Menuju Persma yang Now

Menuju Persma yang Now

  • 23
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    23
    Shares

Oleh: Wulan D. Agustina (Pamungkas)*

Cuk, mana produk LPM- mu yang terbaru?” sebuah tanya terucap dari bibir seorang kawan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) tetangga yang sedang berkunjung di kantor LPM kami. Dengan santainya saya mengambil beberapa produk dari LPM dimana saya bernaung dalam kurun waktu yang cukup lama.

Tiga dari beberapa tumpukan buletin saya berikan ke kawan tersebut. Tak cukup banyak mengurangi beberapa tumpukan yang ada. Masih terlihat menumpuk, terkadang mengganggu pandangan.

Beberapa masih terbungkus rapi dalam kardus, dengan beberapa solasi menutupi bagian kardus. Hingga tak ada sedikit celah yang menunjukan bahwa kardus tersebut berisi buletin yang digarap ‘setengah mati’.

Digarap melewati beberapa purnama, eh maksudnya rapat redaksi, adu argumentasi, hingga deadline yang molor-nya bukan main. Namun yang terjadi, si ‘produk’ ini hanya berujung mengendap pada kantor yang sudah semakin sempit, sebab kelebihan tumpukan kertas-kertas, ada yang dibiarkan berserakan, atau bahkan digunakan sebagai pengganti meja bagi laptop- laptop yang biadab. Naudzubillah.

Tentu bukan karena berniat menuju gerakan ‘persma mengarsip’ seperti apa yang pernah diucapkan rekan Archi pada tulisannya di Majalah Natas pada suatu edisi. Kalau toh ada yang mengelak dengan alasan demikian, dekatkan mulutmu pada telinganya sambil berbisik, “Alasan cuk!”.

Gagal distribusi, distribusi buruk, bisa saja hal tersebut terjadi. Atau jangan- jangan ‘produk’ yang sering dibilang unggulan, idealis, sampai dianggap ‘kertas pembawa pesan suci’ ini sudah tidak diminati pembaca yang budiman? Yang ini apalagi, sangat mungkin. “Njuk piye nda?”

Alasan- alasan di paragraf sebelumnya tentu sangat dilematis bagi Pers Mahasiswa (Persma). Sebagai media yang independen, tanpa ditunggangi partai politik, juga media yang tidak meletakkan ‘keuntungan’ sebagai sesuatu yang dinomor satukan. Bagaimana bisa memberikan perspektif alternatif atas isu- isu yang terjadi belakangan ini jika dibaca pun tidak. Pertanyaan yang kemudian muncul, “Bagaimana peran persma dalam mengkawal isu- isu kampus sampai isu nasional di jaman yang katanya “now” ini? Well, mari kita telaah.

Distribusi Buruk

Tertimbunnya produk- produk persma dalam hal ini produk cetak seperti buletin, majalah, atau apapun namanya itu tentu tidak hanya dialami oleh satu atau dua persma saja. Berdasarkan perbincangan saya dengan beberapa pengurus persma di beberapa kota yang berhasil saya temui, bahkan dominan mengalami hal yang serupa.

Produk cetak diproduksi dengan masif, tiap bulan, dua bulan sekali, sampai tiga bulan sekali, sesuai dengan program kerja (proker) yang sudah ditentukan, walaupun deadline molor adalah sesuatu yang sangat sukar dihindari. Jumlah eksemplar pun tak tanggung- tanggung, seribu, dua ribu, atau lebih dari itu, hal ini tentu cukup menguras dana yang tiap tahun turun dari birokrasi dan di keep oleh bendahara yang budiman.

Beberapa kegiatan akhirnya membuat bendahara dan semua pengurus organisasi ketar- ketir mencari dana penambal, karena dana sudah cukup terkuras untuk biaya produksi ataupun cetak. Namun sayangnya, beberapa upaya dari pra hingga pasca produksi tersebut tidak begitu berbuah manis atau mendapat feedback yang memuaskan.

