Bagaimana Pelopor Harus Berjuang?

Bagaimana Pelopor Harus Berjuang?

  • 57
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    57
    Shares

Bagaimana Pelopor Harus Berjuang?

Oleh: Dude Malik Al-Makassari*
Bahwa kegagalan demi kegagalan untuk memberikan kekuatan pada sebuah prasayarat untuk terciptanya revolusi belum semaksimal mungkin kita laksanakan. Maka dari itu kita menghadapi sebuah tantangan besar yang tidak hanya bisa kita lihat dengan mata, tapi juga kita rasakan. Semakin akutnya penindasan dan penghisapan kapitalisme terhadap segenap rakyat bangsa Indonesia.

Kawan-kawan yang revolusioner, pertemuan IMF-WB di Bali adalah contoh. Bahwa sampai detik ini kita telah menyaksikan puncak dari kemegahan eksploitasi dan perampokan terhadap ibu pertiwi. Tontonan yang diperlihatkan oleh para oligarki politik dengan narasi-narasi yang seolah-olah begitu populis, tapi ternyata selubung ketidakadilan dalam berekonomi maupun berpolitik tetap terpelihara di negeri ini. Di medan politik ini, bahwa sekiranya kita belum begitu punya pengaruh yang cukup kuat untuk mempresure penguasa dalam menciptakan kebijakan yang bersifat populis, dalam pengertian bisa dirasakan oleh baik itu buruh, petani, nelayan dan kaum miskin kota.

Sebuah negara bangsa seperti indonesia di abad ke-20 telah bergulat dengan demokrasi. Ibu pertiwi telah bersusah payah untuk melahirkan demokrasi, di awal abad ke-21 demokrasi itu dibajak oleh para pialang politik hasil didikan orde baru, yang sampai detik ini masih terus berkuasa.

Apakah kita pernah belajar ataukah sudah malas belajar terhadap banyaknya pengalaman dari para arsitek revolusi dunia? Kawan-kawan yang revolusioner, dibelahan dunia ini ada masyarakat yang primitif, ada juga yang tidak primitif tapi juga tidak modern, dan mereka adalah mayoritas yang menghuni bumi juga menopang masyarakat modern untuk segala urusan kehidupannya. Tapi saya ingin kembali kepada pertanyaan awal bahwa, bagaimana pelopor harus berjuang?

Gelombang pasang surut organisasi selama beberapa tahun ini, ideologisasi yang tidak masif, mental kader yang di ninabobokkan oleh teknologi. Berbagai macam potensi tidak bisa dimanfaatkan secara maksimal, tidak mampu ditransformasikan untuk memanusiakan manusia sebagaimana jargon ‘intelektual humanis’. Maka tanggung jawab moril sepenuhnya harus kita emban, bahwa itu adalah semacam ‘pekerjaan rumah’ demi untuk cita-cita kemerdekaan seratus persen tanpa syarat!

Baca juga  Ekspedisi Menjemput Harimau Jawa

Kawan-kawan yang revolusioner, “Lebarkanlah dadamu, besarkanlah hatimu, bajakanlah urat ototmu, dan berjuanglah dengan segenap jiwa ragamu,” (Soekarno, Dibawah Bendera Revolusi). Dalam situasi yang tidak berbanding lurus seperti sekarang ini, bahwa masifnya eksploitasi sumber daya alam dan sumber daya manusia bangsa indonesia yang dilakukan oleh neoimperialisme dan neokolonialisme, penindasan manusia terhadap manusia lain. Gerakan pemuda sebagai satu-satunya tenaga inti revolusi belum juga menemukan gairahnya untuk bangkit melawan dan berjuang. Tugas kita kawan-kawan, adalah saatnya mengembalikan marwah dan tradisi gerakan perlawanan yang sempat terpuruk sejenak, Maju atau hilang untuk selamanya!

Pertarungan untuk memperebutkan kekuasaan seperti sebelumnya, dan saat ini yang di praktekkan oleh para oligarki pialang politik, yakin bahwa mereka semua tidak akan pernah mampu untuk mengusir neoimperialisme dan neokolonialisme.
Dalam medan pergerakan kita yang benar-benar harus kita analisa lebih tajam lagi, situasi momentuman yang gagal kita maksimalkan, sehingga berakibat pada gagalnya gerakan menciptakan situasi politik, dan pada akhirnya melemahkan semua potensi pergerakan rakyat untuk bisa bergaining dihadapan penguasa. ‘perlawanan yang tidak sistematis akan dikalahkan oleh kejahatan yang sistematis’ maka kalau penindasan dan penghisapan itu dilakukan dengan cara yang sangat sistematis, mengapa kita tidak melawannya dengan cara yang sistematis pula?

