“Tuhan” Mana yang Hendak Dibunuh Saramago?

“Tuhan” Mana yang Hendak Dibunuh Saramago?

  • 8
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    8
    Shares

“Tuhan” Mana yang Hendak Dibunuh Saramago? Lpmarena.com

Oleh: Zaim Yunus*

Novel ini tampak seperti buku cerita anak. Lihat saja komposisi sampulnya: Ada gambar pantat domba, laki-laki mengenakan pakaian prasejarah-memegang sekop, dan di langit terlihat awan berbentuk relief wajah. Tak lupa, bintang-bintang bertebaran. Tetapi, sungguh, ini bukan buku anak.

Pada bab pertama, pembaca disuguhkan kisah awal manusia tentang Adam dan Hawa, dikutuk hidup di bumi hingga lahir dua anak mereka yaitu Habel dan Kain.

Ketika dewasa Habel beternak, sedangkan Kain merawat ladang. Hingga suatu hari mereka harus mempersembahkan hasil kerja mereka kepada Tuhan. Habel yang seorang peternak mempersembahkan daging biri-biri dan Kain mempersembahkan hasil bumi berupa gandum dan benih.
Dari sanalah akar permasalahan bermula: persembahan dari Habel diterima sedangkan Kain tidak oleh Tuhan (hlm. 32).

Habel yang merasa persembahannya diterima mengolok-olok Kain dan saat itu juga timbul dendam dalam diri Kain kepada Habel. Akibatnya, Kain membunuh Habel di suatu lembah yang jauh.

Kain tak mau disalahkan atas kematian Habel. Sebab, ia menganggap Tuhan memiliki hak prerogatif atas segala yang dilakukannya. Maka, Tuhan juga harus menanggungnya karena Kain hanyalah konduktor atas segala kehendak Tuhan. Akibat pembunuhan itu akhirnya Tuhan menimpakan kutukan kepada Kain. Ia dikutuk menjadi penjelajah waktu, menyaksikan kejadian tidak mengenakkan, kesedihan, kesepian, dan bertemu nabi-nabi setelah Adam—dalam agama Abraham.

Menurut saya, Jose Saramago jeli menyelundupkan perspektif-imajinatif, tak terterbak dan berbeda dalam memandang suatu hal. Suatu ketika, Nuh sedang mengumpulkan semua hewan, berpasangan (kecuali unicorn) dan diangkut dalam bahteranya. Untuk apa? Demi keberlangsungan kehidupan hewan. Itulah alasan kenapa unicorn tidak ada lagi pasca tragedi air bah pada masa Nuh.

Meski novel ini banyak menyadur kitab suci (Bible), Jose menyuguhkan kepada pembaca dalam bentuk lain. Dan, menuai kontroversi. Seperti novel Jose sebelumnya, According to Jesus Christ (1991), berkisah kehidupan Jesus yang berbeda dengan versi ajaran Katolik Roma.

Menurut saya, salah satu keunikan novel ini ketika Kain mengunjungi kaum Sodom dan Gomora. Kaum tersebut mempraktikkan tindakan homoseksual yang menyulut murka Tuhan. Akhirnya, Tuhan marah dan memusnahkan bangsa tersebut. Di sanalah Kain heran, memberontak, dan mempertanyakan klaim “keadilan” Tuhan. Murka Tuhan juga berdampak pada anak-anak dan orang tidak berdosa.

Baca juga  Mukjizat yang Turun untuk Maria

Kegeraman Kain bertambah ketika istri Lot juga dihukum, ia (istri Lot) dikutuk menjadi tiang garam karena tidak mengindahkan larangan Tuhan. Ia dilarang menengok ke belakang—melihat tragedi yang sedang menimpa bangsanya.Tetapi, karena iba dan rasa ingin tahu istrinya tak mengindahkan larangan itu. Tanya Kain, “Bagaimana bisa rasa ingin tahu disejajarkan dengan sebuah dosa besar?” (hlm. 104).

Novel ini memang memiliki keunikan tersendiri, baik dalam gaya penulisan atau karakter tokoh-tokohnya. Selain memiliki paragraf yang panjang, novel ini juga minim tanda baca. Bahkan, Jose hanya menggunakan tanda koma dan huruf kapital sebagai penanda percakapan. Gaya penulisan semacam ini digadang-gadang menganut gaya khas para petani di negeri yang Jose tempati.

Keunikan lainnya adalah dalam penggambaran karakter dan tokoh cerita. Misal, dalam novel ini sosok Tuhan diceritakan sebagi entitas “adi kuasa” yang memiliki bentuk layaknya manusia, bertangan, berkaki, serta mempunyai sentimen tinggi dan tukang cemburu.

