Nasib Mahasiswa Bidikmisi di Pondok Rektor

Nasib Mahasiswa Bidikmisi di Pondok Rektor

  • 73
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    73
    Shares

Nasib Mahasiswa Bidikmisi di Pondok Rektor

Mahasiswa Bidikmisi angkatan 2018 diasramakan di pondok pesantren yang diasuh rektor. Mereka yang tidak setuju dengan kebijakan tersebut menjalaninya dengan tepaksa.

Lpmarena.com- Zaidul Rahman Al-Ghuzaifi (Al) mahasiswa Bidikmisi 2018 awalnya tidak keberatan untuk menjalani kebijakan mondok selama setahun. Namun, dia tidak sependapat jika kebijakan tersebut hanya ditempatkan pada satu pondok pesantren. Apalagi, pondok tersebut masih kurang siap.

“Saya keberatan dengan kebijakan mondok di satu tempat dan lagi pondoknya kurang mengayomi dengan baik,” ujar mahasiswa Prodi Ilmu Hadis itu saat ditemui ARENA di kompleks warung kopi Kebun Laras, selepas Isyak, Senin (26/11/18).

Moh Rojil Ghufron mahasiswa Bidikmisi asal Probolinggo yang kami temui pada hari yang sama, juga menyayangkan program ini. Kebijakan wajib mondok bagi mahasiswa Bidikmisi tidak disiapkan sejak awal. Mereka baru mengetahui setelah mereka dinyatakan lulus seleksi.

Kebijakan wajib mondok ini sudah diterapkan sejak tahun 2017. Di tahun kedua pelaksanaannya mengalami perubahan. Mahasiswa Bidikmisi yang awalnya bisa memilih sendiri pondok pesantren menjadi wajib tinggal di pondok pesantren milik rektor, Nawesea.

Kebijakan ini dilaksanakan dengan pro dan kontra dari penerima beasiswa. Saat ini, 149 dari 200 mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi angkatan 2018 tinggal di Nawesea.

Berdasarkan riset divisi Penelitian dan Pengembangan (Litbang) ARENA dengan responden berjumlah 46 mahasiswa Bidikmisi angkatan 2018 yang yang tinggal di Nawesea, sebanyak 70% nya menyatakan tidak setuju program ini sementara 30% lainnya menyatakan setuju.

Pondok pesentren Nawesea didirikan pada tahun 2005, dirintis dan diasuh oleh Rektor UIN Sunan Kalijaga Yudian Wahyudi. Letaknya di Jalan Raya Wonosari Km 7,9 Sekarsuli, Berbah, Sleman, sekitar 7 kilometer dari kampus.

Pondok ini berada di kompleks perkampungan, di ujung gang selebar satu meter sebelah SMP Sunan Averroes, salah satu sekolah di bawah naungan Yayasan Nawesea. Halamannya sekitar 100 x 50 meter terbentang di depan gedung utama tiga lantai yang masih dalam tahap pembangunan.

Bangunan Pesantren Sempit

Saat memasuki asrama putra untuk mahasiswa Bidikmisi—santri di pesantren ini bukan hanya mahasiswa, pemandangan pertama yang saya lihat adalah tempat tidur dengan kasur lipat dan bantal yang tidak beraturan. Dua kamar yang saya kunjungi berukuran  4 x 5 meter dan 4 x 7 meter diperuntukkan bagi 30 santri per kamarnya. Baju kotor yang ditumpuk di dalam kamar membuat kamar semakin pengap. Atap ruangan bocor menimbulkan genangan air di lantai kamar ketika turun hujan. “Seperti kamar pengungsian,” ucap Al.

Ketidaknyamanan juga dirasakan mahasiswi Bidikmisi di asrama putri. Mahasiswi berinisial HS menceritakan kamar yang disediakan bagi mereka hanya empat. Ia merasa kamar di lantai dua dan tiga sempit untuk tidur. Sedangkan, di lantai satu lebih longgar namun letaknya di tengah asrama putra.

Asrama putri di lantai satu tidak diberi pembatas dengan asrama putra. Akibatnya, suara percakapan santri putra dan putri seringkali mengganggu satu sama lain. “Kalau kita rame sedikit langsung saling tegur karena nggak enak sama santri putra, jadi, kan, risih juga,” tutur HS ketika ditemui ARENA di taman Fakultas Dakwah dan Komunikasi.

Dari 46 sample riset kami, 80% menyatakan daya tampung asrama santri kurang memadai dan 20% menyatakan cukup.

Bangunan sebelah kanan gedung utama Ponpes Nawesea (28/11), lantai satu sebagai ruang belajar dan lantai dua asrama santri.
Halaman Pondok Pesantren Nawesea membentang tepat di depan bangunan utama pesantren (28/11).

