Aku Ingin Pulang

Aku Ingin Pulang

  • 17
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    17
    Shares

Aku Ingin Pulang
M. Habiburrahman Nawawi

Seto belum selesai membaca semua materi yang diujikan. Benaknya melamun, dahi mengerut, matanya naik turun berusaha menjumpai ingatan di batok kepalanya yang berukuran tak lebih besar dari kelapa muda. Di sudut lain, jarum jam berdetak lebih pelan dari suara degup jantung para peserta ujian. Semua peserta tidak bisa tidur saat di bawah tekanan.
Seto tidak tahu mengapa itu bisa terjadi.

Sejurus kemudian ia menggigit bibir bagian bawahnya sambil membayangkan setiap materi yang pernah ia baca, muncul dari setiap benda yang dilihatnya. Ia pun mengalihkan pandangan ke atas bangku. Di kehitaman tinta setiap huruf-huruf soal ujian, matanya berkaca-kaca, lalu bergeming:

“Akulah yang menyalakan api setiap kalimat-kalimat yang ditulis orang, aku sendiri yang akan berjuang mengingat-ingat kalimat-kalimatnya pula, dan aku sendiri yang akan menempa hidupku sampai utuh, aku sendiri….”

“Set, kamu sehat?” Pertanyaan Pak Dosen memecah lamunan Seto.

“Sehat, Pak.”

“Kenapa menangis?”

“Ingat keluarga, Pak,” ujar Seto sekenanya.

“Selesain dulu, baru nanti telepon mereka sambil nangis. Hehehe…,” balas Pak Dosen berusaha membangun lelucon, meski terkesan receh.

“Dosen kok mudah dibohongin,” timpal Seto lirih.

“Apa maksudmu?” tanya Pak Dosen dengan nada meninggi.

“Tidak, Pak. Pertanyaan bapak sulit-sulit.”

“Yang mana? Nomor berapa?”

“Tidak, Pak, saya kurang belajar dan meremehkan pelajaran bapak saja.”

“Makanya belajar, bapak sudah ingetin berkali-kali dari awal.” Laki-laki yang berumur kira-kira kepala lima itu melihat ke setiap sudut kelas, seperti melafalkan sabda kebenaran.

“Dosen kok jatuh di lubang yang sama. Lebih parah dari seekor hewan. Dasar!” Pekik Seto dalam hati.

“Ya sudah, diselesaikan dulu. Terus telepon keluargamu.”

Ruang ujian berjalan normal kembali. Keriuhan ditutup dengan senyuman para mahasiswi yang mendengar dosennya pandai bercanda dan peduli terhadap persoalan hati peserta didiknya. Meskipun geli melihat peristiwa itu terjadi, Seto menatap lembar jawaban yang masih kosong. Kesendirian yang sempurna terpapar di atas kertas jawaban ujian.

Selepas ujian, Seto melepas ikat rambutnya di luar kelas, melepas sepatu, dan mengembalikannya di rak alas kaki masjid kampus. Sembari jalan, ia merogoh saku sebelah kanan celananya, melihat rupiah yang ia bawa sebelum tiba di kantin nanti. Dan sesampainya di muka kantin, ia menyalakan sebatang rokok, mengepulkan asap. Kepalanya merunduk sebab korek yang digantung di kantin serendah orang duduk. Ia kemudian mendongak, melebarkan pandangan mata serupa mercusuar, hingga melihat kawan-kawan yang ia kenal.

Baca juga  Gado-gado: Serumpun Percik Perlawanan

Bermodal dua batang rokok, bagi Seto, mampu memasuki kerumunan apa pun yang tengah berkumpul. Kecuali perkumpulan perempuan-perumpaan yang berkumpul saat melakukan ibadah Salat Jumat. Kebetulan pertikaian yang terjadi di lingkaran pertemanan itu perihal sikap baik yang harus dimiliki oleh mahasiswa.

Sembari duduk, ia berkata, “Ketertiban hanyalah urusan sebarapa luas ruang kelas kalian.”

Ia sisakan senyuman sebelum semua paham dengan apa yang dimaksud.

Semua tertawa sambil manggut-manggut. Seto pun bercerita saat kawan-kawannya sibuk membenarkan posisi duduk dan meyodorkan segelas kopi padanya. Namun, sebelum cerita tentang Hanif menemui pendengarnya, Safira lewat di pinggiran jalan fakultas.

Perempuan itu menenteng payung warna kuning di tangan kiri dan menggengam ponsel di tangan kanannya. Semua melihat sebentar dan mengeluarkan bebunyian dari mulut. Sampai payungnya terbuka di bawah pohon yang basah, mereka saling menumbukkan tatapan.

“Bagaimana, Mas?” teriak salah satu mereka.

“Jadi ceritanya, tadi kan aku ujian itu dijaga Pak Zuki, dia itu suka ambil perhatian cewek-cewek!” ujarnya membuka cerita.