Tampak jelas keberanian Jose dalam membangun sebuah cerita yang kental dan khas dengan pandangan politisnya sebagai seorang ateis. Selain itu, novel ini tidak cocok untuk usia di bawah 18 tahun. Sebab, pembaca akan disuguhi banyak kata erotis seperti ereksi, payudara, penis, ejakulasi dan penetrasi. Tetapi, itu tidak buruk untuk membangun sebuah cerita menjadi lebih nyata dan begitu adanya.

Merencanakan Pembunuhan Tuhan?

Ketika Tuhan tak mau disalahkan atas kesalahan-Nya dan berprilaku labil seperti remaja jatuh cinta. Kain hadir sebagai anak kecil nakal yang heroik. Terlahir dan seolah ditakdirkan sebagai pemberontak dengan mempertanyakan kembali klaim kebenaran atas “sifat baik Tuhan”. Kain mencoba menggali kebenaran dengan rasio dan apa yang telah dipelajarinya.

Dalam novel ini, Jose cukup frontal dalam menggunakan sosok Kain guna membunuh karakter Tuhan. Seperti ateis pada umumnya ia sesekali menyentil bagaimana orang-orang (agamawan) menggunakan logika berputar. Seperti anggapan bahwa: Tuhan tidak pernah berbuat jahat, sebab jika jahat bukanlah Tuhan, dan seluruh kejahatan adalah milik setan (hlm. 139). Juga pernyataan Kain, “Mungkin bahwa setan hanyalah instrumen lain milik Tuhan, yaitu pihak yang melakukan pekerjaan kotor yang Tuhan lebih suka untuk tidak dikaitkan pada namanya.”

Baca juga  ASP Tuntut PP Muhammadiyah Atasi Kasus Poros

Tetapi, ini tidak seburuk yang kalian pikirkan. Saya pikir Jose bukanlah “ateis yang baik”. Dibuktikan banyaknya adegan Kain bertemu Tuhan dan berbincang dengan-Nya. Seolah menyiratkan masih ada tempat bagi Tuhan yang masih terus Jose cari dan gali.

Bagi saya, Jose tak lebih dari kebanyakan orang modern yang skeptis. Mungkin, ia hanya ingin “menelanjangi” Tuhan dan mencari jawaban atas kejadian-kejadian tersebut. Kita tahu Jose bukan yang pertama dalam perencanaan pembunuhan Tuhan. Nietzsche bahkan lebih radikal dengan mengatakan, “Tuhan telah mati” dalam Thus Spoke Zarathustra.

Tetapi, apakah Jose dan Nietzsche benar-benar membunuh Tuhan? Dalam buku Gaya Filsafat Nietzsche A. Setyo Wibowo, mengungkapkan: Nietzsche hanya ingin menelanjangi klaim gereja atas “Tuhan”. Barangkali, Jose memiliki alasan yang tak jauh beda—menelanjangi nilai-nilai moral yang diceritakan dalam kisah para nabi menggunakan dialektika antara Kain dan Tuhan.

Meski begitu, banyak sekali pesan humanisme ditemukan dalam novel ini. Kita dapat mengibaratkan cerita ini menjadi lebih sederhana. Misal, Tuhan adalah perlambang pemerintah atau penguasa yang jahat.

Dalam kisah Gomorah dan Sodom, umpama, ketika Tuhan meratakan seluruh umat Nuh (termasuk anak-anak yang tidak berdosa) akibat sebagian masyarakat mempraktikan homoseksual. Atau saat Tuhan memerintahkan kaum Israel untuk saling membunuh dalam rangka pertobatan pasca tragedi penyembahan patung anak sapi.

Lantas coba bandingkan dengan Amerika yang membombardir Irak setelah serangan menara kembar WTC 9/11 atau bagaimana rezim jahat yang memancing konflik horisontal demi mempertahankan kekuasaan. Jose memang seorang ateis, tetapi melihat bagaimana cara pandangnya dan wacana humanisme dalam novel ini barangkali saya bisa meminjam istilah dalam artikel The Two Types: Dionysus and the Crucified. Jose adalah seorang religious man (manusia relijius), bukan religion man (manusia agama).

Memang sosok Kain seolah menjadi representasi atas jiwa-jiwa pemberontak, meragukan segala hal dan radikal. Tetapi apakah ini sesuatu yang buruk? Sila baca dan nilai sendiri.

Judul: Kain
Penulis: Jose Saramago
Penerjemah: An Ismanto
Penerbit: Basabasi
Cetakan: Desember 2017 (Cetakan pertama)
Tebal: 192; 14 x 20 cm
ISBN: 978-602-6651-57-0

*Zaim Yunus, Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Sunan Kalijaga.

Gambar: kineruku.com

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of