Mengutamakan Pendidikan Bahasa

Waktu menunjukkan pukul 20.51, kelas Bahasa Inggris yang biasanya sudah berlangsung belum dimulai. Para santri masih lalu lalang. Pondok Pesantren Nawesea memiliki program kelas Bahasa Arab dan Inggris. Menurut HS, pondok Nawesea memang mempunyai kelebihan dalam bidang kebahasaan khususnya Bahasa Arab dan Inggris. Seluruh santri dibimbing agar bisa berbahasa asing dan nantinya diarahkan untuk kuliah di luar negeri.

Baca juga  Menuntut Kesejahteraan PKL

HS menjelaskan, kegiatan bagi mahasiswa Bidikmisi sangat sedikit dan minim kegiatan kepesantrenan. Kelas bahasa dilakukan setelah sholat Subuh sampai pukul enam pagi lalu dilanjutkan setelah Isya’. Sementara, kelas Bahasa Inggris sampai pukul setengah sepuluh malam. Kegiatan lain hanya dijadwalkan pada malam tertentu; seperti sholawatan pada malam Jum’at dan tadarus Al Quran pada malam Minggu.

“Tidak ada suasana pondok melainkan seperti tempat kursus kebahasaan biasa,” kata HS menyayangkan.

Ketika ditanya tentang kegiatan di pondok Nawesea 95% dari 44 responden kami mengungkapkan kegiatan kelas bahasa memang diprioritaskan ketimbang kegiatan lainnya. Kegiatan mengkaji kitab hanya 1 atau 2% dan yang mengisi tidak ada kegiatan 2%. Adapun kegiatan diskusi keagamaan 0%.

Hal ini berbanding terbalik dengan keinginan mereka yang menyetujui program ini. Sebanyak 55% dari 22 mahasiswa tersebut beralasan ingin menunjang ilmu keagamaan, 36% mengenai ilmu kebahasaan, dan sisanya tidak memilih.

Minim Akses Listrik dan Makan

Keresahan HS tidak berhenti disitu, penggunaan listrik yang dibatasi menurutnya terlalu berlebihan. Sebab, listrik menjadi kebutuhan penting untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Mereka harus mengatur waktu agar listrik tidak padam tiba-tiba karena kelebihan pemakai.

“Makanya pengurus melarang penggunaan setrika dan memasak menggunakan magiccom,” tutur HS.

Beberapa santri tetap memilih memasak menggunakan magiccom karena jarak warung makan dengan asrama jauh sementara di pondok tidak ada kantin ataupun dapur umum. Sekitar 200 meter dari pondok terdapat angkringan yang biasa menjadi langganan santri Nawesea. Sayangnya, jumlah lauk di angkringan ini sangat terbatas. Terbukti dengan lauk yang sudah habis padahal waktu belum begitu larut dan masih banyak santri yang belum membeli makanan.

Di sepanjang jalan menuju pondok Nawesea pun masih jarang ditemui warung makan. Hasil riset Litbang ARENA tentang kalkulasi pengeluaran biaya untuk makan sehari-hari selama satu bulan, sebanyak 35% dari 46 responden mengeluarkan biaya untuk makan sebesar kurang dari 500 ribu dan 54% harus mengeluarkan biaya berkisar 500 ribu sampai 1 juta rupiah. Sisanya, 11% mahasiswa menghabiskan lebih dari 1 juta.

MCK Tidak Memadai

Pagi menunjukkan pukul enam lewat. Hampir seluruh santri tengah mengantri di depan kamar mandi. Terdengar seorang santri memanggil salah satu pengurus pesantren untuk memperbaiki kamar mandi yang airnya macet.

Kata HS, kamar mandi Pesantren Nawesea sebenarnya banyak. Akan tetapi, tidak semua layak pakai. Penyebabnya, fasilitas kamar mandi tidak lengkap, seperti tidak ada atap atau pintu kamar mandi tidak bisa dikunci.  “Terkadang santri putri mandi di kamar mandi putra karena keterbatasan air,” cerita HS mengingat itu sedih.

Keresahan itu juga dirasakan oleh teman-temannya. Sebanyak 83% dari 48 mahasiswa Bidikmisi mengeluhkan fasilitas mandi cuci kakus (MCK) yang tidak memadai. Sementara, 17% nya merasa sudah memadai.

Kolam di halaman pesantren belum difungsikan dengan benar.
Kamar santri putra non mahasiswa berada tepat di depan asrama santri putri bagi mahasiswa.

