Pemilwa dan Dalih Struktur Kelas Dominan

Pemilwa dan Dalih Struktur Kelas Dominan

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Pemilwa dan Dalih Struktur Kelas Dominan

Oleh: Abdul Qoni’*

Pemilihan Wakil Mahasiswa atau biasa dikenal Pemilwa telah tiba. Masing-masing kandidat yang ada di jurusan, fakultas, dan universitas telah berkontestasi mengunakan argumentasinya untuk menarik perhatian mahasiswa. Tentunya hal tersebut dilakukan untuk menghimpun dukungan mahasiswa untuk memilih masing-masing calon.

Tahun ini tampaknya agak berbeda dengan pemilwa yang telah lalu, mungkin efek musim pemilihan ditingkat nasional. Setidaknya ada beberapa partai baru yang mewarnai, cuma itu bedanya. Berdasarkan data yang saya peroleh, pemilwa tahun ini diikuti oleh empat partai dan beberapa dari independen. Beberapa partai terbentuk dari hasil kualisi mahasiswa, dan tentunya ada yang tanpa koalisi. Tercatat 77 calon dari Partai Rakyat Merdeka (PRM), 6 calon dari Partai Kita Bersama (PARKIBA), 6 calon dari Partai Kedaulatan Rakyat (PKR), 4 calon dari Partai Persatuan Mahasiswa (PPM), dan 8 calon independen. Dari data tersebut partai dominan masih dikuasai oleh PRM.

Jargon-jargon demokrasi, digembar-gemborkan pada masa kampanye oleh masing-masing calon. Entah makna demokrasi yang seperti apa yang dimaksudkan. Tapi  khusnudzon saya, semoga tidak seperti sebelum-sebelumnya, dengan struktur keorganisasian yang lengkap namun program yang dijalankan tak pernah dirasakan oleh mahasiswa secara umum.

Dengan hadirnya empat partai, tentunya akan menambah kedewasaan masyarakat UIN Sunan Kalijaga dalam berdemokrasi. Sebab dengan tidak adanya partai tunggal, logika posisi dan oposisi sebagai ruang dialektika dalam menjalankan roda pemerintahan akan berjalan, memikirkan seluruh elemen masyarakat UIN Sunan Kalijaga. Agar menang tidak hanya menjadi arogansi, kekuasaan bukan menjadi simbol eksistensi belaka, dan biaya mahal Pemilwa tak terbuang sia-sia.

Para calon birokrasi yang budiman. Tidak ingin rasanya kembali mendengar  cacian terlontar dari mulut-mulut mahasiswa kepada kalian, hanya karena tak pernah jelas membuat program kerja. Mahasiswa bukanlah segolongan kelompok saja, melainkan terdiri dari berbagai kelompok, sehingga kami juga ingin dilibatkan dari apa yang dikerjakan.

Baca juga  KKN Gagal Revolusi

Penting kiranya, hal tersebut untuk diperhatikan. Mahasiswa bukan lagi seorang siswa Sekolah Dasar (SD) yang setiap apa yang dilakukan harus diarahkan. Mahasiswa adalah kumpulan orang yang mempunyai nalar dan berusaha mengunakan nalarnya dengan bijaksana. Sehingga setiap apa yang dilakukan selalu memikirkan dampak dan konsekuensinya dengan etika, atau unggah-ungguh dalam istilah Jawa. Kecuali memang kelompok orang yang sudah dibutakan nalarnya, yang tidak lagi mengerti etika dalam proses berhubungan dengan yang lainnya.

Calon wakil mahasiswa yang budiman. Semoga kalian termasuk manusia yang mempunyai nalar sehat, hingga mengerti etika dan batasan-batasan norma yang ada. Bukan hanya seseorang yang mempunyai jiwa rakus, dan haus akan kekuasaan, hingga rela melakukan apapun untuk mendapatkan kekuasaan tersebut.

Pemilwa adalah wujud kecil dari proses demokratisasi kampus yang mana mengedapankan akal sehat dan nalar jernih. Bukan wujud ekpresi politik kotor tanpa memperhatikan etika dan mengunakan nalar secar maksimal.

Timpang rasanya jika kita menolak oligarki tapi masih menerapkan sistem yang sama. Menolak politik kotor tapi masih menjalankan cara-cara kotor. Masih  bernalar ‘kekuasaan’ tanpa memiliki nalar profesional. Negeri ini bukan tempatnya uji coba kebatilan, sehingga dengan seenaknya menjegal lawan yang tak sepaham.

Semoga kedepan memang sudah berubah, bukan hanya wajahnya saja yang berganti. Tapi sistem dan nalar yang ada harus segera direvolusi.

*Mahasiswa yang tidak pernah tenang melihat oligarki kekuasaan.

Foto: Ahlal

Komentar

komentar