Eko Prasetyo: Persaingan Internasional Kampus Ancam Gerakan Mahasiswa

Eko Prasetyo: Persaingan Internasional Kampus Ancam Gerakan Mahasiswa

  • 18
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    18
    Shares

Eko Prasetyo: Persaingan Internasional Kampus Ancam Gerakan Mahasiswa

Lpmarena.com- Kampus di Indonesia serta gerakan mahasiswa tengah mengalami ancaman, terlihat dari obsesi dunia kampus untuk berada di posisi internasional. Hal ini disampaikan oleh Eko Prasetyo dalam diskusi publik yang digelar oleh Keluarga Aksi Mahasiswa (KAM) UIN Sunan Kalijaga, Jumat siang (09/11).

Obsesi kampus untuk meraih reputasi membuat kampus melakukan segala upaya demi meraih posisi terbaik. Mulai dari menembus jurnal internasional hingga merekrut dosen-dosen berkompeten dari luar. “Selalu kita melihat bahwa masing-masing kampus berkompetisi untuk menempatkan dirinya sebagai terbaik dan yang paling baik,” terang Eko.

Dalam diskusi yang digelar di Gedung Teatrikal Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga tersebut, Eko menceritakan bagaimana kampus berlomba-lomba menjadi juara satu dan membangun infrastruktur. Menurut Eko, kondisi inilah yang akan mengubah banyak sekali pola tingkah mahasiswa.

Selain itu, ancaman lain bagi gerakan mahasiswa adalah ketika kampus berusaha untuk memastikan relasi dengan dunia pekerjaan. Bahkan berupaya merumuskan unsur-unsur tersebut dalam kurikulum pembelajaran. “Karena saat ini, ciri kampus yang berhasil adalah mampu memberangkatkan mahasiswanya jadi pegawai, jadi pekerja, jadi apapun asal tidak nganggur,” ujarnya.

Eratnya relasi kampus dengan dunia kerja serta atas dasar krisis tenaga kerja teknik, muncul dominasi ilmu dalam kampus. Sehingga timbul kecenderungan untuk lebih mengutamakan ilmu-ilmu teknik dan sains serta menanggalkan ilmu-ilmu Humaniora. Kondisi ini juga dikatakan “bahaya” oleh Eko, sebab tidak ada komunikasi yang intensif antara mahasiswa fakultas Humaniora dengan fakultas lain.

Hal-hal itulah yang kemudian membuat negara lepas tangan dan memberikan otonomi pada kampus. Sehingga kampus membutuhkan kerja sama dengan perusahaan karena kesulitan untuk mencari dana. “Itu sebabnya, karena mengadopsi, lama kelamaan kampus kehilangan citra intelektualnya, dia mengadopsi watak-watak korporasi, dan itulah yang terjadi pada proses penyeragaman,” tambah Eko.

Baca juga  Kampus: Miniatur Carut-Marutnya Negara oleh Politik Praktis

Dalam hal ini, kampus diletakkan sebagai institusi yang mempertahankan tata kelola otonomi dengan meletakkan mahasiswa sebagi konsumen, tenaga kerja sekaligus pemasar yang efektif.

Dalam diskusi bertajuk “Gerakan Mahasiswa di Era Milenial” tersebut Eko menjabarkan perubahan-perubahan yang terjadi pada kampus. Mulai dari level kebijakan serta budaya kampus yang menjadi korporasi, struktur kekuasaan yang meletakkan peran otonominya seperti kompetisi politik, hingga pengaruh kampus dengan dunia kerja.

Intervensi kehidupan politik kekuasaan dalam lingkungan kampus dimana peran dan pengaruh kekuasaan mendapatkan dukungan akademis. Alhasil jabatan-jabatan diperebutkan di kampus karena dengan jabatan struktural, seseorang akan memperoleh banyak keuntungan finansial. Misalnya jabatan rektor akan memiliki banyak relasi dan peluang kekuasaan.

Itu sebabnya kampus bisa melakukan tindakan apapun pada mahasiswa yang memberontak sehingga gerakan-gerakan mahasiswa berada dalam posisi yang sulit. Kemudian pada titik tertentu akan terjadi proses regenerasi kebudayaan. “Mahasiswa akan menjadi individualis, kehilangan watak politis kritisnya dan didorong untuk selalu berkompetisi,” papar Eko.

Reporter: Magang, Dina

Redaktur: Fikriyatul Islami M

Komentar

komentar