Kita telah menyaksikan baru beberapa bulan yang lalu, lewat 17 Agustus atau hari ulang tahun Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dari kepulauan yang terletak diujung paling barat Indonesia yaitu Sabang, dan diujung paling timur Indonesia yaitu Merauke Papua. Dari pulau Miangas dibagian utara sampai pulau Rote dibagian selatan. Daerah-daerah terpencil dan gang-gang sempit di perkotaan dengan sangat antusias menyambut 17 Agustus, dengan diadakan dengan berbagai macam perlombaan. Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah apakah begitu juga antusiasme para penguasa dan pengambil kebijakan di negeri ini? Untuk memberikan akses kepada petani yang berlahan sempit terhadap tanah untuk menambah luas tanah garapannya? Atau buruh, kepada upah yang lebih layak? Nelayan, kepada kapal dan alat tangkap ikan? Kaum miskin kota, lahan untuk berdagang, akses terhadap modal dan perlindungan persaingan yang sehat? Kran demokrasi terbuka, tapi kemudian hanya memapankan dan memuluskan jalan para kapitalisme birokrasi (Kabir) dan konco-konconya.

Yogyakarta sebagai lokus pergerakan, sebagai miniatur terkecil dari sebuah negara indonesia menjadi lebih kompleks ketika berbagai persoalan entah perburuhan, Agrarian reform, nelayan dan kaum miskin kota. Karena Yogyakarta dengan label provinsi termiskin se-Jawa, begitupun dengan gaji buruh yang juga terendah se-Jawa, tapi tingkat kebahagiaan atau harapan hidup tertinggi di pulau jawa bahkan mungkin se-Indonesia. Itu adalah sebuah tantangan buat pergerakan untuk merumuskan ulang arah perjuangan kedepan, akan seperti apa ditengah situasi yang tengah menguji kita seperti yang saya tuliskan diatas.

Baca juga  Hukum Gagal Melindungi Aktivis Lingkungan Hidup

Ditengah pemiskinan secara struktural, tapi kemudian gerakan rakyat juga tidak kunjung lebih maju selain pertontonan dagelan politik nasional yang menenggelamkan isu sosial untuk menjadi peristiwa politik. Jadi ada semacam dekaden entah diranah politik, sosial, ekonomi dan kebudayaan, yang mungkin setiap detiknya mempengaruhi alam bawah sadar kita.

Kalau Lenin bertanya revolusi dari mana kita mulai? Dan dia membuat jawaban, dengan persekutuan kelas yang digerakan oleh kaum intelektual. Kita semua memahami bahwa sejak 1950-an, ketika banyak perusahaan-perusahaan milik belanda yang di nasionalisasi oleh Soekarno dan kemudian dikelola oleh pejabat-pejabat militer sampai berhadapan dengan sentral organisasi buruh seluruh indonesia (SOBSI) yang sangat militan dan radikal, yang juga berafiliasi dengan partai komunis indonesia (PKI). Dari situlah genealogi penghancuran narasi perjuangan kelas yang mendapat klimaksnya pada masa histeria 1965/1966. Gerakan petani dan buruh yang efektif atau dalam pengertian ‘militan revolusioner’ akan mendapat stigma komunis. Begitulah lakon politik yang terbangun di negeri ini. Tulisan ini hanya semacam orasi politik, tapi sepenuhnya harusnya kita menyadari bahwa pergerakan bukan titipan dari orang terdahulu, melainkan tanggung jawab kita sebagai pelopor, dari hari ini sampai hari-hari yang akan datang, yang tidak dibatasi oleh waktu.

“Mendidik rakyat dengan pergerakan, mendidik penguasa dengan perlawanan”
Hidup Rakyat… Hidup Rakyat… Hidup Rakyat…

*Penulis adalah Kepala Suku Keluarga Mahasiswa Pecinta Demokrasi (Kemped) tahun 2013.

Komentar

komentar