Manajemen distribusi yang buruk kerap kali menjadi kendala persma dalam mentransfer wacana yang sudah di-godhok di ruang diskusi, maupun rapat redaksi. Alhasil, niatan untuk menjadi media alternatif seolah terpatahkan, barangkali bisa dikatakan ‘hanya menjadi impian’. Niatan memberi rangsangan kepada pembaca yang budiman agar mempunyai perspektif lain dalam melihat sebuah isu yang ada di media mainstream, yang terjadi justru persma sendiri yang layak diberi rangsangan untuk lebih baik dalam mengelola manajemennya.

Baca juga  Seriusi Online, Persma Bisa Maksimalkan Isu Kampus

Perspektif alternatif yang coba dihadirkan persma hanya berputar pada tataran ‘keluarga sendiri’, rapat redaksi sendiri, liputan sendiri, dibaca sendiri, dan diri sendiri yang tersadarkan. Yah, like as onani may be. Kalau toh bukan dibaca sendiri mentok- mentok dibaca temen se- persma. Hal tersebut juga sering kali menjadi bahan pembicaraan di kalangan persma yang sampai saat ini tak kunjung tuntas dan menemui titik terang. Lagi- lagi permasalahan yang sama.

Mau dibawa kemana sebenarnya produk- produk persma? didistribusikan kemana? ke mahasiswa kah? ke para aktivis maupun penggiat sosial kah? ke semua lapisan masyarakat kah? dengan menentukan target distribusi wacana atau produk, persma akan lebih fokus dalam melakukan pembacaan terkait distribusi. Sehingga, tidak sia- sia pula berjuta- juta dana yang sudah dikeluarkan untuk biaya cetak. Itupun jika produk cetak masih ‘dianggap’ relevan dan efisien di jaman yang disebut now ini. Apakah masih relevan dan efisien persma menerbitkan produk cetak? mari kita analisis dan renungkan sendiri.

Menuju Online yang Berkualitas

Menurut data yang ada, sebagaian besar persma di Indonesia sudah menggunakan media online sebagai alat untuk mendistribusikan wacananya. Arena misalnya, dengan lpmarena.com, Ekspresi dengan www.ekspresionline.com dan www.balairungpress.com kepunyaan Balairung, adalah sedikit dari banyak contoh. Hal tersebut tentu dilakukan berdasarkan pembacaan yang cukup matang terkait kondisi sosial yang terjadi pada masanya.

Perkembangan jaman, kemajuan teknologi, serta keinginan masyarakat untuk mendapatkan informasi secara cepat dan mudah, barangkali juga merupakan alasan kebanyakan persma memilih alat lain selain media cetak untuk mendistribusikan wacana maupun informasi. Dan terpilihlah media online sebagai alternatif ditengah perkembangan tehnologi yang demikian berkembang.

Sebagai media alternatif masa kini, tentu media online memiliki banyak keunggulan dibandingkan media cetak. Selain mudah diakses, memiliki jangkauan yang luas, dapat berinteraksi langsung dengan pembaca. Atau untuk kalangan persma hijrahnya ke media online juga dapat memangkas biaya produksi yang selama ini memakan cukup banyak. Walaupun kenyataannya tak jarang distribusi yang buruk dapat membuat biaya cetak yang dikeluarkan akhirnya sia- sia belaka.

Tapi kenyataannya, hijrahnya persma ke online tidak serta merta meninggalkan begitu saja produk cetak yang selama ini menjadi kebiasaan dan andalan. Hal tersebut merupakan sebuah transisi yang cukup dilematis. Persma belum sepenuhnya meninggalkan produk terdahulu, apa yang terjadi kemudian? beban kerja semakin bertambah, padahal Sumber Daya Manusia (SDM) yang tersedia minim. Belum lagi kerja- kerja keorganisasian yang lain, selain kerja keredaksian tentunya.

SDM dituntut mengisi ruang- ruang yang diciptakan persma. Membuat kedua produk yang ada (online dan cetak) tetap hidup. Selain memenuhi standar terbit tiap bulannya untuk media cetak, SDM juga dituntut memenuhi standar terbit harian media online. Belum lagi persma dituntut menghasilkan karya yang berkualitas agar mampu bersaing secara data maupun wacana dengan media mainstream.

