Lika-Liku Pustakawan di Era Disruptif

Lika-Liku Pustakawan di Era Disruptif

  • 39
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    39
    Shares

Lika-Liku Pustakawan di Era Disruptif

Lpmarena.com- Saat ini, dunia tengah berada di Era Disrupsi 4.0 yang menciptakan pasar baru dan siap bertarung dalam percaturan global. Termasuk di dunia perpustakaan yang mulai menghadapi pesatnya perkembangan informasi.

Taufik Asmiyanto mengutip kalimat Rhenald Kasali, Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia yang mengatakan profesi pustakawan akan lenyap. Pendapat itu ditampiknya. “Pustakawan tidak akan mati, tetapi hanya bermetamorfosis saja,” ujar Dosen Ilmu Perpustakaan Universitas Indonesia tersebut, Kamis pagi (8/11).

Hal tersebut dibahas dalam diskusi bertajuk Menakar Ulang Muruah Pustakawan: Retropeksi dan Reposisi di Era Disrupsi di Ruang Seminar Perpustakaan Universitas Gadjah Mada. Taufik juga menegaskan, di era informasi ini pustakawan dan disiplin ilmunya justru akan mempunyai peran besar.

Ilmu perpustakaan adalah ilmu informasi. Taufik mengatakan, untuk menjadi pustakawan yang unggul, jangan sekadar menguasai disiplin ilmu perpustakaan saja, tetapi juga menguasai teknologi informasi dan komunikasi. “Ibarat dua sisi mata uang, ilmu perpustakaan tidak bisa lepas dari teknologi informasi dan komunikasi,” imbuhnya.

Hal itu senada dengan Endang Fatmawati dalam papernya yang berjudul Disruptif Diri Pustakawan dalam Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0. Perpustakaan harus menjadi menara ilmu yang mengupayakan sumber informasi dapat disebarkan seluas-luasnya.

Perpustakaan harus siap menghadapi industri 4.0 yang luar biasa tantangannya. Agar mampu bertahan, maka seharusnya pustakawan tidak bekerja sendiri-sendiri namun berkolaborasi dan mampu melahirkan inovasi baru untuk mengendalikan dampak baru akibat disrupsi.

Aditya Nugraha menambahkan, trend teknologi informasi dan komunikasi banyak mengambil alih peran pustakawan. Penilitian yang dilakukan oleh rekannya dari Maladewa menyimpulkan, dalam mencari informasi mahasiswa cenderung menggunakan Google.  “Pustakawan harus mengakui bahwa dengan google, mereka sudah kalah pamor,” tuturnya.

Baca juga  Tugas Intelektual Muslim dalam Pandangan Ali Syari’ati

Pustakawan Universitas Kristen Petra tersebut juga menyayangkan jika revolusi industri 4.0 dapat menggantikan profesi pustakawan beberapa tahun mendatang.  Hal ini, katanya, mengharuskan pustakawan meredifinisi peran dan fungsi mereka. Bahkan, di perguruan tinggi sekarang tidak hanya menyediakan koleksi buku. Perpustakaan juga dilengkapi dengan e-learning dan common library sebagai tempat belajar yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana kemajuan teknologi.

Hal tersebut dapat memantik mahasiswa, dosen, dan karyawan yang nantinya menghasilkan karya. “Saya yakin ini bisa jadi link dengan pusat inovasi dan kewirausahaan,” ujar Aditya.

Sementara itu, Muhidin M Dahlan membantah narasumber sebelumnya. Baginya, era disrupsi adalah sesuatu yang tercabut dari akarnya. Ia menguraikan akar dari kata “pustakawan” adalah “pustaka”. Di era disrupsi, jika “pustaka” hilang, maka tinggal “wan”. Saat si sosok “wan” lebih penting dari pustaka, itulah era disrupsi.

Muhidin juga berpendapat, pustakawan adalah “orang buku” yang memiliki konsekuensi sebagai orang pertama yang paling tahu tentang buku. Mereka selalu berada dalam pusaran besar “peristiwa buku”.

Agar lebih mudah dalam pengorganisasian, mereka membutuhkan alat bernama teknologi pengelolaan informasi. “IT itu adalah alat. Tak ada alat itu, ya, enggak apa-apa. Umur buku lebih tua dari IT dan segala kecakapannya,” tegas arsiparis pengelola warungarsip.co tersebut.

Klasifikasi Pustakawan

Lebih lanjut, Muhidin membagi dua macam pustakawan, yakni pustakawan pasif dan pustakawan aktif. Menurutnya, pustakawan pasif adalah sosok yang tinggal di sebuah ruang dan terus-menerus melakukan pembicaraan bersama suara-suara ide yang riuh dalam perpustakaan.

Sedangkan pustakawan aktif lebih banyak menghabiskan praktik mencintai buku secara sungguh-sungguh di lapangan. Keduanya sama-sama penting dengan posisi serta porsi tugasnya masing-masing. “Keduanya dipertemukan satu hal, radikal dalam melihat dan menempatkan buku,” papar penulis novel Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur tersebut.

Baca juga  Daur Ulang Eksistensi GM

Keadaan sunyi, menurutnya, senapas dengan kerja pustakawan. Dalam kedaan seperti itu, mereka justru merancang riset, menimbang buku, dan memimpin musyawarah seputar dunia perbukuan. “Hanya pustakawan yang tak punya ide mati dalam kesunyian,” pungkasnya.

 

Reporter: Elya Tri Junianti (Magang)

Redaktur: Tsaqif Al Adzin Imanulloh

Sumber gambar: Instagram @perpustakaan_UGM

Komentar

komentar