Pers Mahasiswa Perlu Payung Hukum

Pers Mahasiswa Perlu Payung Hukum

  • 62
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    62
    Shares

Pers Mahasiswa Perlu Payung Hukum

Lpmarena.comAksi memperingati hari kematian wartawan Udin pada Rabu sore (16/01) juga sebagai bentuk penolakan kriminalisasi terhadap Balairung dan Pers Mahasiswa (Persma). Pasalnya Persma rentan menerima tekanan dari berbagai pihak karena tidak memiliki payung hukum sendiri.

Menurut UU No 40 tahun 1999, Persma memang tidak dilindungi. Akan tetapi Tommy selaku koordinator divisi advokasi AJI beranggapan bahwa jurnalis kampus atau Persma memerlukan perlindungan karena masih dalam proses belajar.

Tommy mengatakan bahwa sebenarnya AJI mampu mendorong agar persma dilindungi oleh UU, dalam hal ini berarti harus merevisi UU No 40 Th 1999. “Sayangnya politik DPR kita tidak pro dengan kemerdekaan pers dan demokrasi, sehingga takutnya UU Pers ini bukannya lebih baik, tetapi malah memburuk,” papar Tommy (16/01).

Kasus Agni yang akhirnya dilaporkan oleh Arif Nurcahyo kepada pihak kepolisian menjadi penyebab jurnalis Balairung ikut dipanggil oleh Reserse Kriminal Umum Polda DIY. Penulis berita, Citra Maudy dan penyuntingnya, Thovan Sugandi. Pemanggilan kedua reporter inilah yang kemudian dianggap janggal. Pasalnya, Citra maupun Thovan tidak berada di lokasi ketika peristiwa tersebut terjadi.

“Saya kira konteksnya tidak tepat, ya, memanggil teman-teman Balairung karena mereka bekerja dilindungi kode etik,” ujar Tommy kepada ARENA

Ia juga menganggap bahwa definisi saksi sangat sempit jika Balairung menjadi pihak yang dipanggil. Jika polisi memang benar-benar ingin mengusut tuntas kasus pemerkosaan, mereka harus menggali informasi terhadap saksi yang benar-benar tahu, melihat, dan mendengar kejadian tersebut. Bahkan seharusnya berita yang diterbitkan oleh pihak Balairung dijadikan sebagai bahan rujukan.

Selaras dengan Tommy, Umi Zuhriyah selaku massa aksi membenarkan bahwa pemanggilan ini tidak pas. “Dia (Citra) hanya dengar penuturan dari penyintas saja, jadi bagi saya kurang tepat. Apalagi mendengar cerita dari Citra bahwa pertanyan-pertanyaan yang diajukan malah berkaitan dengan penulisan beritanya,” jelas Umi Zuhriyah, salah satu peserta aksi saat ditemui ARENA (16/01).

Baca juga  Wakil Rektor III Janjikan Kalimasada Menjadi UKM Secepatnya

Dari pernyataan Umi diatas, kemungkinan kriminalisasi terhadap jurnalis bisa saja terjadi. Terlebih dalam pemanggilannya, penulis dicecar dengan pertanyaan-pertanyaan seperti pada statement yang telah beredar di media. Bagi Tommy hal itu tidak memperjelas kasus Agni, melainkan menjurus pada kriminalisasi atau kemudian menganggap Balairung menulis bohong.

Penginterogasian terhadap jurnalis ini bisa menjadi catatan buruk untuk kasus-kasus berikutnya. Pers mahasiswa yang menulis kasus serupa bisa saja dipanggil untuk digali informasinya dan tidak menutup kemungkinan mendapat tekanan dan perlakuan buruk.

Reporter: Lita, Magang

Redaktur: Fikriyatul Islami M

 

 

Komentar

komentar