur maksimal empat hari dalam sebulan.

Baca juga  Puisi Menyelipkan Kebenaran

Warisman mematikan rokoknya, bergegas menuju kamar, mengambil handuk kemudian berlalu ke kamar mandi. Sementara di depan rumah Warisman, di warjung milik Bi Ijah keributan masih saja berlangsung. Adalah Sukmo dan Angga, meski sudah dilerai warga namun adu makian masih tetap berlanjut.

“Kau itu tahu apa?! Kau pikir kau bosnya? Mentang-mentang karyawan lama, suka-suka hatimu saja memerintahkan ini-itu!”

Terdengar keluhan Sukmo sembari menahan sakit akibat tinjuan Angga. Darah terus mengucur dari hidungnya dan dengan ujung baju hitam lusuh yang ia kenakan, Sukmo berusaha membersihkan darahnya sendiri.

“Kalau tak mau diperintah lebih baik kau tak usah kerja!” Balas Angga geram, ia masih di dalam pegangan warga, dan terus meronta ingin lagi memukuli Sukmo.

“Ya, ya. Aku akan berhenti berkerja. Itu yang kau mau, bukan? Kau tidak suka ada orang baru di sini, kan? Di warung ini kau tidak mau ada partner, ah bukan partner, kau anggap orang yang kerja di sini adalah sainganmu, dan kau tidak mau ada saingan, ya, kan? Oke-oke, aku bakal berhenti sekarang, puas, kau?!”

Sukmo dengan kesal masuk ke dalam warung Bi Ijah, menendangi pintu dapur, mengambil tas kemudian meluncur pulang.
Beberapa warga berupaya menahan Sukmo, mereka mencoba untuk mendamaikan Sukmo dan Angga, namun Sukmo memilih abai. Ia hanya ingin meninggalkan warung itu sesegera mungkin.

“Sialan kau, Sukmo! Sialan kau! Awas kau nanti ketemu di luar!” Ancam Angga yang masih berada dalam pegangan warga.
Melihat pundak Sukmo hilang ditelan bangunan jalan yang ditutup oleh rumah warga, barulah Angga dilepaskan dari pegangan.

“Cobalah tahan emosimu, Angga!” Ujar salah seorang warga, menasehati.

“Ia Pak Nuh, saya sudah coba sabar, tapi si keparat bisu itu sukar sekali diberi tau. Saya tidak enak sama Bi Ijah, selama suaminya sakit dan Bi Ijah berhalangan menunggui warung, semua tanggungjawab warung makan ini diberikan kepada saya. Saya tidak mau seperti yang sudah-sudah, Bi Ijah sering rugu, sebab ada saja uang di meja kasir yang hilang, dan siapa yang dituduh? Itu kami para pekerjanya, padahal kalau sedang ramai, ada saja yang makan tidak bayar,” bela Angga sembari mengibas-ngibaska bajunya usai jatuh ke lantai dapur sesaat setelah menerima terjangan Sukmo tadi.

“Anak baru itu emang agak aneh Pak Bud, dia jarang bicara. Kalau Angga sama pegawai yang lain saat antar makan paling tidak basa basi bilang ‘silahakan’ nah, si Sukmo ini tidak, wajahnya masam terus,” tanggap seorang warga berkaos kuning yang sejak tadi memperhatikan obrolan keduanya.

Baca juga  Menggagas Revolusi Pendidikan (Tanggapan I Terhadap Tulisan Kawan Ahmad Taufiq)

Disusul beberapa warga yang juga memperhatikan, membenarkan argumen itu.

“Saya juga tak tahu, tiga minggu kerja, bahkan nama si Asep aja dia gak tahu,” timpal Angga masih dalam kesalnya.

Setelah keluarnya Sukmo dari warung makan, ribut pagi itupun berakhir, suasana kembali tenang. Angga meminta Asep membantu membereskan warung makan yang berantakan sementara satu persatu warga beranjak pada aktivitas mereka yang sempat terhenti. Jalan kembali pada sunyi dengan kendaraan satu dua melintas, warung makan Bi Ijah mulai kembali melayani pelanggan yang datang.

Pagi semakin tinggi, Sukmo berjalan melewati jalan-jalan setapak yang dihimpit rumah warga. Kepalanya terasa sakit, hidung yang meskipun tak lagi mengucurkan darah, masih menyisakan nyeri dan bengkak serupa jambu air matang berwarna merah. Perasaan kesal masih bercokol di dalam dadanya. Selain itu, ia juga tak tau lagi bagaimana menjelaskan pada ibunya.

Setelah menyelesaikan perkuliahan setahun silam, ia sudah bolak-balik melamar pekerjaan, namun tak pernah mendapatkan hasil yang maksimal. Hingga akhirnya ia tak sengaja melihat secarik kertas pengumuman penerimaan karyawan warung makan ketika sedang makan siang di warung Bi Ijah. Meski lulusan sarjana ekonomi perbankan di salah satu universitas negeri di kota, ia memutuskan untuk mencoba sesuatu di luar dari keahlian yang diumumkan ijasah yang ia miliki.

Barulah tiga minggu ini ia dapat mengabari ibunya di desa bahwa ia sudah mendapatkan pekerjaan, sehingga ibunya yang tengah dilanda sakit keras itu dapat bernafas lega. Sebab akan ada yang menggantikan orang tua itu menjadi tulang punggung keluarga sejak ayah Sukmo meninggalkan mereka setengah tahun silam.

Namun kejadian tak disangka dua minggu lalu mengubah kehidupan Sukmo. Ia menerima kabar dari adik bungsunya bahwa sakit yang diderita ibu mereka semakin parah. Kabar itu perlahan membuat dirinya jatuh dalam sedih yang amat dalam. Belum genap sebulan bekerja, belum pula sempat menerima upah, ia sudah harus menerima kabar lain yang semakin membuat hatinya pilu.

Sukmo jatuh murung, makan tak tertelan, minum tak menuntas dahaga, kata-kata serupa terpenjara di kerongkongannya. Ia harus memikirkan bagaimana membiayai pengobatan ibunya, belum pula memikirkan jumlah besaran upah yang akan ia terima nanti, dari warung makan tempatnya berkerja. Cukupkah itu untuk memenuhi kehidupannya dan pengobatan sang ibu?

Sementara sambil terus berjalan dan mengingat kepedihan yang menimpa keluarganya terutama sang ibu, Sukmo kembali mengumpat dalam hati. Besaran biaya kuliah yang telah ia keluarkan dari keringat orangtuanya rupanya tak banyak berguna. Gelar sarjananya sama sekali tak membantu apapun. Sepertinya ia telah salah perhitungan, jika uang kuliah kemarin ditumpuk menjadi modal buka usaha, mungkin saat ini ia telah menjadi bos. Setidaknya bos warung makan kecil-kecilan seperti Bi Ijah, bukan sarjana gelandangan seperti sekarang.

*Seorang mahasiswa serabutan, pecinta kopi, penggiat sastra dan pengamat intrik politik dunia.

Gambar: https://commons.m.wikimedia.org

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of