Parrhesia: Mengatakan Kebenaran yang Berisiko

Parrhesia: Mengatakan Kebenaran yang Berisiko

  • 21
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    21
    Shares

Parrhesia: Mengatakan Kebenaran yang Berisiko

“Orang dikatakan menerapkan parrhesia hanya jika terdapat risiko atau bahanya baginya dalam mengungkapkan kebenaran,” demikian ungkap Michel Foucault dalam bukunya Parrhesia. Dia hendak mengatakan bahwa berkata benar sama dengan berani mengambil risiko. Parrheisates—seseorang  yang berkata benar—akan dibenci, terasingkan, bahkan kehilangan nyawa.

Sebenarnya, buku ini bukanlah tulisan tangan Foucalut secara langsung. Melainkan materi dalam rekaman kaset ceramahnya yang berbahasa Inggris di University of California, Berkeley, pada semester musim gugur 1983.

Dalam ceramahnya itu, Foucault mengatakan parrhesia pada umumnya diterjemahkan sebagai “berbicara bebas” atau “berbicara benar”. Topik ini merupakan bagian dari diskursus wacana dan kebenaran dalam konsep Yunani tentang keterusterangan dalam mengatakan apa yang benar.

Mengacu pada kutipan awal tadi, seseorang bukan termasuk parrheisates jika kebenaran yang ia sampaikan tidak menimbulkan sebuah risiko dan bahaya. Bentuknya tidak melulu soal kehilangan nyawa dan diasingkan, tetapi juga dibenci dan dijauhi, serta menyakiti kerabat dan teman-temannya. Misalnya, Anda melihat seorang teman melakukan sesuatu yang salah dan Anda mengambil risiko yang dapat menimbulkan kemurkaannya dengan mengatakan ia salah, berarti Anda telah bertindak sebagai parrhesiastes (hlm.8).

Jika diaktualisasikan dengan keadaan hari ini, di mana sistem dan teknologi informasi membuat setiap orang terhubung dengan orang lain yang bahkan tidak dikenal, sang parrhesiastes bisa jadi kehilangan popularitas bahkan disingkirkan karena bertentangan dengan pendapat manyoritas. Sebab, sekarang manusia sangat kesulitan dalam membedakan antara yang benar dan salah. Akhirnya, kebenaran didasarkan pada pendapat mayoritas (common sense).

Walhasil, berkata benar sangat erat kaitannya dengan keberanian untuk menimbulkan dan menghadapi bahaya. Dampak paling ekstrim, menurut Foucault, adalah ‘permainan’ hidup-mati.

Baca juga  Gerakan Petani Kulonprogo Melawan SG dan PAG

Kendati demikian, kebenaran yag dijelaskan Foucault lebih cenderung subjektif dan relatif. Ia lebih percaya bahwa parrhesiastes mengatakan apa saja yang benar dan ia tahu bahwa itu benar, serta tahu bahwa demikian benar karena memang hal tersebut benar. Ia mengatakan apa yang Ia ketahui memang benar. Dalam parrhesia selalu terdapat koindensi yang presisi (exact coincidense) antara kepercayaan (belief) dan kebenaran (truth).

Berkata Benar sebagai Kewajiban

Dipahami betul oleh sang parrhesiastes bahwa berkata benar acap kali menimbulkan mara bahaya. Namun, kenapa ia tetap bersekukuh pada kebenaran bahkan saat mengatakannya? Kenapa ia tetap nekat? Jawabanya adalah karena ia merasa berkata benar sudah menjadi kewajiban. Hal ini membuat tidak ada satu pun yang bisa memaksanya untuk bungkam.

Sebaliknya, jika ada seseorang yang dipaksa untuk berkata benar, misalnya di bawah tekanan penguasa, maka wacana yang disampaikan bukan sebuah kebenaran dan ia tidak bisa disebut sebagai parrhesiaste.

Dalam ungkapan yang lebih sederhana, parrhesia adalah aktivitas lisan di mana seorang pembicara mengungkapkan hubungan pribadinya dengan kebenaran serta kesediaan menanggung risiko hidupnya (hpm.13). Ia mengakui mengungkapkan kebenaran adalah kewajiban untuk mengingatkan dan membantu orang lain, termasuk pada dirinya sendiri.

Seorang parrhesiaste mesti berbicara menggunakan kebebasannya dan memilih keterusterangan dari pada persuasi, kebenaran dari pada kesesatan dan kebungkaman, risiko kematian dari pada kehidupan dan keamanan, kecaman dari pada sanjungan, dan kewajiban moral dari pada kepentingan diri sendiri dan ketidakacuhan pada moralitas yang dipegang.

Pada dasarnya, buku tersebut ingin menyampaikan bahwa berkata benar itu sulit. Sangat jarang orang yang bisa bertindak seperti halnya parrhesiastes. Meskipun lebih fokus pada penggambaran praktik dan teknik pengamalan parrhesia di zaman Yunani Antik, akan tetapi beberapa hal masih kontekstual untuk dipraktikkan di zaman sekarang. Terlebih dengan banyaknya orang yang terjebak dalam silent spiral atau membungkam diri karena memiliki pendapat yang berbeda dengan orang kebanyakan. Bersamaan dengan itu, hoax sudah menjadi tontonan menarik yang disuguhkan kepada publik.

Baca juga  Tiga Bersaudara Postmodernisme yang Ingin Membunuh Tuhan

Judul Buku Parrhesia: Berani Berkata Benar | Penulis Michel Foucault | Penerjemah Haryanto Cahyadi | Penerbit Marjin Kiri | Kota Terbit Tangerang Selatan | Waktu Tebit Mei 2018 | Jumlah Halaman x + 209 hlm | Demensi 12 × 19 cm | Peresensi Hedi Basri

Komentar

komentar