“Eh, eh, bukan itu?” sahut yang lain.

“Lah, yang mana?”

“Masak adik kelas tidak tertarik sama kamu, Mas?”

“Safira? Ah… dia masih bocah. Belum merasa perlu denganku. Begitu pun sebaliknya. Tunggu satu sampai dua semester depan.”

“Ya kan lumayan kalo akhir tahun ini kenal dulu. Urusan nanti dapet lagi itu anugerah” pekik lainnya.

Semua beralih membicarakan tentang akses dan cara jitu mendapat pasangan daripada ujian-ujian yang sedang berlangsung. Sampai menjelang gelap, mereka masih asyik menertawakan perihal libido. Sampai kali ketiga penjual mengingatkan kantin akan segera tutup, mereka masih memukul-mukul ujung meja yang sejajar dengan perutnya saat menertawakan kegagalan Seto dalam masalah pasangan.

Seto berdiri meminta lembaran rupiah dari orang-orang yang melingkar. Cara andalan Seto mengalihakan pembicaraan. Lalu semua bubar ketika terpisah di persimpangan kampus menuju letak parkir.


Keesokan harinya, perasaan yang membekas di hati Seto segera menyusut. Seperti para kakek nenek yang merasa tampak mengecil saat para anak-cucunya mulai membesar. Dan sekarang, Seto sedang berhadapan dengan Safira di sebuah kedai kopi kota S. Melewatkan sekian gerimis hujan di bawah atap kedekatan yang jingga.

Seto merapal mantra keagungan cinta, bersahutan dengan bebunyian jalan yang becek. Aroma aspal dan tanah sekitar kedai kopi yang basah memanggil setiap keharmonisan hidup yang tersembunyi.

Baca juga  Menulis Seharga dengan Kebebasan

“Jangankan aroma mie goreng, Fir,” kata Seto “itu berada di ujung Afrika tercium olehmu, jika itu yang kau mau, aku akan mencarikannya untukmu.”

“Safira, bicaralah!” tambah Seto saat melihat Safira hanya mematung.

Seto pun mengerti dan tidak nyaman bila nanti yang didapat hanyalah keterpaksaan. Belum lagi ia sadar, bahwa memaksa hanya akan memberi petunjuk kesendirian paripurna diujungnya.

Kawan-kawan Seto belum membalas pesan yang ia hantar beberapa menit lalu. Langit semakin cerah di selatan, mata Seto masih mencoba tidak menatap foto yang lain di album foto yang ia simpan selain Safira.

“Katanya nggak peduli.” Segerombolan kawan Seto berbaris di belakang punggungnya.

“Iya,” sahut salah seorang di belakang Seto.

“Apa perlu aku kontak dia?”

“Sudah, ah. Kalian berlebihan. Tidak baik di mata agama.”

“Kamu penistaan, Mas,” sahut seseorang lain lagi.

“Apa-apa kok ya penistaan, Su… Su….”

“Mas Seto menyangkutpautkan nilai agama dengan hal-hal sepele.”

“Sudah ah, sana pesan!” potong Seto “mumpung kembalianku masih di kasir.”

Kawan-kawannya menyerbu kasir. Sedang salah satu orang ada yang berbisik “kamu serius suka Safira?”

Seto teriak, “Hey, jatahku buat kalian saja!”

Kawan-kawan Seto mulai becengkrama tentang kemungkinan paling pahit yang akan di hadapi calon yang diusung orang-orang. Kali ini pemberitahuan pesan singkat yang ditunggu Seto hanyalah nama Safira.

Kawan-kawan membiarkan Seto yang masih khusyuk menatap layar kaca. Inilah saat dimana Safira muncul di benaknya dan mengoyak-oyak hati Seto. Semua bahan pembicaraan mengudara, terngiang-ngiang di telinga Seto saat mulai sepi.

“Demokrasi harus dikawal!”

“Calon partai tidak memenuhi kriteria.”

“Tidak memilih itu juga pilihan, bukan pengecut!”

“Jika kamu masih nggak percaya perasaanmu, gak usah ngomongin hal itu”

“Kamu perlu apa emangnya kalo dia yang jadi?”

“Hei, ujian Pak Imam besok lisan lo!”

Saat itu Seto tahu bahwa semua orang berbicara mewakili perasaannya. Seto tak kuasa memanjakan egonya untuk tidak mendengarkan teman-temanya saat membahas realita yang dihadapi. Seto sangat tahu semua punya mulut dan boleh menuntut. Dan membungkam mereka akan hanya membuat luka-luka di kemudian hari. Ia meletakkan ponsel, melihat mereka yang duduk di sekitanya benar-benar pergi. Seto menghela napas, lalu beres-beres dan menyusul mereka pergi.

Komentar

komentar