Akses Transportasi Sulit

Masih ada masalah lain yang mereka hadapi. Al mengeluhkan sulitnya akses transportasi untuk pulang pergi ke kampus bagi mahasiswa yang tidak memiliki kendaraan pribadi. Angkutan umum seperti Trans Jogja (TJ) masih tidak ditemui dengan jarak dekat dari pondok sehingga transportasi online menjadi pilihan.

Baca juga  Rencana Pembangunan Rektor, Memperkosa Lahan

Hal ini juga berdampak pada biaya yang mereka keluarkan setiap bulan. Dari data Litbang ARENA, 25% dari 46 mahasiswa Bidikmisi mengeluarkan kurang dari 500 ribu per bulan, 37% mengeluarkan biaya dari 500 ribu sampai 1 juta, dan 9% menghabiskan lebih dari 1 juta.

Mengenai hal ini, Al sudah mencoba menanyakan langsung kepada Rektor Yudian Wahyudi. Namun, Yudian mengatakan mahasiswa harus mencari sendiri transportasi untuk sampai ke kampus dan kembali lagi ke asrama.

Tidak hanya ke rektor, ia dan beberapa temannya juga sempat menyampaikan kegelisahan ini saat evaluasi bersama dengan semua mahasiswa Bidikmisi angkatan 2018. “Tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut dari pihak kampus. Seakan (mereka) menutup telinga atas keluhan mahasiswa Bidikmisi,” papar Al.

Berdasarkan hasil riset ARENA, sebanyak 55% dari 31 mahasiswa yang tidak setuju dengan kebijakan ini mempermasalahkan jarak asrama dari kampus terlalu jauh, 29% mengaku biayanya terlalu mahal, 13% lainnya mengaku kesulitan untuk beraktivitas di luar. Sedangkan 2% memilih selain ketiga komponen di atas.

Sementara, dari 46 mahasiswa yang mondok di Nawesea, tercatat 72% atau 33 mahasiswa merasa tidak nyaman tinggal di Nawesea. Sedangkan 28% lainnya merasa betah.

Di luar hal itu adalah dana yang diterima mahasiswa Bidikmisi. Mereka menerima bantuan uang tunai sebesar Rp 6,6 juta per semesternya. Besaran tersebut dipotong Rp 2,4 untuk membayar uang kuliah tunggal (UKT). Sisanya, Rp 4,2 dicairkan dua kali dalam satu semester. Biaya di pesantren Nawesea sebesar 4,8 juta selama satu tahun. Uang beasiswa tidak dipotong secara langsung untuk membayar pesantren.

Kampus Belum Memberi Solusi

Menanggapi keluhan mahasiswa Bidikmisi tentang fasilitas pondok, Waryono Abdul Ghofur Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama mengatakan fasilitas Nawesea sudah memadai. Sedangkan terkait kegiatan, biaya pengeluaran, dan keluhan lainnya, Waryono masih hemat komentar.

Ia juga menjelaskan latar belakang kebijakan wajib mondok bagi mahasiswa peraih Bidikmisi berdasarkan evaluasi dari tahun sebelumnya. Menurutnya, mahasiswa peraih Bidikmisi adalah anak negara yang perlu dibina dan dibimbing secara khusus.

“Jangan sampai anak-anak yang dibiayai oleh negara tidak berhasil terutama dalam hal moral,” paparnya kepada ARENA, Rabu (12/12/18).

Ia melanjutkan, perilaku mahasiswa Bidikmisi bisa diketahui ketika mereka dikumpulkan. Dimulai dari bagaimana gaya mereka berbicara, menyampaikan pendapat bahkan sikapnya terhadap dosen.

Dari situlah pihak rektorat berkesimpulan bahwa pesantren adalah salah saru cara alternatif untuk mendidik. Sebab, hingga saat ini pesantren dikenal sebagai lembaga yang mengajarkan bagaimana menghormati orang tua.

Mengenai pemusatan di Nawesea, Waryono mengatakan, awalnya kampus memang mewajibkan seluruh mahasiswa Bidikmisi 2018 untuk mondok di Pondok Pesantren Nawesea. Namun, berdasarkan masukan dan diskusi dengan Senat Mahasiswa (Sema) beberapa pondok juga ditempati mahasiswa Bidikmisi. “Karena itu hasil diskusi maka kami beri,” jelasnya.

Alasan memilih Pondok Pesantren Nawesea untuk ditempati mahasiswa Bidikmisi adalah karena pondok tersebut diasuh oleh rektor sendiri dan mempunyai keunggulan dalam bidang kebahasaan yang jaminan mutunya sudah jelas.

 

Reporter: Ach Nurul Luthfi

Redaktur: Syakirun Ni’am, Fikriyatul Islami M.

Komentar

komentar