Pemilwa Sebagai Pendidikan Politik Mahasiswa

Pemilwa Sebagai Pendidikan Politik Mahasiswa

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Lpmarena.com- Tahun 2018 adalah tahun politik di kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pemilihan Wakil Mahasiswa (Pemilwa) yang biasanya dilakukan per dua periode sekali kini diselenggarakan setiap satu periode sekali, hal ini mengacu pada Undang-undang Pemilihan Wakil Mahasiswa (UU Pemilwa Tahun 2018). Mulai 11 sampai 13 Desember lalu Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM) menetapkan sebagai masa kampanye. Tanggal 14 sampai 15 Desember sebagai hari tenang sebelum dilaksanakanya pemilihan langsung yang semula terjadwal pada hari Senin (17/12), kemudian diundur pada hari Kamis (20/12).

Semasa kampaye calon dari tiap-tiap partai menyampaikan visi dan misi yang diusung partai. Mereka berdalil, sepanjang kampanye merekalah yang pantas untuk dipilih sebagai wakil mahasiswa.

Pemilwa sebagai pendidikan politik mahasiswa. Menurut Maman Suratman, partai peserta pemilwa sering tidak memperhatikan pendidikan politik bagi kader partai. Menurutnya pendidikan politik harus benar-benar dikawal oleh partai.

“Dari dulu sama aja, katanya pendidikan politik tapi nyatanya tidak ada,” ujar mahasiswa Filsafat Agama (FA) angkatan 2012, Jum’at (14/12).

Menurutnya, jika pendidikan politik diperhatikan partai, perwakilan yang terpilih nantinya tidak hanya mementingkan urusan partai, tapi benar-benar mewakili mahasiswa. “Saya berharap nantinya pendidikan politik dikawal betul oleh partai,” imbuh Maman.

Selain soal pendidikan politik, Maman juga berpesan agar setiap partai menghilangkan ego masing-masing dan memprioritaskan mahasiswa umum dibanding organisasinya.

Sementara itu Afit Rezky selaku ketua Senat Mahasiswa Universitas (SEMA U) memandang tugas dan fungsi partai dapat dilihat dari dua sisi. “Kalau tugas dan fungsi partai bagi mahasiswa itu sesuai AD/ART partai masing-masing, tapi kalau tugas dan fungsi partai dalam pemilwa ya mendelegasikan kader-kader terbaik,” jelasnya, Selasa (11/12).

Mengenal Lebih Dekat Partai 

Kasmoro Wijoyo, ketua Partai Kedaulatan Rakyat (PKR) menganggap pendidikan politik di UIN Sunan Kalijaga tidak terlalu diperhatikan oleh pemerintahan kampus. Karena menurutnya banyak mahasiswa yang berpandangan politik adalah hal yang tidak bermanfaat.

Baca juga  Songsong Pemilwa, Tim Ad Hoc Mulai Sosialisasi

“Itulah sebabnya PKR hadir ikut andil, dan harapanya akan merubah stigma buruk tentang politik,” papar Kasmoro, Selasa (11/12).

Ia menambahkan nantinya PKR akan adakan kegiatan-kegitan diluar pemilwa dan berkomitmen mengawal politik kampus. PKR sebagai partai baru di UIN Sunan Kalijaga menjelaskan dalam mendidik kader partai, pengurus menggunakan sistem follow up isu dan menjelaskan tugas, pokok dan fungsi kader partai dan teknis pemilwa.

“Pengurus partai akan mengontrol. Jalur koordinasinya seperti itu,” jelas Kasmoro.

Sementara ketika disinggung soal pembiayaan partai, Kasmoro menjelaskan pendanaan partai berasal dari iuran wajib anggota partai tanpa ada dana dari kampus.

Sementara itu Rohmad Aditiya Utama ketua Partai Kita Bersama (Parkiba), menurutnya tujuan partai bukan sekedar untuk memperebutkan kekuasaan di wilayah student government UIN Sunan Kalijaga, namun juga membangun perspektif politik mahasiswa.

Partai dengan nomor urut satu tersebut memiliki program kerja sesuai visi dan misi partai yakni, pendidikan politik bagi mahasiswa. Agar pendidikan lebih menjunjung nilai kemanusiaan dan mampu menjawab persoalan sosial masyarakat. “Lewat sekolah politik, dengan live in sectoral kader partai diajak menganalisis dan mengurai persoalan masyarakat,” jelas Adit, Rabu (12/12).

Adit menjelaskan, terkait perekrutan anggota baru, Parkiba belum melakukan perekrutan secara resmi. Menurutnya Parkiba lahir dari logika konferderasi, dan lahir dari beberapa elemen gerakan mahasiswa, dan tidak menutup pintu bagi mahasiswa umum yang tidak berorganisasi.

“Parkiba tidak membatasi diri, kita menerima mahasiswa umum yang benar-benar mementingkan kepentingan seluruh mahasiswa UIN,” imbuhnya.

Ia menjelaskan anggota partai disaring melalui sistem dialektika, yakni dengan mekanisme penyaringan standar partai, dan sejauh mana pemahaman tentang student goverment. “Apa yang kurang kita tambahi dengan sharing kita membangun dialektika,” ujar Adit.

Baca juga  Sabiq Bilang: Arena, Ciptakan Anomali!

“Kalo pendanaan partai diperoleh dari swadaya secara suka rela anggota, berdasarkan semangat kekeluargaan,” pungkas Adit.

Sementara itu partai nomor urut tiga Partai Persatuan Mahasiswa (PPM) dengan slogan nasionalis, sosialis, dan religus bertujuan untuk menciptakan mahasiswa dengan kesempatan yang sama dalam pendidikan politik. Nasarudin Ali selaku ketua PPM menyayangkan kibijakan KPU yang hanya memperbolehkan calon yang mempunyai SK kepengurusan eksternal.

“Mahasiswa UIN itu banyak yang tidak berorganisasi, ada yang hanya dari kalangan akademisi saja, dan pemikiranya sangat dibutuhkan, untuk membangun dinamika mahasiswa yang lebih baik,” ujar Nasar, Jum’at (14/12).

Nasar menjelaskan atas semangat akses yang sama dalam pendidikan politik tersebut, mekanisme perekrutan anggota baru PPM terbuka untuk mahasiswa UIN yang memiliki niat memperbaiki kampus. Dengan catatan membuat kerja-kerja konkret.

Terkait agenda partai selain Pemilwa, PPM menargetkan akan mengadakan sekolah poitik secara besar-besaran pada bulan Januari dengan mekanisme pengkaderan dengan mengaitkan organisasi seperti, HMI, PMII, GMNI, KMPD, SEKBER dan lain-lain.

“Untuk berbicara bagaimana pandangan, pemikiran, arah perjuangan di dalam partai. Agar kader partai terbuka pemikirannya secara luas,” ujar Nasar.

Selain itu ia juga berharap pihak kampus menerbitkan SK partai, dan dikawal oleh DEMA. Supaya partai-partai legal berkegiatan di kampus, dan mengawal kebijakan kampus.

Sama seperti PKR dan Parkiba, PPM dalam melakukan gerakan politik kampus dengan sumber dana iuran pembina partai, dari pengurus pusat dan wilayah.

Sementara itu hingga berita ini terbit ARENA telah mencoba beberapa kali menghubungi ketua Partai Rakyat Merdeka (PRM) namun tidak ada tangggapan.

Reporter: Berlian Setyadi, Gustiana Sandika (Magang)

Redaktur: Ajid FM

 

 

Komentar

komentar