Produk cetak mengalami ke-molor-an deadline. Online tidak bisa masif diupdate tiap harinya. Akhirnya muncul permasalahan baru. Keduanya tidak bisa dihandle secara optimal. Niat mulia menjadi media alternatif di tengah maraknya media mainstream pun mengalami kendala yang cukup pelik. Njuk piye? lagi- lagi pertanyaan itu muncul. Lantas harus bagaimana menjadi persma di jaman now? Perlukah berhijrah secara total ke online dan berhenti memproduksi cetak? Ataukah tetap mempertahankan keduanya di tengah kendala- kendala yang nyata dihadapi?. Beberapa persma dengan berani meninggalkan produk cetaknya. Mencoba merubah sejarah yang ada selama ini. Sebut saja Arena, dengan pertimbangan yang cukup matang, Arena pun mencoba keluar dari zona lurusnya. Memfokuskan seluruh SDM, isu, wacana, untuk mengisi media onlinenya yang tengah dikelola. Disusul oleh Himmah. Selanjutnya? entahlah.

Baca juga  Jogja Butuh Taman

Mau mempertahankan keduanya ataupun hijrah ke salah satunya adalah sebuah pilihan. Saya jadi teringat tentang pernyataan Andreas Harsono terkait pandangannya tentang eksistensi media cetak di era digital. Bagi Andreas, kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi pada media cetak di kehidupan yang akan datang. Mungkinkah ditinggalkan? Siapa yang tahu. Namun kalimat yang penting untuk digaris bawahi dari penulis buku “A9ama Saya Adalah  Jurnalisme” ini, “Apapun mediumnya, sebaiknya tak ada perbedaan dalam standar jurnalisme. Kecepatan tak boleh mengorbankan verifikasi. Esensi jurnalisme adalah verifikasi,”

Tiba- tiba saya teringat dengan sebuah pesan dari Sunan Kalijaga, salah satu figur penting dalam sejarah pembentukan karakter arif umat Islam di tanah Jawa. Seorang figur yang termansyur dengan karakternya yang lentur, toleran, berkeadilan, serta berkeseimbangan.

“Anglaras ilining banyu, angeli nanging ora keli”. Begitu sebuah pesan yang selalu saya ingat dari Sunan Kalijaga, yang jika diartikan berarti “Menyesuaikan mengalirnya air, sengaja mengikuti arus, tapi jangan terbawa arus”. Sama halnya dengan pesan tersebut, menjadi persma di jaman now berarti kita siap untuk terus membenahi diri, memanfaatkan segala hal yang ada di jaman yang sering disebut now ini, entah dalam memanfaatkan kemajuan teknologi yang ada, maupun ikut menyoroti isu atau wacana yang sedang berkembang di masyarakat. Namun, bukan berarti persma ikut ke dalam arus pemberitaan, isu maupun wacana yang kerap kali dimunculkan oleh media- media mainstream.

Persma harus tetap idealis, independen, bebas dari kepentingan- kepentingan, termasuk kepentingan pemilik modal maupun politik. Masih berada pada jalan yang lurus, berpihak pada kebenaran. Menjadi media alternatif dalam memberikan informasi untuk publik. Semua itu memang pekerjaan yang berat, di tengah keterbatasan- keterbatasan yang dimiliki persma. Namun kalau bukan kita, pemuda, persma, siapa lagi? DPR? Jangan berharap pada mereka!.

“Dalam hidup kita Cuma satu yang kita punya, yaitu keberanian. Kalau tidak punya itu lantas apa harga hidup kita” – Pramoedya Ananta Toer.[]

*Hanya mahasiswi biasa yang suka minum es kopi susu. Penyuka lelaki gondrong yang hobi baca buku. Commanding Officer of Etnosentris yk.

Gambar: http://4.bp.blogspot.com

 

Komentar

komentar

2
Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Fikri

admin maksudnya catatan kaki itu apa y?apa tulisan ini sama dengan esai atau gimana? mohon penjelasannya