Milad ESKA: Pentingnya Arsip untuk Kesenian

Milad ESKA: Pentingnya Arsip untuk Kesenian

  • 3
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    3
    Shares

Milad ESKA: Pentingnya Arsip untuk Kesenian

Lpmarena.com Arsip dan seni menjadi tema dalam perayaan ulang tahun ke-38 Teater Eska yang berlangsung Kamis malam (18/08). Labibah Zain selaku pembina mengatakan arsip dan seni bisa menjadi pengetahuan baru dan rujukan bagi pementasan-pementasan selanjutnya.

Selain itu tema ini diharapkan dapat membawa penonton untuk mengetahui jejak-jejak pementasan Eska. “Itu bisa digunakan oleh setiap orang untuk menemukan kembali (rekam jejak teater.red),” papar Labibah Zain dalam sambutannya tepat setelah acara puncak pemotongan tumpeng di halaman Gelanggang Eska.

Muhammad Farid, salah satu anggota Teater Eska memaparkan bahwa arsip tidak hanya berupa naskah tetapi juga video dan properti. Sementara hubungan arsip dan seni lebih kepada hasil yang dilakukan. Seseorang membuat karya seni berupa naskah, musik, atau artistik lalu kemudian diarsipkan.

“Nanti jika ada pentas lagi kita bisa lihat dan evaluasi dari arsip yang dulu pernah ditampilkan atau bisa menjadi karya baru,” ujar Farid kepada ARENA Jumat (19/08).

Selama ini banyak dari hasil-hasil karya Teater Eska hilang begitu saja. Beberapa karya lupa didokumenkan, beberapa karya lainnya yang hanya diketahui segelintir orang juga menghilang sebelum sempat diminta untuk diarsipkan. Menanggulangi itu, saat ini biasanya karya yang ada segera disetor kepada koordinator pengarsipan.

38 Tahun Karya Eska

Selama acara berlangsung Teater Eska memajang arsip baik berupa naskah maupun properti yang masih tersimpan. Seperti album Eska dalam Media, naskah drama, properti pentas produksi Labirin 2014, bingkai eskatalogi, kumpulan naskah teater Eska, properti pentas produksi Khuldi 2016, ekspolarasi jilbab teater ESKA, properti pentas Tadarus Puisi 2018, properti Pentas Tiga Bayangan.

Arsip-arsip yang dipajang merupakan bentuk refleksi perjalanan selama 38 tahun. Selain untuk menghidupkan tema acara, bisa sebagai display dan tempat foto. “Secara praktisnya arsip sebagai hiasan yang dipajang ingin menunjukan arsip-arsip kita yang berbentuk teks dan property setting,” tutur Abdul Ghofur Habiburrohman selaku ketua panitia saat ditemui ARENA seusai acara di depan Gelanggang Eska (18/08).

Baca juga  Kepleset Eiy: Seniman Jangan Hanya Berhenti Pada Karya!

Panggung seni dibuka oleh penampilan dari Teater Kroco yang berjudul “Mejikuhibiniu.” Menampilkan sosok tunggal berpakaian hitam-putih dan berdasi. Memaparkan keadaan negeri yang dipenuhi kesengsaraan rakyat kecil dan korupsinya para pejabat.

Dilanjutkan dengan penampilan teater “Pesan dari Mana” dan musikalisasi puisi berjudul “Kursi” karya Habiburrahman yang merupakan anggota Teater Eska. Ada pula penampilan Band Eska yang membawakan beberapa lagu.

Acara ditutup dengan makan bersama seluruh anggota dan penonton yang hadir. Habibah, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga yang menjadi tamu dalam acara tersebut menyatakan sangat terkesan terutama oleh karya-karya Eska dan keakraban seluruh anggotanya.

“Keren banget, soalnya udah beberapa kali nonton acaranya ESKA sering juga terharu melihat keakraban mereka di luar dan juga bisa sebagus itu penampilannya. Intinya keren banget,” tutur Habibah kepada ARENA Kamis (18/08).

Reporter: Magang, Wahidul Halim
Redaktur: Fikriyatul Islami M

Komentar

komentar