Kesempatan Perempuan menjadi Diplomat Meningkat

Kesempatan Perempuan menjadi Diplomat Meningkat

  • 8
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    8
    Shares

Kesempatan Perempuan menjadi Diplomat Meningkat

Lpmarena.com Berdasarkan data yang  disampaikan oleh Duta Besar (Dubes) Safira Machrusah selaku pemateri Seminar Nasional Pembukaan Konsentrasi Pascasarjana Magister Bahasa dan Diplomasi bertema Diplomasi, Bahasa dan Gender, kesempatan perempuan Indonesia menjadi diplomat meningkat. Dalam acara yang digelar Senin pagi (22/10) di Gedung Convention Hall UIN Sunan Kalijaga, dipaparkan bahwa pada bulan Juni 2015 prosentase diplomat perempuan 34,5% dan tahun 2018 menjadi 36,1% atau naik 1,6% dalam tiga tahun terakhir.

Perempuan yang menjadi seorang diplomat tidak ditempatkan di negara-negara yang rawan seperti Afganistan, Iran, dan negara rawan lainnya. Meskipun salah satu tantangan diplomat adalah ditempatkan di negara berstatus dalam kondisi rawan. Hal ini dikarenakan sebagai istri & ibu, perempuan perlu membagi peran antara karir & keluarga saat tinggal di luar negeri. Dan juga jadwal kerja yang panjang & melelahkan terkait dengan perbedaan waktu antara Indonesia dan negara penempatan.

“Mungkin karena rata-rata masa karir diplomat perempuan masih lebih rendah dibandingkan diplomat laki laki,” papar Safira Machrusah yang merupakan seorang Dubes Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Republik Demokrat Rakyat Aljazair.

Pada tingkat pimpinan, perempuan menduduki Menteri Luar Negeri, 3 jabatan Eselon 1, 13 jabatan Eselon 2, 11 Dubes dan 6 Konsul Jenderal atau 34 dan 234 jabatan tinggi (sekitar 14,5%).

Desthy Umayah, salah seorang peserta seminar menanggapi bahwa kesempatan perempuan menjadi diplomat tidak dipengaruhi oleh gender melainkan kemampuan individu. “Kendala, mungkin lebih ke hal personal seperti keluarga, suami, anak, dan penempatan tugas di wilayah rawan atau tidak rawan,” ujar mahasiswa konsentrasi Kajian Timur Tengah Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga ini.

Baca juga  Hibridasi Budaya, Kritik Terhadap Kolonialisme

Dihadiri oleh para wakil dekan, kepala progam studi dan para dosen pascasarjana, seminar ini menghadirkan tiga narasumber yaitu Dubes Safira Machrusah, Dubes Dr. Eddy Pratomo, M.A, dan Dubes Drs. Bunyan Saptomo, M.A.

Selain topik gender dan peluang perempuan menjadi diplomat negara, forum ini juga membahas hukum internasional dan praktek-praktek diplomasi yang dibawakan oleh Dubes Dr. Eddy Pratomo dan sejarah panjang dan tugas diplomat oleh Dubes Drs. Bunyan Saptomo, M.A.

Seminar nasional dengan 202 orang peserta ini sekaligus sebagai pembukaan School of Diplomacy berdasarkan Surat Keputusan Rektor No. 193 tahun 2018 tanggal 15 Oktober 2018. Prof. Noorhaidi, MA., M.Phil., Ph.D. dalam sambutannya menyampaikan keputusan untuk segera mendirikan konsentrasi Magister Bahasa dan Diplomasi di bawah program studi Interdiciplinary Islamic Studies.

Gagasan ini didasari oleh keinginan memperbanyak alumni UIN Sunan Kalijaga. Khususnya yang bisa berkiprah sebagai diplomat ulung dan Dubes Indonesia di berbagai negara.

Desthy Umayah mengatakan bahwa peluncuran konsentrasi sendiri adalah ide bagus. “Semoga bisa menjadi bekal dan membuka jalan untuk teman-teman yang bercita-cita menjadi seorang diplomat,” ujarnya kepada ARENA Senin (22/10).

Reporter: Dina

Redaktur: Fikriyatul Islami M

Komentar

komentar